Pertahankan Saudari

1056 Words
Arsada dan teman-temannya disuntik satu per satu. Berubahlah Angelia setelah tubuhnya terinjeksi tubuhnya, menjadi fairy. Sedangkan sebagian besar tetap menjadi manusia tanpa adanya reaksi apa pun. Tapi berbeda dengan Arsada. Tubuhnya tiba-tiba memanas. Menggeliat dia di lantai. "Argh!!!" teriaknya. "Ada apa ini?" tanya seorang murid. "Entahlah, sebelumnya tak pernah terjadi seperti ini," kata petugas. "Pak, jika ingin memberikan sesuatu diperiksa dulu. Kasihan saudaraku," kritik Ardina. "Untuk masalah ini kami tak tahu. Cairan yang kami masukkan sudah aman," kaa peugas  Beberapa orang datang mengerumini Arsada. Tak sedikit dari mereka lari karena ketakutan. Enggan mereka menyentuh tubuh Arsada dikarenakan panas tubuhnya melebihi normal. Selang beberapa lama Arsada sudah normal kembali, suhu yang tinggi sudah tiada lagi. Ardina dan Sarsagosa membantu menegakkan Arsada. "Dik, apa yang terjadi?" tanya petugas. "Aku tak apa-apa." Arsada berlalu begitu saja sambil membawa barangnya. Semua temannya ikut mendampinginya. Tapi Angelia malah menghilang entah kemana. Baru saja mereka melangkahkan tempat latihan tapi sudah ada yang main mata dengan Ardina. Seorang laki-laki mendekatinya dan langsung menggenggam erat lengan lembutnya.. "Hai cantik," katanya. "Lepaskan tanganmu atau...," kata Ardina. "Atau apa?" tanya dia sambil melototkan matanya.. "Kau akan menghadapi para saudaranya," kata Sarsagosa. "Oh, jadi kau berani sama aku. Teman-teman, maju ke sini," kata orang itu. Seketika beberapa orang datang mengelilingi Arsada dan teman-temannya. "Masih berani kau melawanku," imbuhnya sambil tetap memegang tangan Ardina. "Bos, di sana ada kamera pengawas. Kau kan bangsawan. Sungguh amat sangat memalukan jika kau terekam sedang pemaksa seorang gadis," kata Sadran. Para pencegat melihat di berbagai sudut ruang dan menemukan banyak kamera pengawas. Dilepaskanlah tangan Ardina sambil berkata, "Bagaimana jika besok kita bertanding. Tempat di tengah lapangan. Urusan lainnya biar aku yang urus." "Setuju, kita ambil tiga lawan tiga," kata Sadran. "Baiklah, jika kau kalah bersiaplah melihat saudarimu tidur di sampingku." Anak bangsawan itu pergi bersama temannya. "Arsada, besok kau harus ikut bertanding. Kita akan selamatkan saudari kita," kata Sarsagosa. "Aku sebenarnya tak mau ikut. Karena ada saudaraku maka aku akan ikut," kata Arsada. "Saudaraku, kau wajib menang. Aku tahu aku ini terlalu terbuka tapi aku tak mau bersamanya," kata Ardina. "Serahkan ini semua pada kami." Sadran bersama dua temannya pergi ke asrama putra. Sedangkan Lily dan Ardina pergi ke asrama putri. *** Sadran sampai di sebuah kamar di asrama. Tergambar dengan jelas peta tempat yang terisolir tersebut. Ditaruhkan barang mereka di sebuah lemari. "Teman-teman, aku tahu rata-rata bangsawan itu lemah. mereka hanya dianggap kuat karena keturunan. Mereka itu penggertak saja. Aku yakin mereka tak berani berbuat lebih. karena itulah kita harus menghajar mereka agar mereka jera," kata Sadran. "Tapi kami ini hanya anak panti. Kami tak punya modal apa pun untuk melawan mereka semua," kata Arsada. "Jangan khawatir, rata-rata anak bangsawan itu manja. Pengecualian untuk Lily, meskipun ayahku menganggapnya anak perempuan dan selalu dimanja tapi dia tak mau itu. Lily sangat bergantung padaku," kata Sadran. "Arsada, aku punya sebuah taktik. Untuk melawan bangsawan aku dan Sadran yang melawan pengawalnya. kau hajar saja bangsawan itu," kata Sarsagosa. "Saudaraku, aku yang akan melindungi kalian semua," kata Arsada. "Baiklah, kalau begitu aku dan Arsada yang akan melawan pengawalnya. Sedangkan Sarsagosa yang akan melawan bangsawan itu," kata Sadran. "Setuju." ***  Ketiadaaan cahaya mentari tak biasa mereka rasakan. para penghuni asrama hanya bisa mengandalkan jam dinding yang terpasang di berbagai sudut. Sadran dan teman-temannya ke tempat sesuai yang tertera di peta. Ardina, Lily dan beberapa temannya juga hadir di sana. Seorang bangsawan datang bersama tiga orang. "Perkenalkan, aku ini Eduardo. Aku akan mengutus tiga orang untuk melawan kalian. Atau serahkan saudarimu sekarang juga," katanya. "Bagaimana kalau kita batalkan saja pertandingan ini. Kita bisa belajar bersama tanpa adanya perselisihan," kata Sarsagosa. "Oh, tidak bisa. Hajar tiga orang itu," perintah Eduardo. Tiga orang bawahan Eduardo maju. Ketiganya berubah menjadi werelion, werewolf dan werebear. "Hai, kau curang. Tidak berani turun tangan sendiri," kata Sadran. "Kita tak pernah membuat perjanjian ini, jadi aku bebas milih yang mana," kata Eduardo. "Saudaraku, biar ini semua aku urus sendiri," kata Arsada. "Maaf ya, kita bertiga tak akan menang melawan semua. Apalagi hanya satu orang saja," kata Sarsagosa. "Lihatlah ini." Arsada berkonsentasi. Tubuhnya mulai berubah menjadi naga elemental dengan cakar yang besar nan tajam serta dua pasang sayap. Ekornya terlihat kokoh dan kuat dengan ujung terlihat sangat mengerikan. Terbangkan Arsada menunju ke tangah arena. "Jadi kemarin kau tidak bercanda," kata Sadran dengan penuh kekaguman. "Jika kau kira dengan menjadi naga elemental bisa menang kau salah besar. Kami lebih banyak dan lebih berpengalaman," kata werebear. Naga elemental terbang dengan cepat dan melayangkan pukulan ke perut werebear. Terpental tubuh werebear ke belakang karena tak siap. Werelion dan werewolf langsung mencabik si naga. Serangan keduanya ditahan dengan cakar yang besar. Tapi tidak dengan tendangan werelion dan werewolf. Si naga merasakan sakit terkena kedua tendangan itu. Werebear segera bangkit dan melancarkan serangannya. Sebuah tendangan berkuku membuat naga terpental mundur. "Naga, jika ada orang yang lebih tua berbicara dengarkan dulu," kata werebear. "Saudaraku, apakah kau tidak apa-apa?" tanya Sarsagosa. "Aku tak apa-apa, hanya saja aku sedikit kurang cepat." Arsada langsung melesat dengan cepat ke tiga shifter di depannya. Sebuah cakaran dia gunakan untuk menyerang lawannya. Dengan tenang werebear menahahannya. Sayangnya cakarnya naga terlalu tajam sehingga robeklah kulit berbulu itu. "Argh!!" teriaknya. Werelion dan werewolf kembali memamerkan kehebatan cakarnya. Naga menangkisnya dengan kedua cakarnya. Kini serangan mereka lebih berhati-hati. Werebear kembali bangkit. Dengan tangan berkuku dia menyerang kepala naga. Arsada tak bisa menghindar terkena serangan itu. Kekuatan kini telah tak seimbang. Arsada menjadi bulan-bulanan. Serangan dari ketiga makhluk hanya bisa dirasakan Arsada saja. Menangis Ardina mengetahui Arsada terluka berat dan berteriak dengan kencang, "Arsada!" Arsada sudah kuwalahan menghadapi ketiga shifter. Dia memutar tubuhnya. Rasa takut pada cakar membuat lawannya mundur. Arsada membentuk sebuah angin yang mengelilingi tubuhnya. Angin ditiup dengan napas api sehingga terbentuklah tornado api. "Naga bodoh, mengapa juga membakar diri sendiri," kata Eduardo. Api yang mengelilingi tubuh Arsada telah hilang. Seluruh luka yang ada di tubuhnya sudah menghilang. Arsada telah terlihat sembuh seperti sedia kala. "Hah!" tercengang Eduardo melihat kejadian ini. "Arsada, kau ini drako atau burung mistis. Dari buku yang aku baca tak ada naga yang bisa seperti ini," kata Sadran. Arsada menggerakan tangannya sehingga energi angin disekitarnya berkumpul. Terbentuklah bola angin di kedua tangannya. Datang werelion dengan serangan cakarnya yang tajam. Disambut serangan itu dengan bola angin mengarah langsung ke perut werelion. Sekali serang werelion terpental jauh. "Anak-anak, hentikan semua ini," kata seorang yang berada di kejauhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD