Bab 6 - Masih Berjuang

1920 Words
Entah kenapa seharian ini rasanya Mawar malas untuk masuk kelas di jam kuliahnya. Mawar juga enggan untuk berkeliaran di area kampus, seperti yang dia lakukan setiap harinya. Sekarang ini yang ingin Mawar lakukan hanyalah berbaring sambil menikmati beberapa cemilan ringan yang ia beli di kantin. Tempat yang sesuai untuk melakukan hal itu adalah sebuah ruangan sepi yang tidak begitu besar. Ruangan yang akhir-akhir ini Mawar sering kunjungi. Mawar tengah menggoyang-goyangkan jari kakinya sambil bersenandung kecil. Mulutnya tidak henti menguyah snack yang ada di tangannya. Ini sudah bungkus kelima yang Mawar makan. Terdengar suara pintu terbuka. Mawar mendengar tapi tidak menghiraukannya. Daun yang baru masuk ke ruangan, seketika membulatkan matanya dengan kening yang berkerut. Kepalanya sudah akan meledak saat ia menyaksikan lantai yang berserakan bungkus makanan ringan. Mawar mendongak, merasa seseorang yang baru masuk ke ruangan tengah ada di dekatnya. "Eh, Bang Daun. Mau?" Mawar menyodorkan snack yang ada di tangannya. Lalu, menariknya lagi karena Daun melototinya. "Yaudah kalo nggak mau." "Beresin," ucap Daun bernada ketus, seperti biasanya. "Iya, entar." Mawar semakin sengaja mengunyah makanan itu dengan nyaring. "Beresin." Daun semakin menaikkan nada suaranya. Mawar bangkit dari posisi telentangnya. Ia mulai risih dengan perintah Daun yang tidak ada baik-baiknya. "Galak banget sih, Bang. Entar juga gue beresin." "Kami siapa main seenaknya aja masuk ke sini?" "Gue kan, udah resmi jadi anggota di klub pendaki ini," sahutnya terlalu bangga. "Siapa bilang?" Mawar mengerutkan alisnya. "Emangnya Bang Daun lupa kalo situ sama Kak Dero yang nempel itu pengunguman?" "Kamu udah didiskualifikasi." Mawar melototkan matanya. Bibirnya juga mengerucut ke depan. "Apa? Didiskualifikasi?" pekik Mawar. "Kemaren kamu enggak dateng di pertemuan pertama klub untuk peserta baru." Meskipun jumlah kata yang diucapkan Daun bertambah cukup banyak, tapi nadanya masih sama saja. Terdengar ketus dan dingin. "Hah? Maksudnya?" "Beresin dulu, baru saya jelasin." Daun melengos pergi menuju kursi tempat pendaftaran kemarin. Sontak Mawar membereskan segala bungkus makanan yang ia buang sembarangan dengan cepat. Setelah selesai, Mawar duduk di depan Daun. Cowok itu menyodorkan sebuah kertas mirip dengan pengunguman yang tertempel di mading kemarin. "Ini sama kayak yang kemaren?" Mawar melirik ke kertas itu. "Baca," suruh cowok itu. "Udah kan kemaren." "Baca lagi." Mawar mulai membacanya. Ia menggaruk kepalanya merasa kalau kertas ini sama persis seperti yang kemarin juga ia baca. Lalu apa yang salah? Mawar memandang Daun dengan ekspresi yang menyimpan sebuah pertanyaan. "Baca paling bawah." Daun memberikan interupsi. Mawar memilin bibirnya. Lalu matanya berpindah ke kertas itu sekali lagi. Seketika wajahnya berubah menjadi panik. "Apa-apaan ini? Perasaan kemaren nggak ada tulisan begini," sewot Mawar merasa tidak terima. Daun mengangkat ujung bibirnya menganggap gadis di depannya benar-benar gadis yang luar biasa anehnya. "Udah, kan?" Mawar masih tidak tahu harus berbicara apa lagi. Ia hanya membuka mulutnya tak percaya dengan hembusan napas yang terengah-engah. "Keluar," suruh Daun dengan pelan namun menyentak hati Mawar. "Tapi, Bang." Mawar mulai memelas. "Keluar, dan berenti panggil saya "bang"." Mawar memajukan bibirnya. Wajahnya membentuk raut semelas mungkin. Siapa tahu Daun akan berbelas kasih padanya. Langkah Mawar terasa berat ketika meninggalkan ruangan klub. Ia sengaja membalikkan tubuhnya berulang kali, berharap Daun mau memanggilnya lagi. Akan tetapi, harapannya hanya sia-sia. Masih di depan ruang klub, Mawar duduk di bangku panjang yang ada di sana. Ia menghentak-hentakkan kakinya merasa jengkel. Memukul pilar yang ada di sebelahnya dengan sisi kepalanya. "Mawar?" sapa Dero yang baru akan memasuki ruang klub. "Kak Dero ...," rengeknya. "Ada apa?" Dero menghampiri Mawar, duduk di sebelah gadis itu. "Emang beneran saya didiskualifikasi?" tanyanya dengan nada yang masih parau. "Kata siapa?" "Bang Daun." Mawar semakin merajuk. Dero merasa geli dengan ekspresi Mawar yang menurutnya lucu dan menggemaskan. "Enggak kok. Mungkin Daun cuma bercanda," sahut Dero masih di sisa-sisa kegeliannya. "Tapi kata Bang Daun, kemaren itu ada pertemuan." "Iya emang ada, tapi nggak masalah kok kalo emang kamu nggak dateng. Kemaren itu cuma membahas tentang perkemahan lusa besok." Mawar mengerutkan alisnya. "Perkemahan?" "Akan ada seleksi lagi dari sepuluh orang itu menjadi lima orang," jelas Dero. "Terus gimana? Saya nggak tahu apa-apa kan," tambahnya merengek melebihi yang tadi. "Di formulir kemaren, kamu cantumin alamat e-mail kan?" Mawar mengangguk seraya dengan bibirnya yang maju. "Nanti gue kirimin semua ketentuan buat acara lusa besok. Kalo masih ada yang nggak di mengerti, kamu hubungi nomor yang ada di lampiran e-mail itu nanti." Dero tersentak saat Mawar yang tiba-tiba mengaitkan tangan di lengannya. Terlebih, Mawar juga menjatuhkan sisi kepalanya di bahu cowok itu. "Makasih ya, Kak. Emang cuma Kak Dero yang baik hati sama saya. Nggak kayak Bang Daun yang horornya nggak ampun-ampun." ***** Mawar cukup senang karena masih mempunyai kesempatan untuk bisa melakukan kegiatan mendaki itu. Rasanya ia begitu semangat untuk menyambut hari itu. Setelah obrolannya dengan Dero tadi, Mawar membawa kakinya menuju ke Taman kampus. Mawar menghampiri sekumpulan pekarangan bunga kecil berwarna merah muda yang ada di dekat kolam ikan kecil di Taman. Mawar memetik beberapa bunga, membawanya ke salah satu bangku untuk menemaninya. Gadis itu tidak pernah peduli dengan tatapan para mahasiswa yang berlalu-lalang di dekatnya. Seakan tatapan itu menganggap kalau apa yang dilakukannya, aneh. Padahal Mawar hanya melakukan yang ingin ia lakukan. Sebuah kegiatan sederhana yang bisa membuatnya berbinar seorang diri. Mawar menata bunga-bunga yang ia petik tadi di sebelahnya, mengambilnya satu, kemudian di selempitkan ke sela telinganya. Mawar tersenyum. Lalu, Mawar mengambil satu bunga lagi dan menghirup aromanya. Mawar tersenyum lagi. Ada seseorang yang tiba-tiba menutup kedua matanya dari arah belakang. Mawar cukup terkejut karena sebelumnya tidak pernah ada yang melakukan hal semanis ini padanya. "Hai," sapa Randy memiringkan wajahnya. Cowok itu masih berada di belakangnya. Mawar menyapu bunga-bunga yang ada di sebelahnya tadi dengan tangannya. Sehingga bunga-bunga itu berterbangan ke rumput hijau di bawah kakinya. "Lagi apa?" Randy memutari bangku untuk mengambil posisi duduk di sebelah Mawar. "Nggak lagi ngapa-ngapain," sahutnya dengan nada yang datar. Berbeda dari biasanya. "Maaf, ya, soal semalem. Gue nggak ada maksud apa-apa. Gue cuma nggak mau bohong sama lo kalo sebenernya gue ...." "Enggak apa-apa, kok. Gue ngerti." Mawar sengaja memotong ucapan Randy. Rasanya ia tidak bisa mendengar lagi kalau Randy menegaskan bahwa Kakaknya-lah yang disukai cowok itu, bukan dirinya. "Untuk kesepakatan kita ...." "Stop." Mawar mengangkat telapak tangannya ke udara. Memberikan Randy instruksi untuk tidak melanjutkan ucapannya. "Pokoknya gue akan terus ikut di klub pendaki itu. Gue nggak mau lo ngebatalin apa-apa. Oke?" Mawar sedikit memiringkan wajahnya saat berbicara dengan Randy. "Tapi ...." "Nggak ada tapi-tapian lagi, titik," ucapnya tegas seraya dengan kepalanya yang mengangguk sekali. Randy mendesah frustrasi. Ia menyandarkan punggungnya di bangku seraya dengan tangannya yang menjulur sampai melewati bahu Mawar. "Kapan-kapan gue boleh main ke rumah lo, ya." Randy sedikit mendongakkan wajahnya menatap langit yang hari ini sungguh biru. "Kalo lo tujuannya mau ketemu Kak Melati, lo bilangnya harus sama dia. Gue nggak bisa ngijinin lo gitu aja kalo ternyata Kak Melati nggak mau ketemu sama lo." Randy kembali menegakkan posisi duduknya. "Enggak. Gue mau ketemunya sama lo." Mawar menoleh mencari wajah Randy. Menangkap ekspresi cowok itu yang tengah tersenyum manis padanya. Mawar harap, ini adalah senyuman yang tulus tanpa tujuan apapun. Beberapa saat Mawar dan Randy saling bertatapan, Mawar gelagapan menjadi salah tingkah dan merubah posisi duduknya mengarah ke depan. "Apa ... Nggak ada yang mau lo tanyain ke gue?" Randy membuka suara lagi. "Maksudnya?" "Setelah lo tau kalo gue kenal sama Melati, apa lo nggak punya pertanyaan apapun tentang itu? Misalnya ... Dari mana gue kenal Melati? Atau sejak kapan gue kenal sama Melati?" Mawar terdiam untuk beberapa detik. "Enggak ada." Mawar menggeleng pasti. Ponsel Randy berdering. Ia merogoh benda pipih itu dari saku celananya. "Iya ... Oh, oke deh ... Yaudah ... Bentar lagi, ya. Oke ...." Randy mematikan ponsel. "Gue cabut duluan, ya." Randy bangkit dari posisinya. Mawar hanya mengiyakan. Sebelum Randy melangkah, tangannya terulur mengacak pucuk rambut Mawar. Mawar menghela napasnya cukup merasa senang atas apa yang dilakukan Randy barusan. Mawar pun juga akan bergegas dari posisinya. Namun, sebelum Mawar melangkah, pandangannya berpindah ke bawah. Lebih tepatnya di tempat bunga-bunga tadi berjatuhan. Mawar mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang selalu memergokinya ketika ia membuang sampah sembarangan. Mawar memastikan kalau cowok dingin itu tidak berada di sini. Mawar melimbai pergi. Baru beberapa detik berlalu, Mawar kembali ke posisinya. Mengambil satu per satu bunga yang ia jatuhkan tadi dan membawanya. ****& "Oke guys, selamat pagi semuanya. Pertama-tama gue ingin memperkenalkan para panitia utama yang bakalan jadi pemandu kalian selama perkemahan dua hari ini dan sampai waktu pendakian nanti." Dero tengah berdiri menghadap ke arah sepuluh peserta yang duduk memperhatikannya. Dero tidak sendiri, ada tiga orang lainnya yang juga berdiri bersamanya. "Sebenernya banyak dari kita, ada sekitar duabelas orang. Tapi karena kesibukan mereka masing-masing, jadi di sini kita cuma berempat." Semua mata masih tertuju ke Dero. Termasuk Mawar yang paling serius memperhatikkan. Gadis itu berada di barisan pertama. "Semuanya udah pasti tau siapa gue, buat yang sekiranya lupa, gue Dero. Di sebelah gue, namanya Reno, di sebelahnya lagi ketua team kita Daun. Panggil aja Bang Daun." Dero nyengir ke arah Daun yang memberi pelototan padanya. Tanganya berpindah dari satu ke yang lainnya guna memperkenalkan para cowok-cowok itu. Dibalas dengan ucapan singkat berupa "hai" dari masing-masing yang diperkenalkan Dero. Namun, tidak untuk Daun yang hanya menyunggingkan senyumnya sangat terpaksa. "Dan ini, Anji," sebutnya lagi sambil menunjuk ke cowok di sebelah kanannya. "Jadi hari ini, anggap saja kita melakukan pendakian untuk berlatih di hari mendaki minggu depan. Kita sebagai panitia akan memperhatikkan keseriusan kalian dan uji kepengetahuan kalian setelah kemarin kita memberikan beberapa lembar petunjuk mengenai tata cara mendaki, termasuk persyaratannya." Dero menghelas napas. Cukup panjang yang Dero jelaskan mengenai kegiatan yang akan berlangsung dua hari satu malam ini, ditambah beberapa nasehat dari dua orang panitia lainnya. Hanya Daun yang tidak bersuara sedikit pun. Cowok itu terlalu malas untuk membuang suaranya dengan percuma setelah hampir semuanya sudah dijelaskan oleh Dero. ***** Tok tok tok tok Suara ketukan pintu yang terdengar tegas membuat Melati bangkit dari kursi belajarnya, lalu menuju pintu untuk membukanya. "Kamu tau di mana adik kamu sekarang?" tanya Fahri seperti tengah menahan emosinya. "Di kampus. Atau di kamarnya," jawab Melati sangat malas kalau setiap kali Om satu-satunya itu sedang membahas adik semata wayangnya. "Satu jam yang lalu, Mawar kirim pesan ke Om, dia bilang dia sedang ikut kegiatan berkemah dan baru akan pulang besok." Melati membulatkan matanya. Detik berikutnya ia merubah ekspresinya menjadi biasa saja. "Terus?" "Selama hidupnya, Mawar tidak pernah ikut kegiatan seperti itu. Kalau adik kamu berada di tengah-tengah hutan seperti itu, bisa-bisa dia langsung demam karena kedinginan. Kamu kan tau itu, Mel." Nadanya terdengar sangat cemas dan takut. Fahri sangat menyayangi kedua putri dari Kakaknya, terutama Mawar yang menurutnya sangat rapuh dibanding Melati. "Sekali-kali dia perlu ikut kegiatan kayak gitu, biar nggak manja," ucapnya ketus. Membuat Fahri melototkan matanya dengan rahang yang menegang. "Mel, Mawar itu adik kamu. Adik kandung kamu! Sampai kapan kamu mau memperlakukan Mawar seperti orang yang kamu asingkan? Kamu sudah besar, seharusnya kamu bisa bersikap lebih dewasa!" Akhirnya emosi Fahri membuncah. Meskipun amarahnya tidak seperti orang kebanyakan di luar sana, bagi Melati, saat ini Om-nya itu terbilang cukup membuatnya gemetar. "Salah siapa aku bersikap kayak gini kalo bukan karena dia yang udah merebut semua kebahagiaan aku!" Melati tak kalah meninggikan nada suaranya. "Mawar nggak salah, Mel. Nggak ada yang salah atas takdir yang kamu jalani, semua udah kehendak Tuhan. Mau sampai kapan kamu bersikap kayak gini sama Mawar?" Fahri sudah mulai menurunkan intonasi suaranya. Memijat keningnya lantaran tidak ingin emosinya semakin naik. Karena bagaimanapun juga, dia menyayangi Melati. "Sampai dia mengembalikan ayah dan ibu Melati." Melati menutup pintu kamarnya dengan kasar. Bahkan, untuk menyebut nama Mawar saja, sudah akan membuat Melati ingin meledak. To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD