Save Me 84

1755 Words

Ketika membuka mata, terlihat pemandangan sekitar yang tak begitu asing. Ternyata aku sedang berada di rumah salah satu warga yang tidak jauh dari tempat pemakaman. "Teh Septi udah sadar," ujar salah satu warga. Belum sempurna kesadaranku, terdengar suara teriakan Om Rahmat. "Septi pingsan? Mana sini bawa pulang aja." Om Rahmat pun menggendong aku dengan langkah yang sangat cepat. Sampai di rumah, ternyata sudah banyak warga yang sedang bersilaturahmi. Bukan hanya maaf-maafan, mereka juga duduk sejenak untuk melihat keadaanku. Beberapa di antara mereka juga meneteskan air mata. Hal tersebut membuatku tak kuasa menahan butiran bening yanh memaksa mengalir. "Apanya yang sakit? Jangan nangis, ya," ujar salah satu tetanggaku. Sampai saat ini, Mama belum mau memberitahu w

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD