"Angelia, kau membuatku kaget saja," kata Arsada. Jantungnya masih berdetak kencang.
"Kamu di sini sedang apa?" tanya perempuan yang bernama Angelia.
"Aku bingung mau berbuat apa setelah ikut wajib militer dan keluar dari sini. Aku ini drako, lebih tepatnya naga elemental. Aku ini sangat membahayakan. Tapi kenapa kamu tidak takut kepadaku?" tanya Arsada.
"Ars, kita ini sejak kecil selalu saja bersama. Makan bersama, tidur bersama bahkan kita pun mandi bersama. Kalau kamu berbahaya aku sudah mati di tanganmu sejak dulu," kata Angelia.
"Tunggu dulu, kapan kita mandi bersama? Bukanlah tempat mandi antara laki-laki dan perempuan dipisahkan?"
"Hahaha, kau tak ingat ya. Kita ini sering mandi di sungai dan main hujan ketika ayah dan ibu tidak ada. Dan terakhir kali kita lakukan seminggu yang lalu."
"Ehem, kalian berdua jangan bermesraan di sini. Ayah dan ibu melarang kita melakukannya, berbahaya buat adik-adik kita," kata seorang perempuan yang sebaya dengan mereka tapi berpakaian sangat minim. Sebagian besar bagian tubuhnya terlihat karena dia memakai baju yang transparan.
"Kalau soal berbahaya sejak dulu kau yang pakaiannya paling berbahaya. Dari waktu kita bertemu kau tak mau memakai pakaian. Dari semua saudara kau yang paling terbuka dan membuka untuk saudara lain," kata Arsada.
"Mana ada," bantah perempuan yang bernama Ardina.
"Kau dulu merasa kepanasan jika tidur memakai baju," kata Angelia.
"Sudahlah, intinya sekarang kita diminta untuk berkumpul di ruang tengah. Ayah ingin membicarakan sesuatu untuk kita semua," kata Ardina.
"Kalau begitu kita harus segera ke sana." Angelia langsung berlari turun ke bawah. Arsada langsung menyusulnya bersama Ardina.
Angelia dan kedua saudaranya tiba di ruang tengah. Di sana ayah, ibu dan seorang saudara laki-laki sudah duduk di sana. Mereka menduduki kursi di seberang orang tuanya.
"Anak-anak, aku tahu ini sangat sulit bagi kalian. Tapi aku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya berpesan agar kalian berhati-hati. Patuhi segala aturannya yang ada," kata sang ayah.
"Iya, Ayah," kata keempat anak itu
"Khusus buat kalian masing-masing. Ardina, berpakailah sesuai dengan kondisi yang ada dan jangan terlalu minim. Arsada, kau harus bisa bekerja sama dengan yang lain. Dan Angelia, kau harus bisa mengatasi rasa dendammu," kata ibunya.
"Baik, Bu," kata ketiga anak tersebut.
"Kalau aku bagaimana?" tanya seorang lelaki yang sebaya dengan Arsada, Sarsagosa.
"Kau jangan iri jika ada anak bangsawan atau anak orang kaya yang dekat denganmu. Kalau harus tahu posisi dirimu seperti apa," kata sang ayah.
"Aku mengerti."
***
Hari-hari telah berlalu. Kini waktu keberangkat telah tiba. Arsada bersama tiga saudaranya telah mempersiapkan barang bawaan mereka masing-masing. Seluruh penghuni panti sudah berada di luar rumah menunggu bus yang akan mengantarkan mereka. Arsada telah bersalaman dengan semua saudaranya. Tas yang akan dibawanya dipersiapkan di dekat jalan rata. Tak lama berselang sebuah bus militer datang ke panti itu. Arsada menaikkan barangnya ke dalam bus.
"Sarsagosa, dari semua saudaramu kamu yang paling bagus. Tolong pimpin saudaramu terutama Arsada. Dia yang paling sulit berinteraksi," kata sang ayah.
"Baik, Ayah. Akan aku laksanakan sebaik mungkin," kata Sarsagosa.
Sarsagosa melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan. Seluruh penghuni panti juga melakukan hal yang sama.
***
Di dalam bus Arsada masih seperti biasanya, duduk sendirian tanpa peduli terhadap yang lain. Bangku sebelah memang sengaja dikosongkan. Arsada memandang ke luar. Roda bus membawa mereka hingga tiba di sebuah rumah yang sangat besar, sebuah rumah bangsawan. Di saat saudara yang lain sedang memperhatikan hunian bak istana Arsada berdiam diri dan hendak mau berpindah ke alam tidur. Tapi di sampingnya ada seorang perempuan yang mendatanginya. Sebuah tas tanpa sengaja mengenai kaki Arsada.
"Hai tampan! Perkenalkan, namaku Lily. Aku gadis terimut di sini," kata seorang perempuan.
"Buat apa imut kalau tidak cantik," kata seorang penumpang.
"Hahaha," gelak tawa penumpang yang ada di sana.
"Kalau imut pasti cantik dong," balas Lily.
"Percuma imut kalau saat latihan militer nanti harus dilatih keras," kata seorang perempuan yang duduk di samping saja.
Bus sudah kembali ditutup. Roda bus bergerak secara mendadak. Lily yang tak siap terguncang dan jatuh, tepat di pangkuan Arsada. Tasnya hampir menghimpit kaki Arsada.
"Aduh, kalau prajurit negara seperti ini tak perlu diserang akan hancur sendiri," kata Ardina.
Lily segera duduk di samping Arsada. Lily membetulkan posisi duduknya. "Maaf ya, Sayang. Aku tadi kaget dan tak sengaja. Aku tak mau tak mengulanginya lagi. Semoga nanti kita bisa bersama," katanya.
"Kita saja belum kenal kok sudah bilang sayang," kata Arsada.
"Aku belum tahu namamu. Jadi mudahnya ya aku paling saja Sayang," kata Lily sambi mengedip-ngedipkan matanya.
"Namaku Arsada," kata Arsada.
Roda bus terus menggelinding dan beberapa kali terhenti. Hingga ditiba mereka di tengah hutan. Bus berhenti beroperasi di situ. Semua penumpang turun di sana.
"Lho, kok kita berhenti di sini?" tanya seorang murid.
"Lokasinya sudah dekat," kata si sopir.
"Kalau latihannya seperti ini tak mengherankan jika banyak orang manja seperti yang ada di dekat saudara kita tersingkir," kata Ardina.
"Memangnya kamu sendiri tidak manja," kata Angelia.
"Itu waktu kita masih kecil dan Arsada yang termanja. Umur 10 tahun masih saja minta ditemani ibu," kata Ardina.
Tiada hujan tiada angin datang mobil offroad yang warnanya tersamarkan dengan alam sekitar. Turunlah sekelompok pasukan militer bersenjata lengkap. Angelia yang merasa terancam tubuhnya mengecil dan berubah menjadi fairy bersayap enam dan bertangan empat. Tubuhnya didominasi warna merah muda berbalut dengan putih. Mata yang tanpa kelopak berwarna putih terang. Semua orang yang ada di sana terkejut dan terheran-heran. "Teman-teman, aku akan melindungi kalian semua," katanya.
"Dik. kamu tak perlu takut. Kami ini yang akan mengantar kalian," kata pemimpin pasukan.
"Oh!" Angelia kembali menjadi manusia biasa.
"Saudariku, kamu ini sangat lebay," kata Ardina.
"Bukan lebay, antisipasi saja," balas Angelia.
"Semuanya, tempat latihan militer mulai tahun ini sangat rahasia. Karena itu kami yang akan mengantar kalian. Jika kalian membawa gawai mohon maaf, di tempat kalian latihan militer tak ada sinyal internet. Sekarang silahkan naik ke mobil tapi harap mengantri," kata pimpinan militer.
Segera calon murid dipersilahkan untuk menaiki mobil mereka. Arsada yang semula ingin memisahkan diri malah bersama dengan Lily dan seorang laki-laki yang mengangkat bawanya. Mereka bersama di dalam satu mobil.
"Ar, ini tuanku," kata Lily.
"Hai, namaku Sadran," kata lelaki yang dipanggil tuan.
"Aku sebenarnya mau sendirian. Namaku Arsada," kata Arsada.
"Nama yang bagus, mirip seperti nama korban selamat dari naga elemental," kata Sadran.
"Aku sendiri naga elemental," kata Arsada.
"Hahaha," tawa orang yang ada di mobil itu, tak percaya atas apa yang diuapkan Arsada.
Perjalanan berakhir di sebuah bukit yang berbentuk bak sarang lebah. Beberapa lubang trowongan tersamar sedikit menurunkan kesan alami pemandangan hutan. Mobil tersebut masuk ke dalam lubang galian yang cukup luas. Ada ribuan kendaraan berhenti di sana. Saat mobil terparkir Arsada turun dari mobil itu. Arsada berjalan sendirian agar tak ada yang menemaninya. Lagi-lagi ketiga saudaranya tetap mengikutinya. Lily dan Sadran ikut juga bersamanya. Beberapa murid lain juga mengikutinya. Mereka langsung pergi mendaftarkan diri.