Hari pertandingan individu telah tiba. Segala persiapan matang dilakukan oleh para siswa kecuali beberapa yang tak bisa datang. Angelia datang bersama dengan anggota FDF. Mereka secara kompak memakai baju berwarna merah sebagai simbol kebanggaan atas tim mereka. Gambar naga dan fairy disematkan di bagian depan dan belakang. Tak lupa juga rok mini dengan warna merah serta kain pembungkus kulit berwarna hitam dikenakan. Mereka semua secara kompak menggunakan pita hitam sebagai menghias rambut. Tas besar diletakkan di hadapan mereka saat melihat para mentor sudah berada di depan stadium.
“Selamat pagi semua. Seperti yang telah diumumkan sebelumnya, hari ini akan diberlangsungkan pertandingan individu. Setiap tim akan mengirimkan satu anggotanya masing-masing. Semua anggota tim akan melakukan pertandingan secara acak. Jadi atur strategi kalian. Tim yang performa kurang baik akan dibubarkan dan boleh bergabung atau membentuk tim baru. Silahkan perwakilan dari kalian maju dan mengambil undian,” kata kepala akademi. Pengeras suara diberikan kepada seorang pembawa acara.
“Jika ada pertanyaan silahkan ditanya. Kami beri waktu selama setengah jam,” kata pembawa acara.
“Pak, bagaimana dengan Arsada? Dia dikurung hingga kini dan tak bisa mengikuti pertandingan ini?” Nina melontarkan sebuah pertanyaan dengan cukup lantang sambil mengangkat tangan kanan.
“Pertanyaan bagus. Arsada memang tak boleh mengikuti pertandinagn tunggal ini dan dinyatakan langsung gagal. Dia harus membentuk tim baru,” kata pembawa acara.
“Pak, ini tidak adil. Seharusnya beri dia kesempatan untuk bertanding dan membentuk sebuah tim,” kata seorang lelaki.
“Tidak, ikuti saja aturan yang ada. Arsada pantas gagal,” kata murid yang lain.
Pro dan kontra terjadi di sana. Berbagai tanggapan terungkap. Saling ejek tak terelakkan lagi. Dikarenakan ada yang tidak tahan, sebuah tinjuan melayang kepada wajah lawan bicara. Orang yang terkena tinjuan dan terima dan melakukan sebuah serangan balasan. Pertarungan kedua orang tersebut dilihat murid lain. Mereka ikut saling serang sesama murid, kericuhan pun segera terjadi. Keadaan ini merembet ke murid lain hampir seluruh murid. Tak jarang dari mereka yang berubah wujud.
“Nin, ayo kita menyingkir,” ajak Angelia.
Gadis yang sudah berubah wujud menjadi platipus itu langsung keluar dari medan pertengkaran dan mengikuti Angelia bersama dengan beberapa teman lainnya.
“Berhenti!” teriak kepala akademi sambil menekan tombol sehingga turun air dari sebuah saluran pemadam kebakaran. Keadaan pun hening seketika, semua murid mulai kembali menjadi manusia biasa dan berdiri sesuai dengan tempat semula. “Dengar semua, kami sudah memutuskan untuk tidak mengikutsertakan Arsada karena dia telah membuat kesuruhan,” imbuhya sambil mematikan aliran air.
“Pak, bagaimana jika kita lakukan jejak pendapat,” usul seorang mentor.
“Silahkan,” kata kepala akademi.
“Siapa yang mau Arsada ikut tanding?” tanya seorang mentor.
“Arsada dulu telah menolakku untuk ikut dalam timnya. Aku tak rela jika dia lepas begitu saja.” Valara si shifter tiranosaurus rex.
Keganasan Valara merupakan sebuah ketakutan tersendiri bagi beberpa muris yang ada di dekat sana. Karena hal tersebut mereka mengangkat tangan agar tak diamuk Valara. Beberapa murid lainnya ikut mengangkat tangan karena teroaksa dan juga ada yang dengan senang hati. Tak sedikit karena kasihan kepada Arsada.
“Aku!” teriak Nina cukup keras. Gadis tersebut menggoyangkan tangan dan menarik perhatian murid yang ada di sana.
Janisha yang ada di sebelah Nina langsung meraih gadis itu sambil uga mengangkatkan tangan. “Nina, jangan mempermalukan diri sendiri,” katanya.
“Siapa yang setuju Arsada tidak boleh ikut pertandingan ini?” tanya mentor kembali.
Terdapat sejumlah murid yang mengangkat tangan. Dikarenakan tatapan beberapa orang yang ditakuti, beberapa dari mereka batal mengangkat tangan.
“Pak, banyak yang ingin Arsada ikut di dalam pertandingan ini. Cepat lepaskan dan biarkan dia ikut bertarung!” teriak Valara.
“Lepaskan! Lepaskan!” teriak beberapa murid yang lain. Dukungan kepada Arsada pun semakin banyak.
Sebagai seorang mentor, Anwu bersama dengan Disti Raven dan Wiragni Pangastusi maju ke depan. Pengeras suara yang dipegang seseorang diminta. Lelaki tersebut berkata, “Dengar semua, sebelumnya saya minta maaf. Saya sebagai seorang mentor gagal untuk mengendalikan Arsada. Dia naga yang setara dengan naga elemental yang telah menghancurkan satu kota. Yang aku takutkan dari Arsada jika dia mengamuk dan kalian tidak siap sama sekali. Tenaga dan kemampuan masih belum cukup untuk mencegah Arsada mengamuk. Sebab hal tersebut kami mohon maaf melakukan hal in sambil menunggu kalian siap untuk menghadang naga elemental. Maka dari itu latihanlah yang sungguh sungguh.”
Ucapan Anwu mendapatkan sebuah apresiasi dari Valara. Tepuk tangan dilakukan lelaki tersebut. Beberapa murid mengikuti hingga tempat tersebut merembet dan dilakukan oleh murid yang lain. Bunyi gemuruh tepuk tangan terdengar sangat merdu.
“Tiga bulan tak cukup untuk mengurung naga kita. Iya kan, Angelia,” kata Nina.
“Kali ini kau benar. Sebuah kurungan tak bisa menghentikan Arsada. Aku sudah beberapa kali melihat Arsada terkurung tapi tak membuatnya trauma atau kapok. Semakin lama Arsada dikurung maka semakin menggila adik manisku,” kata Angelia.
“Sekarang ketua tim silahkan maju. Ambil hasil undian dan ikuti mentor sesuai dengan petunjuk yang ada. Setelah itu kalian beristirahat sejenak sambil mempersiapkan strategi,” kata Anwu.
Empat puluh empat murid lelaki dan tiga puluh sembilan murid perempuan maju ke depan. Mereka mengambil kertas undian. Huruf yang ada di dalam kertas tersebut diperlihatkan. Ketua tim segera mengajak ke ruang yang ada di dalam kertas tersebut.
Untuk kali ini Angelia mendapatkan ruang A bersama dengan mentor naga api. Bersama dengan anggota FDF yang lain, Angelia duduk di tepi arena sambil menata pakaian. Tali sepatu pun diperhatikan dengan seksama.
“Teman-teman, kalian harus memperhatikan pakaian. Meskipun kita bertarung, tetap perhatikan pakaian agar bisa sesopan mungkin,” kata Angelia.
“An, kenapa kita harus melakukan itu? Bukankah lawan kita juga perempuan?” tanya Rosmina.
“Memang, tapi aku punya rasa malu. Kita bertarung di lapangan, bukan di kasur. Itu karena aku mempunyai adat yang tinggi dan aku bukan kupu-kupu yang dimaksa buaya darat bertopeng kelinci putih meskipun aku fairy,” alasan Angelia.
“Aku setuju dengan hal ini,” kata Janisha. Semua anggota FDF setuju atas pernyataan sang ketua.
Beberapa lelaki datang ke tempat tersebut. Langkah kaki mereka ayunkan yang menjadi pusat perhatian perempuan yang ada di sana. Namun ada juga orang yang takut akan hal itu. Rombongan itu menuju ke tempat tim FDF berkumpul. “Siapa di sini yang bernama Angelia?” tanya ketua dari rombongan tersebut, Valara.
“Aku.” Angelia mengangkat tangan.
“Mas, tempat kalian bukan di sini. Apakah kalian tersesat?” sindir Janisha.
“Hahaha,” tawa para anggota FDF.
“Bukan, kau ingatlah aku. Namaku Valara Vierson. Aku hanya ingin tahu tentang saudarinya orang yang pernah menolakku. Katakan kepadanya aku akan menunggu pertarungan tiga bulan lagi,” kata Valara.
“Terserah kau saja,” kata Angelia. Gadis tersebut beranjak berdiri dan mengulurkan sebuah tangan. “Sebaiknya kita bersahabatan saja. Hanya dengan ini Arsada bisa memberi sebuah ampunan untukmu,” imbuhnya.
Tangan perempuan itu dijabat dengan penuh kelembutan oleh lelaki anak bangsawan tersebut. Sebuah kecupan dipersembahkan oleh lelaki tersebut. “Aku tak perlu kasihani dari naga elemental. Akan aku kalahkan Arsada. Tapi aku mau bersahabat denganmu, fairy cantik,” katanya.
Jabat tangan telah selesai dan segera dilepaskan. Valara pergi meninggalkan tempat tersebut. Beberapa lelaki yang mengikuti juga pergi kearah yang sama.
Janisha berdiri dan menaruh tangan kiri di bahu kanan Angelia. Tiga teman yang lain juga berdiri berdampingan dengan Angelia.
“Kau yakin dengan hal itu? Seingatku Valara itu preman. Ayahnya salah satu sponsor akademi ini,” kata Antika sambil menata rambut yang paling pendek diantara gadis lain.
“Iya, An. Bagaimana kalau Arsada kalah?” tanya Nina dengan penuh kecemasan. Jantung yang ada di dalam tubuh berdekat jauh lebih cepat.
“Nin, yakinlah bahwa Arsada bisa menang.”
Hasil perumusan pertandingan telah usai ditentukan oleh Wiragni, mentor naga api yang bertugas menjalankan pertandingan di sana. Semua murid dikumpulkan di sana. Mereka berbaris sesuai dengan tim masing-masing. Barisan pertama diisi oleh ketua tim, selanjutnya para anggota tim. Lembaran kertas hasil perumusan dibagikan kepada masing-masing anggota.
“Anak-anak, tolong baca aturan yang ada. Jangan sampai ada dendam dan jangan berbuat curang. Kalian punya waktu satu menit untuk mengatur strategi. Lakukan sekarang,” kata mentor naga api.
Kedelapan tim yang beranggotakan lima sampai tujuh orang tersebut mulai berpencar menuju ke tempat duduk masing-masing. Mereka membentuk sebuah lingkaran dan menentukan siapa saja yang akan maju sertta perkiraan lawan tanding. Kesepakatan telah terjadi, mereka meneriakkan sebuah kata penyemangatan sesuai dengan tim masing-masing.
Anggota tim telah ditentukan. Kini waktunya tim FDF maju ke depan. Yang menjadi perwakilan dari mereka adalah Nina, seorang perempuan berambut kuning yang paling menyukai Arsada. Sebuah tali diikatkan di rambut nan panjang agar bisa rapi dan mudah untuk digerakkan. Sedangkan yang menjadi lawan tanda seorang gadis berambut coklat dengan otot lebih besar daripada Nina. Kedua orang tersebut mengambil posisi yang telah ditentukan.
“Anak-anak, tertandingan akan segera dimulai. Kalian hanya lawan tanding saja, selebihnya tetap jaga persahabatan diantara kalian. Apa ada sebah pertanyaan?” kata Wiragni.
“Bu, apakah pertandingan ini berdasarkan tingkat shifter? Bagaimana jika tingkat mistik bertemu dengan tingkat hanya bentuk?” tanya Nina.
“Tak ada perbedaan antar tingkat shape shifter. Dalam pertarungan segala kemungkinan bisa saja terjadi. Dulu aku pernah kalah melawan manusia biasa dan tak hanya sekali,” kata Wiragni.
“Terima kasih Bu, aku semakin yakin bisa mengalahkan Nina dengan sekali serang,” kata perempuan pemakai rok panjang dengan baju tanpa lengan.
“Oh ya, kita ini bertanding beladiri, buka busana,” kata sindir Nina.
“Kalau ini bagaimana?” Sesosok yang ada di depan mata Nina berubah wujud. Ekor besar terbentuk sebagai sebuah ganti kaki. Kedua tangan berubah dengan penuh sisik. Di pergelangan tangan perempuan tersebut ada sebuah taring tersembunyi. Belum lagi bagian kepala terdapat beberapa benda seperti mata berwarna merah yang menyala terang.
“Medusa, shifter ular pembeku. Bu, dia shifter mistik. Nina bukan tandingannya dan izinkan aku saja yang bertanding,” kata Angelian sedikit keras.
“An, tak perlu lakukan itu. Cukup aku saja yang melawan Salwa,” kata Nina dengan mengisyarakat sebuah tangan kanan sebagai simbol untuk berhenti.
“Nin, kau bisa kalah. Mundur saja.”