Kemenangan Membawa Kepedihan

1012 Words
Sejenak Arsada si naga elemental berhenti, begitu juga dengan ketiga lawannya. "Pak, petarungan ini resmi dan dari kami belum kalah," kata Eduardo. "Petarungan ini sangat berbahaya. Aku kuatir atas nyawa kalian," kata seorang dari kejauhan, dia salah satu mentor. Tak dihiraukan perkataan sang mentor, werelion main serang saja. Si naga kurang waspada, hampir saja lehernya terkena cakaran. Lengan naga mampu menahan serangan werlion. Tapi werebear menyerangnya dari belakang. Untung saja ekor naga masih bisa menahan. Sayang serangan werewolf merusak sayap kiri naga. Leher jadi sasaran empuk. Darah keluar dari tubuh Arsada. Werewolf berhasil dibanting tapi werlion menggigitnya. Ditambah werebear mengoyak bagian belakang membuat Arsada semakin tak berdaya. Arsada ambruk, ketiga lawannya semakin mengerubuninya. Luka di tubuh semakin parah. "Arsada, akan aku bantu kamu," kata Sadran. 'Jangan, kau nanti akan mati jika mendekat di sana. Dia itu naga elemental masih belum terlatih. Amat sangat berbahaya jika kau ikut maju," kata mentor itu mencegah Sadran bergerak. "Tapi saudaraku nanti akan mati," kata Sarsagosa. "Percaya padaku, tak akan ada yang mati hari ini," kata mentor. Terdesak sudah Arsada dalam luka parahnya. Tiada cara lain u ntuk bangkit. Disemburlah lantai tempatnya berpijak. Suhu panas membuat para rival mundur kebelakang. Api kembali digunakan untuk membakar tubuh naga. Ditambah dengan angin yang berkeliling membuat kobaran semakin bisa. Panas yang terlalu tinggi memicu alarm kebakaran. Hujan terjadi dari arah atas. Perlahan api mulai padam, sekali lagi Arsada sembuh total. Tapi kali ini Arsada benar-benar kelelahan. Air bertabaran membasahi lantai. "Hah, dia menyembuhkan diri sendiri." Seorang mentor tercengang melihat kejadian itu. "Arsada, serang Eduardo!" teriak Ardina. Dipandang Eduardo tak jauh dari arena, Arsada secepat kilat terbang ke atas. Dengan bekerja sama werewolf berhasil melompat tinggi hingga sampai di tepat Arsada. Kuku bercakar besar kembali mengarah ke tubuh naga elemental. Tapi terlebih dahulu ekor naga menghempaskan si werewolf. Posisi telah seusai dengan yang dia inginkan. Angin bercampur dengan api telah siap, Arsada langsung menukik menuju ke werewolf. Sebuah tinjuan api telah siap menhantam werewolf. Dengan sedikit bergerak werewolf mennghindar. Eduardo berada di belakang werewolf, padangan terhalang karenanya. Dalam keadaan yang tak siap bola api mengarah ke anak bangsawan itu. Bola energi begitu kuat menghantam tubuh Eduardo. Badannya terpental jauh dan gosong. Tak mampu Eduardo mengontrol kesadarannya. Kapala terasa pusing dan Eduardo pun pingsan. Werewolf kembali menyerang. Kali ini tangan kanan naga dikorbankan untuk pertahanan. Segenggam bola udara dari tangan kiri menusuk ke perut werewolf, sebuah serangan yang membuat werewolf sakit perut dan terpental jauh. Beberapa bulu beterbangan di angkasa. Werebear dan werelion turut menyerang naga elemental. Terlebih dahulu seorang mentor datang memisahkan mereka. "Pertandingan telah usai, kalian kalah," katanya. "Pak, kami belum kalah. Kami masih bisa menang melawan naga kecil ini," kata werlion. "Lihatlah anak bangsawan di sana. Bagaimana keadaannya," tunjuk mentor. Segenap orang yang hadir di sana melihat kondisi Eduardo yang sangat mengenaskan. Pakaian koyak berat, tubuh dengan luka kabar yang amat sangat serius. "Drako, apa yang kau perbuat dengan tuan kami?" tanya werewolf. Tangan kanan memegang perut berbulu putih. "Aku tak sengaja," alasan Arsada. "Sudah jelas kan, jika pertandingan ini terus terlangsung bisa saja akan ada korban lain yang berjatuhan. Naga elemental, selamat kau menang. Tapi kau akan kami tangkap. Kau telah membunuh anak bangsawan," kata mentor. "Pak, dia tak mati. Aku belum maksimal menyerangnya," sangkal Arsada. Sejumlah orang dengan senjata lengkap telah mengepung tempat itu. Tenaga telah habis, menyerah adalah jalan terakhirnya. Arsada kembali menjadi manusia. Pasrah menerima keadaan, kedua tangannya terikat. Kemenangan yang seharusnya membawa kebahagian malah menjadi kesedihan. Tak tahan Ardina melihat saudaranya tertangkap Ardina berlari berusaha menerobos para aparat bersenjata lengkap. "Saudari, jangan lakukan itu. Arsada hanya dipenjara saja, tidak dibunuh," kata Sadran. Duduk bersimpu di lantai bentuk kesedihan Ardina. Sarsagosa datang merangkulnya. Beberapa teman yang lain ikut ke sana dan mengerumuni Ardina. "Kak, santai saja. Arsada itu naga yang kuat. Pasti nanti akan baik-baik saja," ucap Lily. Bangun dari duduk berdiri bersama teman-teman Ardina bersama dengan temannya. Sebuah pandangan mengarah kepada si centik. "Lily, benar apa katamu. Aku terlalu khawatir tentang Arsada. Ini akademi, bukan medan perang. Pasti Arsada akan baik-baik saja. Terima kasih banyak," katanya. "Hihihi," senyum kecil Lily penanda isyarat kecantikan dan kebahagiaan. Hilang sudah kesedihan Ardina. Dia berbalik arah dan dengan langkah pasti berjalan menuju ke tempat lain. Lily dan beberapa perempuan mengiringinya berjalan. Sedangkan yang lain membubarkan diri melanjutkan aktifitas lain. *** Entah dibawa kemana Arsada tak tahu. Seingatnya dia dibawa oleh aparat bersenjata lengkap. Tapi saat memasuki sebuah mobil dia tak sadarkan diri. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Rasanya energi tubuhnya tersedot amat banyak. Di lihat disekitar tempat Arsada berbaring. Sepi, tiada siapa pun di sana. Hanya seorang diri dia. Tembok putih senantiasa membatasi pandangan Arsada, Lampu di atas menjadi sumber cahaya baginya. Tiada ke sedihan atau ketakutan yang mengelilinginya. Rasa penasaran pun tiada. Keheningan kini dinikmatinya, sebuah suasana yang selama ini dia nanti. Heningnya suasana menjadi dambaannya. Hingga stiap gerak darah pada setiap nada terdengar dan terasa. Entah berapa lama Arsada sendirian, tak tahu dengan pasti. Pintu penghubung Arsada dengan dunia luar terbuka. Muncul seorang dokter perempuan dari luar. Seorang dengan pakaian serba putih dan berlengan panjang duduk di dekat Arsada. "Naga elemental, dari data statistik yang aku baca suhu tubuhmu sangat tidak stabil. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya si dokter. "Bu, aku sendiri tak tahu. Baru kemarin aku disuntik dan mengalami kejadian seperti ini," kata Arsada. "Nak, kau itu sudah tiga hari tak sadarkan diri," kata si dokter. "Apa?" kata Arsada karena terkejut. Tak percaya dirinya telah selama itu tak sadarkan diri. "Ibu tak berbohong kan?" tanyanya. "Aku punya hasil laporan tentang penelitian dirimu selama kau tak sadarkan diri. Segala tercatat dengan rapi. Tapi ada yang sedikit aneh, suhu badanmu tak normal. Padahal waktu itu kau masih dalam wujud manusia. Kita boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu?" tanya balik si dokter. Alat untuk mencatat dan dokumentasi telah dia pegang. *** Di rumah sakit berbaring seorang anak bangsawan, Eduardo. Alat bantu telah terpasang di beberapa bagian. Sejumlah dokter siap memantau kondisi Eduardo. Tepat di sampingnya berdiri seorang bangsawan. "Arsada, teganya kau melukai anakku separah ini. Tunggulah saatnya nanti. Kau akan membayar lebih dari ini," katanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD