Bab 13 - Sebuah Alasan

1119 Words
Ketika sedang dalam perjalanan, ada satu toko kue yang menarik perhatian Mawar. Letaknya tidak jauh dari sekitar kampusnya. Toko kue bernuansa hijau yang memiliki konsep tanaman. Kaca transparan di toko itu membuat Mawar bisa melihat suasana ramai di dalam toko itu. "Mang, berenti di toko kue depan situ, ya." Telunjuk Mawar terarah ke sebuah toko kue yang sederhana, tetapi terlihat cukup elegan. Posisinya berada di deretan toko lain yang serupa, di antaranya ada toko bunga tepat di sebelah toko kue itu. "Iya, Non," sahut Mang Didi yang mempunyai wajah Sunda cukup kental. "Mang Didi pulang duluan aja, Mawar mau lama kayaknya di sini. Nanti Mawar pulang naik taksi aja." Mang Didi mengiyakan lagi perintah dari majikannya itu. Mawar pun keluar dari mobil, menuju ke dalam toko kue. Sebelum melangkah lebih dalam ke tempat di mana kue berjejer, pandangannya beredar mengitari seisi ruangan yang membuatnya berdecak kagum. "Keren banget tempatnya, kok gue baru tau, ya, ada toko kue bagus kayak gini?" gumamnya seorang diri. Dekorasi ruangan yang menyusung tema seperti hutan atau kebun, membuat siapapun yang datang akan merasa sejuk untuk berlama-lama di tempat ini. Mawar mulai menelisik setiap potongan kue yang ada di dalam kaca etalase bening di depannya. Hampir semua jenis kue membuat gadis berkuncir dua itu tergiur hingga meneguk salivannya berkali-kali. "Ada yang bisa saya bantu?" Terdengar suara lembut dan ringan dari seorang wanita yang berdiri di balik kaca etalase. Mawar yang setengah membungkuk, mencari asal suara itu. "Saya mau yang itu." Tunjuk Mawar pada potongan kue coklat dengan buah stroberi di atasnya. Wanita itu tersenyum menanggapi pesanan Mawar. "Selera kamu bagus sekali, kue coklat itu benar-benar akan terasa lezat ketika baru mulai menyentuh lidah kamu, mau berapa potong?" tanya wanita itu dengan senyumnya yang hangat. "Dua. Satu dibungkus, satu lagi untuk di makan sini. Sama pesen vanilla latte ice nya, ya." Wanita penjual itu mengangguk dan mulai menyiapkan pesanan Mawar. Langkah kaki Mawar bergeser ke tempat pembayaran, setelahnya ia mencari posisi duduk yang sekiranya nyaman untuk disinggahi. Pilihan jatuh pada kursi yang menempel persis di dinding kaca, sehingga memperlihatkan Mawar pemandangan jalan raya di sana. Tidak sampai dua menit, pesanan Mawar datang bersama seorang pelayan muda yang berbeda dari wanita penjual tadi. Mawar melebarkan matanya ketika potongan kue itu sudah ada di meja, seolah warna coklat melekat di sana sengaja menggoda Mawar untuk segera disantap. Mawar menikmat potongan demi potongan kue dengan wajah cerianya. Meskipun baru mencicipinya, Mawar langsung jatuh cinta dengan cita rasa kue di setiap gigitannya. Beberapa jam kemudian. "Permisi." Wanita penjual tadi terpaksa membangunkan Mawar yang tertidur di meja. "Dek." Mawar mengangkat kepalanya dari meja, mengucek matanya untuk menghilangkan gradasi blur di sana. Pandangannya beredar ke sekitarnya, lalu tersentak. "Eh, maaf, Tante. Saya ketiduran," ucap Mawar dengan suara yang masih serak. "Tidak apa-apa. Hanya saja saya takut kalau orang rumah akan mencari kamu, ini sudah jam delapan malam." Mawar melirik jam mungil di pergelangan tangannya. Ia membelalak, sudah empat jam ia tertidur di toko kue ini. "Daritadi saya mau membangunkan kamu, tapi tidur kamu terlalu pulas." Mawar meringis merasa tidak enak. "Sekali lagi maaf, ya, Tante. Sebenernya saya emang sengaja mau lama-lama di sini, tapi nggak sampe ketiduran juga sih. Abis kalo saya pulang ke rumah terlalu cepet, di rumah sepi. Makanya saya lebih baik di luar rumah, cari tempat yang rame kayak di sini," cerocos Mawar, seperti biasa. Entah kenapa, Wanita itu menaruh rasa iba ketika mendengar ucapan Mawar. Terlebih ada tatapan sendu yang terpancar dari mata jernih milik Mawar. "Boleh saya duduk di sini?" Wanita itu melirik ke kursi yang ada di depan Mawar. "Oh, boleh, Tante. Lagian toko kue ini punya tante kan?" Mawar bangkit dari duduknya, menarik kursi untuk mempersilakan wanita itu duduk. "Iya, ini punya saya. Cuma usaha kecil-kecilan aja, kok." Terjadi keheningan selama beberapa saat. Mawar sedikit canggung. Berbeda dengan wanita yang duduk di depannya itu. Sebab sejak tadi dia memperhatikan wajah Mawar sambil menyimpulkan senyum. "Kue tadi enak banget, pasti Kakak suka sama kue coklat di toko ini," cetus Mawar demi mengalihkan kecanggungannya. "Kamu punya Kakak?" Mawar mengangguk. "Punya." Wanita itu tidak pernah berhenti tersenyum memperhatikan wajah Mawar yang menurutnya segar untuk dipandang, seolah beban yang dirasakan siapapun bisa hilang dalam sekejap ketika Mawar tersenyum. "Nama kamu siapa?" "Mawar. Mawar Fradella, kalo tante sendiri?" "Nama saya Ajeng," sebut wanita itu Mawar manggut-manggut seraya senyumnya yang semakin mengembang. Begitupun Ajeng. Sepertinya dia mulai menyukai gadis di depannya ini. ***** Dengan langkah riang sambil membawa kantung plastik berlogo gambar 'daun', Mawar menaiki anak tangga di rumahnya. Ia berniat untuk memberikan kue yang tadi di belinya untuk Melati, Kakaknya. Namun, langkahnya terhenti saat Mawar mendengar suara dua orang yang sedang berdebat. Langkah riangnya berhenti di anak tangga paling atas. "Sudah waktunya kamu bersikap seperti seorang Kakak untuk Mawar," kata Fahri tengah melakukan obrolan pada Melati di ruang tengah lantai dua. "Bukannya Melati udah sering bilang kalo ...." "Kalo kamu akan maafin Mawar setelah Mawar mengembalikan orang tua kamu?" Fahri sengaja memotong ucapan Melati. Dia sudah hafal betul apa yang menjadi senjata Melati setiap kali Fahri membicarakan tentang adiknya. Melati diam, bahkan sedaritadi matanya tidak mengarah ke Fahri sama sekali. Pandangannya lurus dan tajam. "Mel, kamu harus ingat. Mawar adik kandung kamu, hanya kamu yang dia punya punya di rumah ini. Om hanya sebagai wali kalian sampai kalian benar-benar dewasa untuk mengambil alih waris dari ayah kamu." "Kalo membahas soal ahli waris, Melati nggak masalah. Tapi untuk membahas dia, Melati nggak mau," balas Melati melipat kedua tangan di atas dadanya. "Cukup, Mel! Mawar tidak pernah bersalah atas kematian ayah dan ibu kamu, mereka juga orang tua Mawar, dan Mawar juga merasakan sedih saat mereka meninggal." Melati menoleh cepat ke Fahri dengan tatapan menghunus. "Enggak, Om. Dia nggak bisa merasakan hal yang sama kayak apa yang Melati rasakan." "Melati ...." Nadanya merendah. Fahri mulai memperhatikan Melati yang berkaca-kaca. Gadis itu bangkit dari posisinya. "Sampai kapanpun, Melati nggak akan pernah anggap dia sebagai adik Melati. Karena melahirkan dia, Ibu meninggal. Dan karena dia juga, Ayah meninggal." "Ayah kamu meninggal karena kecelakaan proyek, Mel," ujar Fahri juga ikut berdiri, berhadapan dengan keponakannya itu. "Enggak, Om. Ayah meninggal karena dia, seharusnya siang itu dia nggak nelpon Ayah hanya karena minta dibeliin mainan. Ayah nggak fokus, makanya Ayah kecelakaan. Semuanya karena dia, Om. Karena Mawar!" Melati benar-benar menumpahkan amarahnya saat ini. Airmatanya pun jatuh dari ekor matanya yang agak runcing, seperti milik Ayahnya. Melati berbalik, dan menemukan Mawar yang sudah berdiri di sana. Kantung plastik yang ada di tangannya terlolos ke lantai. "Mawar," sebut Fahri panik karena tidak tahu pasti apakah Mawar mendengar ucapan Melati barusan atau tidak, begitupun Melati yang tak bergeming. Deraian halus jatuh cukup deras dari pelupuk mata Mawar. "Jadi ... Itu alasan kenapa Kakak membenci Mawar selama ini?" To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD