Keseruan dari obrolan lima orang yang tengah bercengkarama, mendominasi suara mesin jeep yang menjadi alat transportasi mereka saat ini. Namun, ada sesuatu yang tidak biasa di antara keseruan itu.
Mawar. Sudah dua hari ini wajahnya pucat, bukan berarti pucat seperti sakit, melainkan terang wajahnya meredup karena kenyataan menyakitkan yang ia dengar malam itu. Bagi Mawar, sulit bersikap menjadi seperti biasanya untuk saat ini. Selama dua hari ia hanya menyendiri di ruang klub tanpa ada yang mengetahuinya, sekalipun empat cowok senior di klub itu.
"Oke turun semuanya. Kita udah sampai di Pos Ranu Pani. Tolong kalian ke loket untuk pemeriksaan barang bawaan." Dero memberikan interuksi kepada lima orang di atas mobil Jeep.
Dengan malas, Mawar turun dari mobil sambil membawa ransel berwarna pink cerah dan beberapa tas jinjing di tangan kanan dan kirinya.
"Kayaknya barang bawaan lo terlalu banyak deh. Harus ada yang ditinggal nanti." Salah seorang peserta cowok yang ada di belakang Mawar memberikan sebuah peringatan yang langsung membuat gadis itu mengernyit.
"Emangnya kenapa?" tanya Mawar dengan polos.
Cowok itu hanya menggelengkan kepalanya malas. Berlalu mendahului Mawar begitu saja.
Peserta maupun pemandu sudah mulai sibuk dengan tugas masing-masing yang memang sudah ditentukan sebelumnya. Dero dan Reno tengah mengurus pendaftaran langsung ke penanggung jawab yang ada di Pos. Anji dan Daun menyiapkan tempat bermalam untuk para peserta pendaki.
"Nggak bisa gitu dong, Mas. Udah susah-susah Saya bawa ini semua, masa harus ditahan di sini? Ini kan keperluan pribadi Saya!" Mawar mengomel ke penjaga loket pada saat penjaga itu meminta Mawar meletakkan beberapa benda yang ia bawa.
Mendengar suara Mawar yang cukup keras, membuat Dero menghampiri gadis itu.
"Mawar, gini, ya. Elo nggak bakalan bisa ke Puncak kalo bawaan lo sebanyak itu," ucap Dero mencoba menghela kegaduhan yang membuat beberapa orang di dekat sana menoleh.
"Jadi lebih baik, lo ikutin aja apa kata Mas ini," lanjut Dero menunjuk ke laki-laki yang ada di depan Mawar.
Akhirnya Mawar mau mengikuti perkataan Dero. Meskipun ekspresi wajahnya masih terlihat sebal.
Sebelum pendakian dilakukan esok hari, team memutuskan untuk bermalam di Pos Ranu Pani ini. Sore menjelang malam, panitia mengajak peserta berkeliling dan menjelaskan secara singkat mengenai desa Ranu Pani yang memiliki dua buah danau yakni Ranu Pani dan Ranu Regulo.
Selama perjalanan, wajah Mawar selalu sendu dan tidak bersemangat. Pemandangan yang berhasil menyita perhatian Daun, secara diam-diam.
*****
Pagi datang, tim memulai perjalanan pendakian. Mereka menggunakan jalur yang biasa dilewati oleh para pendaki lokal, jalur ini sangat curam. Jalur awal landai, menyusuri lereng bukit yang didominasi dengan tumbuhan alang-alang. Tidak ada penunjuk arah, tetapi terdapat tanda ukuran jarak pada setiap 100 meter. Banyak terdapat pohon tumbang dan ranting-ranting di atas kepala.
Mawar benar-benar kelelahan, ia hampir tidak sanggup melanjutkan perjalanannya. Air mineralnya pun hampir habis. Namun, tiba-tiba ia menghentikan langkah kakinya ketika sampai di sebuah lereng bukit. Seketika rasa lelahnya hilang dan beban yang sedang ia pikul di benaknya berganti menjadi sebuah rasa menakjubkan yang baru ia rasakan selama hidupnya. Kakinya kembali menyusuri lereng bukit yang dipenuhi bunga edelweis.
Saat Mawar hendak memetik salah satu bunga itu, ada tangan seorang cowok yang menghentak lengannya cukup kasar. Mawar memekik dan mengaduh kesakitan.
"Apaan sih, Bang!" teriaknya dan mendapati wajah dingin milik ketua panita di tim itu.
"Udah berapa kali saya bilang ke kamu, jangan lagi coba untuk ngerusak alam," kata cowok itu tak kalah garang dari teriakan Mawar tadi. Ia berlalu begitu saja setelah memberikan pelototan yang sangat tajam ke Mawar.
"Apaan sih tuh cowok. Gue kan cuma mau ambil satu bunga doang." Mawar mendesis seiringan dengan gerutuan yang tiada henti sepanjang ia melanjutkan perjalanannya.
Pikiran Mawar saat ini benar-benar campur aduk. Selagi Mawar melakukan pendakian ini, ia ingin sekali melupakan sejenak masalahnya, tapi lagi dan lagi kalimat Melati malam itu selalu menyentak perasaannya.
Sampailah di Watu Rejeng. Terdapat batu terjal yang sangat indah. Pemandangan ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Kadangkala juga dapat menyaksikan kepulan asap dari Puncak Semeru.
Sejenak mereka istirahat mengumpulkan tenaga. Mawar terus mengaduh tanpa henti. Yang tidak diperdulikan oleh peserta lainnya. Termasuk beberapa panitia, terutama Daun yang sempat mengomelinya di lereng bukit tadi. Meski begitu, ada curian pandang dari Daun untuk Mawar yang tidak disadari oleh gadis itu.
Perjalanan kembali berlanjut. Kali ini mereka menuju Ranu Kumbolo dengan jarak sekitar 4,5km lagi. Semakin lama, Mawar menikmati pendakian ini. Pandangannya terus beredar ke setiap hamparan hijau di sekelilingnya. Ada rasa penyesalan di dalam hatinya, kenapa baru sekarang ia mendapatkan kesempatan berada di tengah-tengah alam seperti ini. Pengalaman baru yang membuat mata hatinya terbuka tentang kekuasaan Sang Pencipta.
Tepat di malam hari, team sampai di Ranu Kumbolo. Mawar tak henti untuk berdecak kagum. Sungguh indah danau di depannya. Dan tentu saja hawa semakin dingin.
"Kalian jangan menyinyiakan waktu untuk tidur terlalu malam, besok perjalanan masih cukup jauh," seru Reno menginterupsi.
Beberapa dari lima peserta, ada yang langsung masuk ke tenda dan ada juga yang menjauh untuk mencari tempat melakukan kegiatan "rutin" yang biasa dilakukan siapapun.
"Belum tidur? Emang nggak cape?" tanya Dero yang melihat Mawar duduk seorang diri di depan api unggun.
"Enggak bisa tidur, Kak," sahutnya dengan nada yang terdengar lesu.
"Kenapa?"
Mawar menggeleng. "Enggak apa-apa."
"Yaudah gue tidur duluan, ya. Lo juga buruan tidur, besok masih lebih cape lagi." Dero bangkit, menepuk bahu Mawar lalu melenggang pergi.
"Kak Melati lagi apa? Mawar kedinginan, Kak," gumam Mawar sambil menyanggahkan dagu di atas kedua lututnya yang tertekuk, menyabuti rumput kecil yang ada di dekat kakinya, lalu dilempar rumput itu ke dalam api.
Ingatannya seolah mengejek Mawar dengan terus memutar kembali setiap kata yang diucapkan Melati kemarin malam, membuat dadanya serasa diremas begitu kuat.
Tak sadar pipi mungil itu terasa basah, untung saja semua orang sudah masuk ke tenda. Hanya satu orang selain Mawar. Daun tengah berdiri di samping Mawar.
"Ngapain?" tanya cowok itu dengan ketus.
Mawar mendongak ke atas seraya dengan tangannya yang menyibak sebulir bening di pelupuk matanya.
"Bang Daun," sebutnya dengan suara serak.
"Masuk tenda. Enggak boleh ada yang tidur terlalu larut," suruhnya, kemudian berbalik meninggalkan Mawar.
Gadis itu menuruti saja perintah Daun. Ia menarik tubuhnya dan menuju ke tenda.
Sementara Daun masih berada di depan tendanya, sebelum benar-benar masuk ke sana , tubuhnya setengah berbalik. Daun memastikan bahwa Mawar sudah tidak ada lagi di luar tenda.
Suara senggukan Mawar tadi membuat Daun terenyah hatinya, hal itu yang membuat Daun memutuskan untuk menghampiri Mawar. Hanya saja cowok itu terlalu kaku sampai tidak tahu harus melakukan apa untuk menunjukkan simpati-nya. Alhasil sebuah intruksi ketus yang bisa Daun siasati demi membuat gadis itu tidak terus menangis.
To Be Continued