Save Me 67

3085 Words

Usai sarapan, aku dan Okta duduk di ruang sterilisasi sambil menunggu alat-alat yang sedang masuk mesin steril. "Septi ... sini, deh." Okta yang sedang duduk di dekat rak alat-alat partus pun melambaikan tangan padaku. Aku pun mendekat. "Kenapa?" Okta tersenyum penuh arti. "Aku tahu, semalam itu pacar kamu, kan?" "Bukan, Okta ... Demi Allah bukan pacar aku. Dia itu sahabat aku, kami berdua sahabatan sejak SMP." "Tapi aku yakin dia itu suka sama kamu!" Aku terkekeh. "Mana ada! Dia itu punya pacar, Okta. Dia selalu curhat sama aku." "Aku inget waktu dinas di Sumedang, kita kan satu kos ... kalau nggak salah, kamu pernah teleponan malam-malam, ya? Itu sama siapa?" "Iyaa ... sama dia." Aku terpaku. Rere memang sering menelepon jika sedang lembur kerja. Ia juga sering memberikan ak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD