"Arsada, jika boleh tahu apa yang tadi kau lakukan?" tanya Anwu.
"Aku tadi merasakan panas yang teramat panas. Aku tak tahu lagi bagaimana cara mengeluarkannya. Maka dari itu aku aku berusaha mengeluarkannya. Aku kira dengan begini bisa meredam panas di tubuhku tapi tidak. Aku terus saja mengeluarkan apiku. Entah benda apa yang melayang melingkari pusaran anginku. Aku terus saja menyemburnya. Tapi aku tak tahu mengapa apiku menjadi es. Aku malah membeku karenanya. Aku kecapekan beristirahat sebentar. Tak tahu kenapa teman-temanku malah memukul es balok. Hingga lelahku hilang aku berusaha untuk menyemburkan apiku lagi. Terlahan aku bisa tapi tenagaku terkuras total," cerita Arsada.
"Naga, kau beristirahatlah terlebih dahulu," kata Anwu.
"Pak, aku ingin belajar seperti yang lainnya. tubuhku sudah normal kembali seperti biasanya," kata Arsada.
"Nak, demi kebaikanmu kau lebih baik beristirahat saja. Mulai besok kau belajarnya," kata Disti Raven.
"Baiklah," kata Arsada sembari menjadi manusia biasa.
Lampu teman Arsada berdiam diri dipadamkan. Semua orang yang mengunjunginya telah pergi. Tinggal dia sendirian yang berada di dalam sana. Gelapnya malam tak membuat aktifitas berhenti. Masih saja Arsada ingat tentang kemampuan naga elemental, bisa melihat energi panas. Dengan berubah menjadi naga elemental dia bisa melakukannya. Sayang, buku tak bisa memancarkan energi panas. Deteksi suhu sedikit dingin yang dia tangkap. Segala tulisan yang tertuang di dalam buku tak bisa dibacanya. Masih teringat dia saat membeku. Semburan energi pembeku dia ingat. Tapi dalam sains tak ada namanya energi ldingin. Terus saja Arsada mencoba. Bukan es yang keluar, hanya api seperti biasanya. Berkali-kali dia lakukan tetap saja es tak keluar. Kebingunan membuatnya frutasi, rasa bosan telah membunuh niat belajarnya. Tak ayal hanya tidur yang bisa dia lakukan.
Pagi hari telah menjelang. Arsada sudah terbangun dari mimpi buruk yang dialami malam itu. Buku yang belum sempat dibaca telah diambil kembali. Lagi-lagi ruangan tersebut tidak ada cahaya. Arsada tak bisa membaca lagi meski sudah berubah menjadi naga. Dia meninggalkan tumpukan kertas tersebut.
Buku yang tidak bisa dibaca bukan sebuah masalah. Arsada memilih cara yang lain. Dia mencoba untuk membuat semburan es. Tetap saja api yang keluar. Arsada mencoba untuk mengkombinasikan dengan angin. Tetap saja api yang keluar. Dia mencoba berkali-kali dan hasilnya tetap sama saja. Arsada menjadi putus asa dan memilih untuk menyerah saja. Dia berbaring di lantai.
Api dikeluarkan Arsada menuju ke langit-langit ruangan. Sedikit cahaya terlihat. Arsada memiliki sebuah ide. Dia mengumpulkan angin sehingga membentuk sebuah bola energi. Sedikit api disemburkan. Energi panas yang menghasilkan cahaya tersebut coba dipertahankan dengan konsentrasi penuh. Dia mencoba untuk membaca buku. Sayang, energi tersebut tidak bisa dipertahankan. Api padam, dia pun tidak bisa kembali membaca. "Ah, sudahlah. Aku tunggu mentor saja," katanya dengan sedikit kesal. Arsada pun kembali menjadi manusia biasa.
Tak lama kemudian lampu mulai dinyalakan. Kewaspadaan Arsada ditingkatkan. Dia duduk bersila sambil menantikan kehadiran seseorang. Yang muncul seorang mentor yang paling dipercaya, Anwu. Selain itu ada juga mentor perempuan yang telah menyuapinya, Disti Raven.
"Naga, kau makan dahulu. Setelah ini kau bersihkan badan dan ikuti pelajaran seperti yang lainnya," kata Anwu.
"Membersihkan diri? Maaf, di sini tidak ada saluran air dan tempat untuk mengganti pakaian. Apalagi aku tak membawa pakaian sama sekali," alasan Arsada.
"Kau akan berpindah tempat. Kau berada di dalam rumahku," kata Anwu.
Makanan yang dibawakan Disti Raven segera dimasukkan ke dalam tubuh Arsada. Lelaki yang bisa berubh menjadi naga itu makan dengan kecepatan tinggi. Makanan telah masuk ke dalam tubuh hingga tak bersisa seedikit pun, mereka bertiga berangkat dengan sebuah mobil menuju ke sebuah tempat rahasia.
Tak seperti penjara yang mengurungnya selama ini, Arsada memiliki sebuah kebebasan untuk bisa bergerak. Ruangan yang ada disana cukup lebar dan luas untuk ditinggali sendiri. Fasilitas lengkap ada di sana.Tumpukan buku menjadi tujuan paling utama bagi lelaki tersebut. Namun karena bedan terasa bau, dia memutuskan untuk membesihkan diri.
"Arsada, kamu akan tinggal di sini untuk sementara waktu. Meski tempat ini seperti rumah biasa, kau jangan mencoba untuk kabur. Jika kamu lakukan ada bahaya yang menanti di depan sana. Kau harus menghadapi lantai dengan medan elektromagnetik yang tinggi. Belum lagi gas beracun serta jebakan air. kau tak akan bisa kebur di sini dengan keadaaan selamat," kata Anwu.
"Pak, saya mau tanya. Jika naga elemental saja tidak bisa kabur dari sini dengan keadaan aman lantas bagaimana dengan para mentor bisa ke sini?" tanya Arsada.
"Tentu saja sensor akan mati jika yang lewat selain dirimu. Sensor akan bekerja jika hanya pada dirimu," kata Disti Raven.
"Bu, jangan bicarakan detail seperti itu. Bisa-bisa Arsada melarikan diri dari sini," kata Anwu sebagai bentuk ketidaksetujuan atas ucapan dari Disti Raven.
"Tak masalah jika hanya untuk mengurungku saja. Aku tak akan lari dari sini kecuali dalam keadaan bahaya," kata Arsada.
"Di sana ruang pertemuanmu. Selama tiga bulan kita bertatap muka di sana," tunjuk Disti Raven pada sebuah jendela kaca.
Arsada dengan para mentor berpisah. Memang tak ada jadwal pelajaran hari ini. Namun bukan berarti Arsada diam saja. Dia mengambil buku yang telah disiapkan untuk bcaan serta ujian.
Dari pagi hingga sore hari Arsada terus melihat buku. Namun tak sedikit pun informasi yang diperlukan dijumpai. Isinya hanya sejarah peperangan serta kekuatan naga elemental tanpa dijelaskan bagaimana cara untuk mengeluarkan kekuatan es. Buku demi buku telah selesai dibaca dengan perasaan penuh kekecewaan sekaligus rasa penasaran. "Hmmm, apa mungkin pihak akadem ingin melumpuhkan aku. Ini tidak boleh terjadi, aku harus tahu cara bagaimana untuk meningkatkan diri. Jika mereka sengaja tak memberitahukan aku cara untuk mengeluarkan kekuatanku sepenuhnya maka aku akan berlatih sendiri," katanya pada diri sendiri.
Buku tentang naga elemental dikembalikan, dia memilah buku yang baik. Terdapat sebuah catatan tentang shifter di seluruh dunia. Arsada mulai mencoba untuk mempelajari. Namun yang ada hanya sebuah keunggulan serta sedikit kelemahan. Buku tersebut dikembalikan dan Arsada mengambil buku yang lain. Kali ini isinya tentang olahraga dan menguatkan bagian tubuh. Arsada mengambil buku tersebut dan mulai tertarik untuk melihatnya. Huruf demi huruf dibaca, lembaran demi lembaran dibalik. Dia mulai menyukai buku tersebut. Dia pun menutup buku dengan perasaan senang.
Sekali membaca buku membuat Arsada tidak puas. Dia membuka lagi dan mempelajari dari awal. Namun ada suara bentakan bahkan sebelum dia selesai membaca buku tersebut. Rasa trauma dan marah kembali tumbuh di hati shifter naga elemental itu. "Argh!"