Cara Menenangkan Adik Manis

1180 Words
“Tidak, kita tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Daripada kita melawan naga elemental lebih baik kita kendalikan. Cukup satu anakku yang menjadi korban dari naga elemental, jangan sampai ada korban yang lain,” alasan Disti Raven. Air mata menetes mengenang kematian si anak yang telah terjadi belasan tahu yang lalu. “Justru sekarang saat yang tepat. Kita musnahkan naga elemental sebelum kita sendiri yang dimusnahkan,” kata seorang mentor. “Yang dikatakan mentor macan kumbang memang benar. Kita tak akan mampu untuk mengalahkannya. Aku sebagai saksi mata keganasan dua drako. Lebih baik kita ajak kerja sama walaupun biaya membengkak,” kata mentor garuda. “Tapi resikonya besar. Jika dia tak terkendali bisa membahayakan kita semua,” kata mentor tersebut. “Arsada memang naga, tapi dia masih memiliki sisi manusia. Dia juga merasa bersalah. Aku masih ingin mencoba menghilangkan trauma yang ada di dalam dirinya,” kata Disti. Disti Raven mencoba untuk berjalan kembali. Namun dia terjatuh karena luka yang dialami. Untung saja Anwu dan beberapa mentor lain membantunya berdiri. “Bu, sebaiknya beristirahatlah dahulu. Luka ini akan semakin parah,” kata seorang mentor di dekatnya. “Tidak, aku sudah memikirkan ide ini. Aku mau mencari Angelia si fairy, saudaranya Arsada. Mungkin dia tahu cara menenangkan Arsada,” kata Disti. “Bu Raven, biar aku saja yang mencari Angelia. Sebutkan cirinya,” kata Anwu. “Terima kasih mentor garuda. Fairy merupakan kelas mistik, jadi cari tim dengan awalan huruf F yang dipimpin Angelia,’ kata Disti. “Baiklah, akan aku laksanakan ini.” Anwu dan beberapa mentor segera pergi ke tempat pengarsipan data. Segala data yang masuk dicari dengan teliti. Hanya ada satu ketua tim yang bernama Angelia dengan wujud shiter fairy. Segera gadis tersebut diberi tanda khusus. Sore hari telah menjelang. Waktu yang tepat untuk bersantai selepas kepenatan dari jam pelajaran yang sangat menyiksa otak sekaligus otot. Seperti biasanya, Angelia berada di sebuah cafetaria untuk mendapatkan jatah makan setiap hari. Dia mulai duduk disebuah bangku. Dengan sangat santai dia melahap makanan yang telah dipesan terlebih dahulu. Sebuah tangan berada di bahu kiri. “Ros, kau tak usah…,” katanya sambil memalingkan wajah. Dia terhenti berbicara karena yang ada di sana salah satu mentor terkuat. Dialah Wiragni, si shifter naga. Memang dalam tingkatan masih di bawah Arsada, tapi dia lebih berpengalaman. “Maaf Bu, kukira tadi Rosmina,” katanya dengan menundukkan wajah. Dia sedikit malu akan ucapannya sendiri. “Tak apa-apa, aku suka memberi kejutan bagi anakku. Kau saudaranya Arsada si naga elemental kan,” kata Wiragni. Dia berjalan mengelilingi tubuh Angelia hingga bisa melihat wajah gadis muda itu. “Tepatnya saudari yang paling mengerti dan paling cantik. Eh, aku sudah kelaparan. Aku minta izin untuk makan,” kata Angelia. “Silahkan. Aku ada kabar buruk. Saudaramu mengamuk dan melukai mentor macan kumbang. Maukah kau menemuinya.” “Tentu saja, tapi aku minta izin jika telat,” pinta Angelia. Matahari hendak tenggelam dan memulai hari gelap. Saat itu Angelia bersama dengan anggota tim yang di bawah kepemimpinan gadis itu datang untuk mengunjungi sebuah tempat yang terlarang bagi para siswa kecuali ada sebuah kepentingan. Kelima gadis tersebut didampingi oleh mentor naga api. Tak ketinggalan makana dibawakan oleh para pengunjung. Sebuah tempat yang bersampingan dengan ruang Arsada dikurung dimasuki. Pemandangan tak sedap terlihat di sana. Beberapa bekas api masih terlihat, terutama bagian dekat dengan ventilasi udara. Tombl mengeras suara juga telah meleleh. “Saudaraku, kau benar-benar mengamuk. Apa yang menyebabkan kau melakukan hal seperti ini,” kata Angelia. Dia melihat sang saudara sedang tidur ditemani air yang masih mengalir. Rasa kekhawatiran tumbuh di hati shape shifter fairy itu. Dia mengubah wujud menjadi sesosok makluk kecil bertangan empat dan bersayang enam dengan ukuran jauh lebih kecil, hanya sehinggi setengah meter saja. Melalui lubang ventilasi, Angelia memasuki ruangan di mana Arsada terkurung. Dilihat saudara satu panti yang masih tergeletak. “Arsada, kau tidur?” tanyanya samping menggoyang-goyangkan badan si shifter naga elemental itu. “Aku tak tidur, aku hanya lelehan saja. Aku sudah membakar tempat ini tapi aku belum bisa mengeluarkan es,” kata Arsada. “Sebaiknya kamu makan terlebih dahulu.” Arsada menuruti permintaan sang saudari. Dia berjalan menuju ke sebuah jendela kaca. Makanan bisa diraih, dia pun memasukkan makanan tersebut ke dalam tubuh. “Ars, katanya kamu menyerang mentor?” tanya Nina. “Bukan, aku hanya tak tahan kalau dibentak,” jawab Arsada sambil makan. “Ars, kamu ingat waktu kau masih kecil dan dikeroyok kakak-kakak yang sudah besar?” tanya Angelia. “Ya, terus kenapa?” tanya balik Arsada. “Waktu itu kau ingat seberapa ngerinya dirimu? Kau mengamuk dan bisa saja membunuhku sekali sembur. Aku tanya, kenapa kau malah memilih untuk menceburkan diri ke dalam sumur yang masih ada airnya? Kau kan tipe naga api,” tanya Angelia yang duduk dibahu sebelah kanan Arsada. “Sebab aku tak mau ada yang aku lukai. Aku tak mau kehilangan keluargaku lagi. Masuk ke dalam sumur solusi tepat sehingga tak akan ada yang terluka,” jawab Arsada. Angelia terbang lagi. Kini dia duduk di lubang ventilasi. “Dengarkan aku, adik manis. Di sini aku tersiksa setiap hari. Kau harus pahami, tempat adalah neraka bagi orang seperti kita. Jika kau tak tahan kau akan mati. Itu berarti ancaman bagi panti asuhan. Kasihanlah ayah dan ibu yang sudah merawatmu belasan tahun,” kata Angelia sambil terbang keluar dari tempat Arsada terkurung. Dia kembali menjadi manusia biasa. Arsada telah selesai makan roti yang disajikan untuknya. Dia masih saja teringat ucapan dari Angelia. Kepala ditaruhkan di atas meja, Arsada berpikir tentang kejadian buruk yang akan menimpa kelyarganya. Air mata mengalir deras  saat teringat tentang keluarga yang ditinggalkan. Bahkan dia juga mengingat tentang paman yang telah meninggal sesaat sebelum dia bisa menjadi shifter naga yang dimau. Air mata dihapus, Arsada kembali menegakkan kepala. “Teman-teman, tolong sampaikan permintaan maafku pada semua orang yang telah aku sakiti. Ini semua kesalahanku yang tak bisa mengendalikan diri,” katanya. Angelia berdiri dan mengelus tambut Arsada dengan sangat lembut layaknya sentuhan kepada adik sendiri. Air mata di wajah Arsada dihapus meski tak bersih. Sebuah pelukan persaudaraan dilakukan. “Ars, aku tahu segala rasa yang kau alami. Aku juga merasakan apa yang kau rasakan. Adik manisku, ayo kita jalani kehidupan keras di sini. Ini tak akan lama, hanya setahun saja,” katanya sambil juga ikut meneteskan air mata. “Baguslah kalau begitu. Masih ada harapan untukmu diterima di sini. Aku juga naga tapi hanya bisa elemen api, sedangkan kau bisa tiga elemen sekaligus. Nanti aku yang akan mengajari tentang sejarah Dunia ini. Tapi ingat, jangan main api. Kertasmu bisa terbakar,” kata Wiragni. “Saya mengerti, Mohon bantuannya,” ucap Arsada sambil sedikit membungkukkan badan ke depan. Semenjak saat itu Wiragni mengambil porsi sebagai mentor dari Arsada. Untuk pertama kali dia mengajar sesuai dengan cerita yang diutarakan Angelia. Mentor naga tersebut mengajar selayaknya ibu kepada anaknya sendiri. Hal ini bisa menenangkan Arsada hingga shape shifter naga elemental tersebur terhanyut dalam suasana kedamaian. Tiada sedikit pun amukan yang terjadi. Waktu sudah semakin larut. Pelajaran untuk hari ini telah selesai. Wiragni keluar dari tempat tersebur. Di depan mata ada sesosok lelaki. “Mentor naga, bagaimana hasilnya?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD