"Aku juga tak tahu apa yang terjadi pada diriku. Saat disuntik aku juga mengalami hal yang sama. Aku tak tahu cairan apa yang digunakan," kata Arsada.
"Untuk sementara kau istirahat di sini dahulu. Sampel darahmu akan aku teliti terhadap reaksi obat yang disuntikkan pada dirimu. Jika boleh tahu suntikan apa itu?" tanya dokter.
"Aku tak tahu. Yang aku tahu sesaat setelah pendaftaran aku disuntik. Hanya aku sendiri yang mengalami itu, sedangkan yang lain tidak."
Sebuah jarum suntik menancap di kulit Arsada. Beberapa tetes darah tersedot ke dalam tabungan sulit. Dicabut jarum suntik dan disimpan di sebuah wadah. Jarum sunti yang masih kosong diambil lagi. "Coba kau berubah menjadi naga elemental," kata dokter.
Pusatkan pikiran dan berkonsentrasi yang Arsada lakukan. Tubuhnya kini berubah menjadi naga elemental. Sebuah jarum suntik ditancapkan di kulit naga. Sedikit lebih sulit daripada yang tadi tapi masih bisa juga. Sampel darah juga tersedot ke dalam tabung sutik. Terlihat warna darah yang agak gelap.
"Terima kasih atas kerja samanya, naga. Sampel darah ini akan kami teliti untuk mengetahui penyebab semuanya," kata dokter.
"Bu, namaku Arsada," kata Arsada.
"Aku sudah tahu." Senyum dokter sambil menyimpan jarum suntik.
Sang dokter kini berbalik arah pergi meninggalkan Arsada. Dalam kesendiriannya Arsada terdiam meningkati keheningan. Teringat tentang pamannya yang telah tiada. "Paman, aku bingung harus bagaimana. Aku harus balas dendam pada siapa? Orang yang menghancurkan kota kita telah tiada dan aku sendiri tak tahu harus melakukan apa ketika menjadi naga elemental. Sesuatu yang aku banggakan malah aku sendiri yang pusing," katanya.
***
Sampel darah Arsada dalam wujud manusia dan naga sudah terlihat berbeda. Rasa menasaran membuat dokter ingin mengetahuinya. Sampel darah ditaruh di bawah sebuah mikroskop electrik. Hasil scan data masuk ke sebuah komputer. Beberapa hasil analisa tercatat jelas. Tapi hasil scan darah darah naga akan sebagian yang tak diketahui.
"Apa-apaan ini? Apakah benar alat ini berfungsi normal?" tanya seorang dokter lelaki.
"Kita sudah menggunakan alat ini selama setahun lebih dan tak ada kendala sama sekali," kata temannya.
"Apa ini benar? Apa tak salah sampel atau tertukar? Beberapa kandungan zat tidak diketahui atau terdekteksi. Aku belum pernah melihat ini sebelum. Masak antara sebelum dan sesudah menjadi shifter perbedaannya sangat jauh," kata dokter lelaki itu.
"Pak, ini aku sendiri yang ambil dari tubuh Arsada secara langsung," kata dokter yang baru menemui Arsada.
"Kalau ini benar perlu kita teliti lebih lanjut. Juka kita tahu penyebabnya dan bbisa mengembangkannya bisa jadi kita akan naik jabatan. Ayo semangat kerja," kata dokter lelaki.
"Siap,Pak."
***
Termenung dalam kesendirian terlalu lama membuat Arsada yang dalam bentuk manusia teringat kisah kecil saat bersama pamannya. Sebuah hal yang membuatnya bertambah sedih ketika teringat kotanya sudah hancur lebur. Tiada siapa sebagai luapan dendam. Tetes demi tetes air mati terkuras keluar. Tapi dia penasaran siap orang baik yang telah dengan suka rela menyerahkan kekuatan naga elemental. Ingatannya tak kuat mengingat hal tersebut. Kenangan wajah si pemberi tak mampu terlukis dengan jelas. Pusing memikirkan hal tersebut, berbaring yang Arsada lakukan.
Pintu penghubung kamar Arsada dengan dunia luar terbuka. Seorang perempuan masuk ke dalam. "Arsada, kau sudah bangun atau belum," ucapnya.
Terdengar suara perempuan yang tak asing baginya. Arsada menoleh ke arah sumber suara dan berkata, "Angelia, bagaimana kau bisa ke sini? Dan kenapa waktu itu kau tiba-tiba menghilang?" tanya Arsada.
"Aku menanyakan tentang dirimu pada petugas. Daftarmu tak ada di dalam calon murid shifter. Aku menanyakan pada beberapa mentor dan berusaha mencarimu. Aku baru tahu saat kau sudah berada di sini," kata Angelia. Tangannya membawa beberapa makanan.
"Tapi kenapa kau tak ikut yang lainnya?" tanya Arsada lagi.
"Saudaraku, kita ini berbeda. Kelas kita ada kelas khusus, hanya untuk shape shifter saja. Kau juga seharusnya ikut tapi kau malah ikut dengan yang lain." Angelia mendekat dan duduk di ranjang tempat Arsada berbaring. "Makan sendiri atau aku suapi," katanya lagi.
Arsada duduk dan dan berkata, "Ayo kita makan bersama."
"Aku sudah makan. Aku akan mengajakmu ke sebuah tempat."
Terlihat hanya beberapa lembar roti yang tersaji. Sebuah minuman dingin dan selai ikut mendampingi makanan yang kurang disukai Arsada. Dengan berkonsentrasi Arsada kembali menjadi naga. Roti ditata sedemikian rupa sebelum gosong terkena api naga. Selai dioleskan lagi dan roti dibakar. Minuman dingin ikut menjadi korban kekuatan naga. Selesai sudah acara bakar-bakaran, Arsada kembali menjadi manusia.
"Ars, kau kira dengan begini makanan menjadi enak," komentar Angelia.
"Coba saja cium baiknya, sedap," goda Arsada.
Bau hasil pembakaran tercium juga. Bau protein dan lemak yang terbakar terasa sangat sedap. Perut Angelia tak mampu menahan godaan. "Ars, kita ini bersaudara. Boleh aku coba sedikit saja," katanya karena sudah tergoda berat.
"Tentu saja, Saudari." Arsada membrikan lembaran roti kepada Angelia.
Mereka berdua makan bersama hingga makanan tersebut habis. Segelas minuman mereka bagi berdua dalam sebuah gelas. Kebersamaan mereka terbangkitkan lagi, rasa senang menghinggapi hati mereka berdua. Sudah lama saat seperti ini tak mereka lakukan.
"Saudari, aku sudah sangat rindu saat kita bersama seperti ini. Aku ingin sekali saat-saat ini berlangsung hingga lama," kata Arsada.
"Naga, kita ini sudah dewasa dan kita dalam wajib militer. kau tak bisa seenaknya berbuat sesuatu. Kita sudah bukan anak kecil lagi," kata Angelia sambil membereskan barang. Angelia berdiri dari ranjang itu. "Ayo ikut aku," ajaknya.
Tak mau ketinggalan Arsada berdiri dan mengikuti jejak langkah saydarinya. Bersama berdua meninggalkan kamar tempat Arsada berbaring. Terlihat sudah dunia di ablik tembok. Sebuah rumah sakit yang sangat besar tapi sedikit yang mengunjunginya. Rumah sakit mewah hanya beberapa orang yang bisa berkunjung ke sana. Ornamen menghiasi dekorasi dinding tersebut. Tercengang mulut Arsada melihatnya. Tak berkedip mata Arsada melihat keindahan yang ada. Rasa takjub terbenam di dalam hatinya. Pandangan terhadap saudarinya tak pudar juga.
Tibalah Angelia di sebuah dapur. Alat makan yang digunakan Arsada ditaruh di sana. Para pelayan membawanya untuk dibersihkan.
"Saudara, tempat yang aku tunjukkan bukan di sini. Kenapa kau ikut?" tanya Angelia.
"Sebab kau tak memberitahukan aku. Jadi aku ikut saja," kata Arsada.
"Ayo." Isyarat tangan Angelia membuat Arsada mengikutinya. Lorong rumah sakit yang besar nan sepi mereka lalui. beberapa anak tangga telah mereka langkahi. Jejak sepatu yang mereka kenakan menginggalkan bekas. Keluarlah Angelia dari rumah sakit. Sebuah mobil besar telah menanti mereka.
"Angelia, kita mau kemana?" tanya Arsada.