Di dekat Mama tangisanku semakin pecah seperti anak kecil. "Mah... kepala Septi sakit banget. Ya Allah, Mah... nggak kuat rasanya," ungkapku seraya menggosok-gosok rambut. Mama memelukku erat. Beliau berusaha menidurkan aku di samping dadanya. Seperti anak bayi yang hendak menyusu. "Mama nggak ngerti harus gimana, De. Kalau boleh diminta, Mama mau sakit itu pindahin aja ke tubuh Mama. Septi yang sabar, ya, yang kuat." Mama terus mengusap kepalaku. Sedangkan Papa hanya bisa duduk dan melihat aku yang kesakitan. Rasa sakit yang dahsyat dan pernah kurasakan saat di rumah sakit itu datang lagi. "Mah, kalau nanti aku mati gimana?" Aku terus menangis dan berusaha menikmati rasa sakit ini. "Nggak boleh ngomong gitu... pamali." Butiran bening yang sejak tadi menggenang di sudu

