“An, kau jangan banyak bicara. Aturan tetap aturan. Aku tak peduli kalah atau menang. Ini bukti kesungguhanku kepada naga. Kau jangan bicara lagi.” Nina berkonsentrasi dan berubah menjadi platipus berwana kuning tertutup bulu coklat nan panjang. Tubuh perempuan tersebut berkurang drastis hingga berbobot 16 kilogram saja dan tinggi kurang dari satu meter. Kedua tangan menyentuh lantai. Tubuh telah siap untuk menerkam.
“Nin, mundur saja dan masuk ke dalam akuarium,” sindir Salwa.
“Bicaranya sudah atau belum?” tanya Wiragni.
“Sudah, Bu,” jawab kedua murid tersebut.
Peluit ditiup, tanda pertandingan telah dimulai. Beberapa sinar laser pembeku ditembakkan dari kepala Salwa. Berkali-kali di manusia ular mistik tersebut menembakkan sinar laser dan selalu saja meleset. Arah koordinasi gadis tersebut sangat buruk serta pergerakan yang lamban. Dari segala tembakan hanya satu yang mengenai sasaran, itupun ekor dari platipus.
Nina terus saja berlari sambil mencari sebuah titik kelemahan. Keempat anggota gerak mempercepat setiap langkah yang diambil. Ekor yang kaku bukan masalah yang berarti. Dia pun baru menemui masalah yang serius saat mendekati Salwa. Tubuh si platipus jauh lebih kecil daripada manusia ular. Nina melompat ke atas ekor tersebut. Kedua kaki depan mencabik ekor Salwa.
Terserang menciptakan rasa sakit tersendiri bagi Salwa. Dia menggerakkan ekor sehingga sesosok platipus terpental akibat dari gerakan tersebut. Nina mundur beberapa meter. Cakar yang ada di keempat anggota gerak menahan arah laju tersebut.
“Nina, kau tak akan menang. Menyerah saja,” saran Angelia.
“Betul kata temanmu,” sahut Salwa.
“An, jika melawan ini saja aku tak mampu, lalu bagaimana jika aku bersama dengan Arsada untuk selamanya?” Tak peduli apa yang terjadi, Nina terus berlari sambil menghindari. Serangan yang begitu acak dihindari si platipus. Lompatan dilakukankan dan kaki depan sebelah kiri terkena laser. Nina tak bisa menggerakan tangan tersebut. Serangan masih tetap berlagsung dengan paruh seperti bebek. Meski sederhana mampu membuat Salwa kesakitan.
Kedua kaki belakang platipus menendang tubuh si manusia ular. Langsung saja gadis itu berlari menghindari setiap laser yang dipancarkan. Semua kaki sudah bisa digerakkan, Nina berlari lebih kencang dan mengincar bagian punggung si manusia ular.
“An, kau yakin jika Nina akan kalah? Akurasinya itu loh, tak terarah sama sekali. Apalagi gerakannya Salwa lamban sekali seperti siput,” kata Antika.
“Dia ular, sayang. Kalau aku yakin mengapa juga aku suruh dia mundur. Nina hanya bisa mengelak sambil memberikan serangan tak berarti sama sekali. Ibarat kata semui melawan kucing,” kata Angelia.
“Hello, aku ini shifter kucing. Meong meong,” canda Antika.
“Ya maksudku tidak sebanding sama sekali. Dan terima kasih atas antingnya, aku suka sekali. Akan aku tunjukkan kepada Arsada.” Angelia memamerkan benda pemberian dari Antika.
“Pinjam Mbakyu, nanti harus dikembalikan. Kalau kamu suka tak apa-apa, ambil saja.”
Puluhan kali Nina berhasil menghindari sinar laser yang membuat tubuh menjadi kaki. Kaki belakang yang menjadi kaku karena terkena sinar laser tak digubris sama sekali. Dia masih melompat dengan menggnakan ekor seperti bebek yang cukup lebar kan kuat. Cakar tajam disertai dengan cengkraman yang kuat digunakan untuk memanjat tubuh si manusia ular. Ekor digunakan sebagai gaya loncat agar bisa melompat. Tangan Salwa berhasil diraih. Dia memutari tangan tersebut. Gaya ayun sudah tepat, Nina melepaskan tangan tersebut dan melayang langsung menuju ke wajah Salwa. Cakar ganda siap untuk membuat rusak wajah ular. Sayang, dia terkena sinar laser terlebih dahulu hingga tak bisa menggerakkan kedua tangan yang menjadi bagian kaki depan pada wujud platipus. Dia hanya bisa menimpa wajah Salwa dengan badan yang masih kaku. Kedua gadis tersebut ambruk ke tanah.
Kaki sudah bisa digerakkan kembali. Nina menendang Salwa berkali-kali dengan kaki sebelah belakang. Sayang, dia sendiri malah terpental mundur beberapa meter karena terkena sabetan dari ekor ular. Untung saja dia masih bisa menahan laju hingga bisa berhenti.
Nina masih saja belum menyerah. Ekor digunakan untuk bisa melompat menghindari sinar pembeku sebelum berlari kencang. Gerakan zigzag mampu membuat Salwa kesulitan untuk menyerang. Nina terus berlari mendekat pada si manusia ular tersebut. Keempat anggota geraka sudah normal kembali, dia berlari dengan sangat kencang. Ekor ular berhasil dihindari, dia terus maju. Bahkan tinjuan yang dilayangkan Salwa digunakan sebagai lompatan. Gadis itu melayang di udara. Keempat cakar, ekor dan patuh silih bergantian menyerah Salwa. Untuk mewaspadai sinar pembeku, Nina mengorbankan ekor platipus. Serangan terus dilancarkan. Sayang, dia tertimpa ekor ular. Sebuah kibasan membuatnya mundur beberapa meter.
Puluhan tembakan laser pembeku mengarah kepada Nina. Lari menghindari selalu dilakukan. Hanya saja kali ini dia terkena laser di kepala. Tiada satu pun alat gerak yang bisa dikendalikan. Nina berhenti untuk beberapa saat.
“Lihat itu Antika, Nina sudah kalah,” kata Angelia.
“Belum tentu, aturan kalah bukan kaku tapi terjatuh terlalu lama, terluka atau keluar dari arena,” sangkal Antika.
Salwa si manusia ular mendatangi Tubuh yang masih kaku tersebut. Ekor digunakan untuk menyingkirkan Nina. Namun, pertahan Nina tak sampai segitu saja. Dia masih bisa menahan dengan paruh mirip bebek. Otot di kepala sudah bisa difungsikan walaupun belum sempurna. Gadis tersebut masih bisa bergeraka dengan menggunakan ekor.
Kepala sudah bisa berfungsi kembali. Nina berlari dikejar sinar pembeku. Namun tenaga yang digunakan sudah terlau banyak sehingga kecepatannya menurun. Ekor terkena laser, gadis itu tak peduli. Dia tetap terus berlari ke depan sambil mencari celah untuk menyerang. Ujung ekor ular digigit dengan sangat erat dan dia terlempar ke atas sesuai dengan yang direncanakan. Sayang, kali ini Salwa berhasil memegang tangan tersebut.
“Kau sekarang tak akan bisa kemana-mana,” kata Salwa.
Keempat anggota gerak platipus melancarkan sebuah cabikan ke tubuh Salwa. Dengan kecepatan tinggi, Nina terus menyerang. Tubuh terlepas, Nina melakukan sebuah jegalan. Tenaga yang dimiliki tak mampu menjatuhkan Salwa. Dia melompat tapi kaki depan terkena sinar pembeku cukup banyak. Sebuah tinjuan membuat dia melayang jauh.
“Nin! Menyerah saja!” teriak Angelia.
“Tidak An, aku tak mau mempermalukan diriku dihadapan saudaramu!” teriak Nina.
Hanya tinggal kaki belakang saja yang bisa digunakan sebagai penggerak. Dia berbalik dan menggunakan parah hingga bisa mengangkat dirinya sendiri. Nina masih saja berlari untuk menyerang Salwa. Sebuah sinar laser sebuat kaki belakang kanan kaku. Gadis itu tetapa tidak menyerah dan terus mencari waktu yang tepat untuk menyerang. Kaki belakang kiri juga kaku. Masih sempat Nina untuk melompat dengan menggunakan ekor. Hanya saja serangannya kali ini meleset. Malah Nina yang terjatuh terkena sinar pembeku sehingga tak bisa bergerak lagi. Tubuh kecil tersebut diinjak Salwa yang sudah menjadi manusia biasa. Nina kalah dalam pertandingan ini.
Angelia dan Janisha masuk ke dalam arena tersebut. Mereka berdua membangunkan Nina yang masih kaku walau sudah dalam wujud manusia. Kotoran yang ada di baju dibersihkan dengan tangan.
“Nin, sudah kubilang kan kalau kau tak akan bisa menang,” kata Angelia.
“An, aku sudah menang. Cuma kalah di dalam pandangan kalian dan para mentor,” kata Nina yang masih dibopong kedua temannya.
“Hai, kalau kalah mengaku saja. Terima kenyataan dan jangan berhalusinasi!” teriak Salwa yang tidak terima atas sikap Nina.
“Lihat wajahmu!” teriak Nina.
Salwa penasaran atas apa yang diucapkan Nina. Sebuah cermin diambil, berbagai garis merah menghiasi wajah. “Nina!” teriaknya dengan penuh kemarahan. Gadis itu berubahan menjadi manusia ular dan menembakkan beberapa laser pembeku. Namun yang kena malah murid lain.
Tak terima atas apa yang dilakukan Salwa, beberapa murid datang mendekati manusia ular tersebut. Salwa menjadi panik. Laser tanpa arah ditembakkan tanpa arah sama sekali. Sayang, dia sendiri harus merasakan tubuh yang aku akibat terkena serangan sendiri melalui pantulan sebuah cermin. Para murid lain sudah berubah menjadi bentuk shifter masing-masing. Mereka semua bersiap untuk menghajar Salwa. Namun terdapat sebuah api berwarna biru.
“Anak-anak, tolong hentikan ini semua. Masalah Salwa biar petugas yang tangani. Kita lanjutkan saja pertandingannya,” kata Wiragni yang berubah menjadi naga api.
Beberapa petugas keamanan datang untuk menangkap Salwa. Senjata khusus digunakan agar shifter tersebut bisa kembali menjadi manusia dan terlumpuhkan. Mereka membawa keluar perempuan tersebut.
“Nina, taktikmu bagus juga. Tak kusangka kau memikirkan cara seperti ini,”puji Angelia.
“An, sebenarnya niatku hanya untuk merusak wajah Salwa saja. Yang aku tahu Salwa itu akan bertambah kuat jika bersama dengan Arsada dan aku akan tersingkirkan. Dengan begini sainganku berkurang satu,” ucap Nina.
“Apa?”