Di pagi itu Arsada sedang berubah menjadi naga elemental. Dia selalu menyemburkan api sambil mengumpulkan angin sehingga berbentuk seperti bola energi. Energi bundar berwarna merah kejingga dilemparkan ke langit. Sensor panas terpacu, air keluar dari keran seolah-olah menjadi sebuah hujan buatan. Arsada mendapatkan sebuah ide. Dia berkali-kali menyembur ke arah atas sehingga air terus keluar untuk beberapa saat. Dia menari kegirangan.
“Arsada, kau sedang apa?” tanya Anwu.
“Menikmati masa dimana aku bersenang-senang bersama Angelia. Aku sudah lama tak bersama dengannya,” jawab Arsada.
“Kau rindu dengan saudaramu?”
“Memangnya ada apa?”
“Kukira kau tak peduli dengan saudaramu. Cepat ganti baju dan habiskan makanan ini. Waktumu hanya sepuluh menit untuk melakukan ini semua.”
Arsada kembali menjadi manusia biasa. Baju yang telah basah segera diganti dengan baju kering. Secepat mungkin dia menghabiskan segala makanan yang tersaji di sana. Dan lagi-lagi Arsada telat melakukan itu. Dia pun kena marah dan menjalani hukuman fisik cukup berat.
Waktu pelajaran telah dimulai. Dikarenakan hanya berdua saja, maka Anwu bisa lebih mudah untuk mengajar dan Arsada bisa bertanya dengan seenak hati, sesuai dengan apa yang diinginkan. Kedua orang tersebut semakin lama semakin akrab. Lontarn demi lontaran terucapkan begitu akrab. Mereka pun sampai lupa waktu.
Kala itu perut sudah minta diisi. Jam dilihat, ternyata sudah melebihi waktu yang telah ditentukan. Bahkan pelajaran yang harus diajari terlampau jauh. Buku ditutup dan Anwu bertanya, “Arsada, kau pilih selesaikan pelajaran tiga bulan atau libur dahulu?”
“Terserah para mentor saja. Yang jelas aku butuh setidaknya satu orang untuk menemaniku sebagai pelepas rindu,” kata Anwu.
Seorang perempuan tiba di sana. Dia membawakan sebuah makanan sebagai jatah untuk makan siang Arsada. Wadah tersebut disodorkan melalui lubang vertilasi. “Mentor garuda, lebih baik kita ajari Arsada tentang pengendalian diri. Juga kita ajarkan tektik dan strategi bertarung. Untuk pelajaran akademi lebih baik cepat diselesaikan. Jika kecepatannya seperti ini maka hanya butuh waktu seminggu saja,” katanya.
“Aku setuju dengan mentor naga api. Namun kita tak boleh mengajari Arsada tentang latihan fisik. Semua yang kita lakukan terekam jelas,” kata Disti Raven.
“Permainan papan. Kita tidak dilarang untuk bermain. Lagipula Arsada mengalami trauma masa kecil. Ini sebagai sebuah cara untuk mengatur strategi. Soal latihan otot gunakan caramu sendiri,” kata Anwu.
“Aku turuti saja,” kata Arsada.
“Aku ada kabar gembira, Arsada diperbolehkan melihat pertandingan antar tim tapi tak bisa ikut. Kepala akademi telah mengizinkan hanya untuk melihat saja,” kata Disti.
“Jika tak ada alat komunikasi di sini, bagaimana aku bisa melihat pertandingan antar tim?” tanya Arsada sambil makan.
“Kau diperbolehkan hanya untuk melihat keadaan lingkungan saja dan tidak boleh keluar dari ruangan. Profesor Karunia yang berhasil membuat sebuah kesepakatan.”
Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, pelajaran akademi begitu cepat selesai hanya dalam waktu satu minggu. Bahkan ujian setengah semester telah diselesaikan sebanyak dua kali. Hari-hari bersama dengan para mentor diisi Arsada dengan permainan papan. Tentu saja sebuah hal yang sulit untuk Arsada agar bisa mengalahkan para mentor, termasuk juga profesor.
Di kala sore itu tiada mentor yang sedang di sana. Arsada mencoba untuk menguatkan diri dengan berlatih secara fisik. Lembaran buku dilihat. Benda yang dimaksud sudah ketemu, dia pun mulai membaca. Hanya saja waktu itu bel peringatan sedang berbunyi. Arsada langsung menuju ke tempat biasanya dia bertemu dengan para mentor. “Angelia, kau ke sini. Aku rindu sekali denganmu,” katanya saat melihat beberapa perempuan yang ada di sini.
“Ehem, kenapa kau rindu pada Angelia? Bukannya seharusnya kau rindu padaku?” tanya Nina.
“Terserah dia dong, dia itu bukan dirimu,” sela Angelia.
“Angelia saudariku, wajarkan jika aku rindu kepadanya,” kata Arsada.
“Iya juga. Apalagi hanya Angelia yang ada di sini,” kata Rosmina.
“Ar, aku ada sedikit berita untukmu. Besok kami akan bertanding antar tim. Sayang, kau tak bisa menyaksikan. Tapi jangan bersedih, aku akan menceritakan semua kepadamu.” Angelia menaruh makanan di sebuah tempat dekat lubang penghubung kedua ruangan. Dengan berkonsentrasi penuh, gadis itu berubah menjadi fairy. Dia masuk ke tempat Arsada melalui lubang ventilasi sebelum kembali menjadi manusia biasa. Tubuh saudara satu panti dipeluknya. “Ar, jika kau rindu pada saudaramu, aku akan selalu ada di sini. Beritahu lewat siapa saja,” imbuhnya sambil meneteskan air mata. Hal yang sama pun dilakukan Arsada.
“Ketua, kenapa kamu menangis? Dia baik-baik saja,” kata Rosmina.
“Kalian tak tahu isi hati naga. Saudaraku butuh seseorang di saat tertentu dan itu adalah aku. Hanya aku shape shfter yang mengerti atas penderitaan Arsada,” alasan Angelia.
“An, lepaskan aku. Aku sudah kelaparan. Kita mengobrol saja seperti biasanya,” pinta Arsada.
“Tentu.” Angelia berubah lagi menjadi fairy guna bisa keluar dari tempat tersebut.
Obrolan antar shifter terjadi di sana. Sambil terus makan, Arsada berbicara kepada kelima perempuan. Mereka saling bercerita antara satu sama lain. Dari sini Arsada bisa mngetahui isi hanya orang lain dan setidaknya dia bisa merasakan kehangatan bersama saudara kembali.
Waktu sudah semakin gelap, kelima perempuan yang mengunjunginya sudah pulang ke tempat mereka masing-nasing. Hanya tersisa Arsada sendiri di sana. Dia kembali membuka buku dan kembali membaca.
Dirasakan buku bacaan sudah terselesaikan, Arsada mulai berlatih fisik. Konsentrasi penuh dilakukan, lelaki itu berubah menjadi naga. Angin dikumpulkan dan membentuk sebuah bola energi dan diberi sedikit api. Benda tersebut dilemparkan ke dinding. Sedikit ledakan terjadi.
Hanya segitu saja membuat Arsada tak merasakan sebuah kepuasan. Sayang, tak ada benda yang bisa dijadikan sebagai sebuah sasaran. Lelaki itu berkeliling ruangan. Namun tak ada benda yang kayak digunakan sebagai sasaran. Tempat sampah pun tak terisi sama sekali.
Arsada berpikir untuk melatih dengan cara yang lain. Namun sesuatu yang dipikirkan tak semudah apa yang diharapkan. Dia sangat kesulitan untuk menuangkan sebuah ide. Buku kembali dibuka, terdapat sebuah gambar seorang sedang memanah. Arsada mempunyai sebuah ide. Sebuah pena diambil. Beberapa bagian dari tembok dibuat sebuah gambar berupa lambang sasaran yang harus dikenakan. Beberapa meter jarak diambil. Dia mulai mengumpulkan angin. Sedikit api ditambahkan sehingga angin yang terkumpul terbakar dan menyalakan energi berewarga merah jingga. Bulatan energi telah terbentuk dengan sempurna. Teknik khusus digunakan untuk melemparkan bola api tersebut. Energi bulat segera melayang dan mengenai sebuah sasaran. Hanya saja apa yang menjadi target tak sesuai dengan apa yang terjadi. Tembakan yang dilakukan sedikit meleset dari apa yang dimau. Arsada terbang dan mendekati simbol tersebut. Bekas api dicari titik tengah dan mulai dihitung.
Bekali-kali Arsada mencoba untuk menembaka bola api. Hasil yang didapatkan kurang bisa memuaskan hati. Dia merasa capek serta kesal. Langit-langit tempat tersebut disembut dengan sebuat tenaga. Kucuran air bak hujan terjadi lagi. Arsada kenikmati suasana itu sambil berbaring di atas lantai yang mulai basah. “Hal, lelah juga untuk belajar menembak. Tapi aku tak boleh hanya bisa segini saja. Aku harus bisa berkembali. Aku harus temukan cara untuk bisa menguasai elementel es dan listrik. Akan aku buktikan jika aku ini naga terhebat. Mulai hari ini akan aku buktikan tanpa dukungan pihak akademi aku bisa menjadi prajurit terhebat,” katanya pada diri sendiri.
Dalam lubuk hati Arsada, dia ingin terus berlatih hingga tingkat akurasi bisa lebih dari delapan puluh persen. Namun rasa lelah yang dirasakan membuatnya tak kuat menahan dalam wujud naga. Dia kembali menjadi manusia biasa. Mata terpejam di saat hujan buatan sedang berlangsung. Kini Arsada telah berpindah ke alam mimpi.
Tanpa terasa pagi hari sudah menjelang. Tubuh yang semalaman basah sedikit mengkerut. Arsada berkonsentrasi sehingga bisa mengubah tubuhnya sendiri menjadi naga elemental. Api disemburkan sehingga seluruh tubuh naga tersebut terbakar. Lagi-lagi alat pemadam otomatis mengeluarkan air. “Aduh, aku lupa.” Arsada kembali menjadi manusia biasa. Dia segera membersihkan diri dan mengganti pakai dengan yang kering.
Seperti biasanya, dia menunggu seorang mentor di jendela yang terhalang oleh kaca cukup tebal. Namun yang datang kali ini agak berbeda. Hanya seorang staff kebersihan saja yang datang. Makanan pun diterima Arsada.
“Pak, bolehkah aku bertanya?” tanya Arsada.
“Silahkan, mau tanya apa saka boleh asal aku bisa jawab,” kata petugas tersebut.
“Biasanya jam segini aku belum sarapan. Tapi kenapa sekarang aku diberi sarapan lebih awal?”
“Sebab ini permintaan para mentor. Kau harus sarapan pagi terlebih dahulu. Hari ini kau libur.”
“Pak, apa boleh aku meminta sebuah benda?”
“Apa itu?”
“Aku hanya meminta beberapa kaleng bekas. Itu juga jika dikabulkan.”