Karunia merupakan salah satu ilmuwan yang ada di dalam akademi khusus shifter tersebut. Dia bukan shape shifter, tapi dibutuhkan untuk mengendalikan shape shiter yang ada di sana. Kemampuan dalam analisa sangat dibutuhkan jika ada shifter yang mengamuk atau kehilangan kendali. Dia yang membuat suntikan khusus sehingga para shifter bisa berada di jalur yang benar.
Baru kali ini dia merasa bersalah karena membuat shifter naga elemental mengalami kesakitan luar biasa. Karunia mendatangi tempat khusus dimana Arsada dikurung secara penuh. Dia tahu seluk beluk tempat tersebut. Sebuah tombol ditekan, bunyi bentakan sangat nyaring dan membengkakkan telinga. Namun dia menggunakan sebuah alat peredam suara sehingga tak mendengarkan bunyi tersebut.
Arsada sedang berada di dalam ruangan tersebut merasakan bunyi yang sangat mengiris hati. Rasa trauma di dalam hati mulai tumbuh dengan sangat cepat. Dia sudah tak tahan lagi dengan suara yang menyakitkan telinga tersebut. Tanpa disadari dia berubah menjadi naga elemental. Meskipun ruangan tersebut tertutup, tapi angin masih juga bisa terbentuk. Semburan api dilakukan dengan sekuat tenaga. Tempat itu terbakar hebat.
Suhu di ruangan tersebut naik drastis. Sebab hal itu sistem pemadam kebakaran terpicu. Air yang keluar membasahi tubuh Arsada. Amukan api berubah menjadi es. Semburan dingin mulai dilancarkan. Pipa air mulai tersumbat karena membeku. Semburan pun terus berlanjut hingga beberapa sudut ruanagn membeku. Suara yang menyayat hati tak terdengar lagi dan dia kembali menjadi manusia biasa di atas sebuah es.
“Hah.” Arsada merasakan kelelahan luar biasa. Dia bergeletak di atas es sambil mengambil napas dengan sangat cepat.
“Aduh, metode ini tak berhasil sama sekali. Jika kita turuti maka biasanya akan membengkak sepuluh kali lipat. Aku perlukan metode yang lain,” kata Karunia.
“Apa perlu kita beri kasih sayang?” kata Disti Raven.
“Tidak, itu kurang cocok. Nanti dia akan menjadi musuh yang sangat berbahaya. Sekali dibentak satu kota bisa hancur,” tolak Karunia.
“Draco yang satu ini lebih sulit daripada yang belasan tahun yang lalu. Tapi setidaknya dia masih mau mengakui kesalahan jika yang ada dipikirannya salah,” kata Anwu.
“Itu dia, kita buat dia merasa bersalah. Dengan begitu kita bisa mengobati rasa trauma walaupun hanya sedikit,” kata Karunia.
“Caranya bagaimana?”
***
Di pagi hari sahaya matahari masih tak terlihat di ruangan tersebut. Namun tak masalah bagi Arsada. Dia sudah bangun terlebih dahulu. Beberapa gerakan senam telah dilakukan dalam manusia. Segala gerakan telah dilakukan, Arsada merasa sudah cukup. Kini dia berubah menjadi naga elemental.
Kejadian yang kemarin masih saja membuat dia penasaran. Di dalam keadaan yang tak diinginkan, Arsada bisa menyemburkan es. Dia terus mencoba dan selalu saja api yang keluar. Rasa penasaran semakin tinggi. Namun usahanya tak membuatkan hasil. Arsada masih ingat dengan teknik yang lain yaitu memuat bola api. Angin yang terbentuk di ruangan tersebut terkumpul. Api disemburkan pada ngin tersebut dan membentuk sebuah bola bercahaya. Dai terus memepertahankan bentuk tersebut. Langkah demi langkah dilakukan. Hanya saja bola itu sirna karena terpeleset. Dia terjatuh dan bola api membakar tempat tersebut. Air yang keluar memadamkan api tersebut. Aduh, bagaimana aku ini. Begini saja bisa terjatuh,” keluhnya pada diri sendiri.
Tak lama berselang seorang mentor sudah datang ke tempat tersebut. Kali ini hanya Disti Raven yang muncul tanpa kehadiran Anwu. Dia selalu membawakan makanan. “Arsada, apa yang kamu lakukan?” tanyanya ketika melihat shifter naga tersebut sedang tergeletak di lantai dari balik sebuah kaca.
Arsada kembali menjadi manusia biasa. Dia berjalan mendekat pada sang mentor sambil berkata, “Aku tadi latihan dan terjatuh,” jawab Arsada.
Sekarang cepat kau makan, kau hanya punya waktu selama 5 menit. Waktu dimulai dari sekarang,” kata Disti Raven sambil menyerahkan makanan.
“Tapi, Bu?”
Waktu sudah berkurang enam detik. Cepat kau makan.” Disti Raven melihat sebuah alat menghitung mundur waktu.
Waktu lima menit telah berlalu, Arsada hanya bisa menghabiskan kurang dari setengah makanan yang diberikan. Sebab itulah Disti Raven marah besar. Segala macam hinaan telah tertuju pada shifter naga tersebut.
Semula Arsada masih bisa makan sambil mendengarkan ceramah hinaan terhadap dirinya sendiri. Namun dia tak bisa bertahan lama. Lelaki muda itu berubah menjadi naga. Makanan dibanting dan semburan api dilakukan. Wujud dari energi panas tersebut keluar melalui lubang ventilasi dan menyebabkan Disti Raven terbakar walaupun alarm kebakaran menyala.
Dalam keadaan basah karena terkena air, Arsada melihat keluar. Dia pun baru tersadar ada seorang yang tak sengaja disakiti. Dia pun kembali menjadi manusia. “Bu, maafkan aku. Aku tadi tak sengaja,” ucapnya.
Disti Raven bangkit dari tempatnya tergeletak. Dia berdiri sedikit menjauh dari kaca. “Arsada, kau tahu kau itu salah?” tanyanya untuk sebuah kepastian.
“Iya, maafkan aku. Lain kali aku tak akan melakukan itu,” jawab Arsada.
“Baguslah, sekarang waktunya untuk pelajaran pertama. Push up sebanyak seribu kali dalam waktu dua puluh menit,” perintah sang mentor.
Segera Arsada melakukan hal ini. Hanya saja dia tak kuat melakukan seperti yang dikatakan Disti Raven. Dia pun terkena marah dan lagi-lagi mengamuk. Seisi ruangan tersebut terbakar lagi. Distio Raven tak luput dari api itu.
Berkali-kali Arsada melakukan kesalahan karena tuntutan yang terlampau berat, di saat itu juga sang mentor terkena api yang masih keluar dari sela ventilasi udara. Selain terkena api, Disti Raven juga basah terkena air. Tak ada lagi yang bisa dilakukan, dia hanya bida bergeletak di atas lantai sambil memandangi air yang masih keluar untuk menurunkan suhu di tempat tersebut. “Naga, kau ini bagaimana sih. Sudah jelas kau yang salah, tapi aku yang harus menanggung akibatnya. Aku menyerah saja,” keluh sang mentor.
“Maaf Bu, aku ketakutan. Aku tak bisa kendalikan diriku saaat mengalami trauma berat. Kadang aku masuk ke seumur sedalam tiga puluh meter agar tak membahayakan saudaraku,” kata Arsada.
“Saudara? Berapa jumlah saudaramu yang ikut dalam akademi ini?” tanya sang mentor.
“Kalau khusus di sini hanya ada satu yaitu Angelia si fairy. Dia anggota F…, aku lupa nama lengkapnya tim apa. Pokoknya ada lima perempuan dan aku lupa siapa saja mereka kecuali Nina, yang mengaku sebagai kekasihku.” Arsada kembali menjadi manusia. Dia menempel sedekat mungkin agar bisa melihat sang mentor dengan lebih jelas. Sedikit air mata menetes mengenang akibat yang telah diperbuatnya sendiri.
Disti Raven kembali bangkit dengan luka cukup parah. Dia mulai berjalan meninggalkan Arsada sendiri. Langkah demi langkah dilakukan dengan keadaan tubuh masih hangus dan basah. Dia pun berpapasan dengan mentor yang lain.
“Bu, apakah naga itu mengamuk lagi?” tanya seorang mentor.
“Iya, dia mengamuk sangat hebat. Naga elemental tak terkendali sama sekali,” jawab Disti.
“Bu, mumpung masih berada di dalam tahanan lebih baik habisi saja nyawanya. Luka yang kau alami sudah cukup sebagai sebuah barang bukti. Jika dibiarkan akan seangat berbahaya,” saran dari seorang mentor.