Sementara itu, Bibi Lik menyiapkan air untuk mengompres. Lima belas menit berlalu, aku ingin memejamkan mata karena tak kuat menahan panas. Sementara Bibi Lik mengompres, Mak Ana menyuapi aku. Tak terasa, butiran bening pun mulai menetes. Aku mendengar Bibi Lik berbisik. "Mak, perasaan makin panas." "Diukur aja suhunya." Tangan Bibi Lik membuka lenganku untuk meletakan termometer. Beberapa saat kemudia, benda kecil pengukur suhu tersebut berbunyi. "Ya Allah, empat puluh," ujar bibi Lik pada Mak Ana.. Setelah mengetahui suhu badanku 40°m derajat, Mak Ana dan Bibi Lik terdengar sangat panik. "Harus gimana, ini? Telefon mamanya aja?" tanya Mak Ana. "Jangan! Nanti pada khawatir," ungkap Bibi Lik. Semakin lama, suara mereka mengecil. Aku tak berdaya lagi. Entah berapa lama

