Hari demi hari kulalui dengan penuh perjuanagan. Setiap minggu kesehatanku harus selalu dikontrol. Aku kembali memilih untuk melanjutkan kuliah. Namun, Mama, Papa dan Teh Widi meminta aku untuk cuti. Aku benar-benar tak berdaya. Harapanku seolah hancur. Impianku menjadi petugas kesehatan harus kandas begitu saja! Aku bingung. Sejak putus kuliah, aku yang dulunya ceria, kini senyum pun tak bisa! Semua terasa gelap dan aku benar-benar kehilangan semangat untuk hidup! Sebelum resmi cuti, pihak kampus menghubungi bahwa beasiswa semester lima telah turun. Akhirnya aku pergi ke kampus dan meminta keluarga meninggalkan aku sendirian untuk berlama-lama menikmati suasana kampus. Hingga sore tiba, aku masih tetap duduk di halte kampus. Sebuah tempat duduk lengkap dengan meja yang diranc

