Beberapa pertandingan telah berlalu. Kini giliran Angelia aju sendiri ke depan. Gadis tersebut harus berhadapan dengan seseorang murid yang berbadan agak besar.
“Angelia, aku tahu kau saudarinya naga elemental. Akan aku balas kekalahan orang tuaku di pertarungan itu, Pertama, mengalahkanmu terlebih dahulu. Selanjutnya membasmi naga elemental,” ucap seorang perempuan dengan penuh kesombongan.
“Kau yakin?” Angelia berkonsentrasi dan menjadi faily bersatap enam dan bertangan empat. Tubuhnya menyusut hanya setinggi setengah meter dan beratnya hanya dua kilogram saja.
Hal ini berbanding berbalik dengan perempuan yang menjadi lawan tanding Angelia. Sesosok gading yang mengenakan celana pendek tersebut berubah menjadi kelelawar sehingga dua meter dengan bobot lebih dari satu kuintal. “Bagaimana?” tanyanya. Kedua mata menunjukan sebuah sikap kesombongan.
“Tubuh besar belum tentu bisa menang,” kata Angelia. Keempat tangan sudah dipersiapkan untuk menyerang.
“Kau begitu serang aku terlebih dahulu.”
Empat tangan dan dua kaki shifter fairy mengeluarkan cahaya. Langsung saja sinar tersebut mengarah pada tubuh si kelelawar. Dua dari sinar tersebut terarah ke mata kelelawar dan langsung membuat silau. Angelia terbang tinggi sambil menghindari angin serta tangan dari kelelawar raksasa tersebut. Wajah si kelelawar budah berada di depan mata. Sejumlah serbuk ditaburkan.
Butiran benda asing tersebut terhidup dan masuk ke dalam hidup si kelelawar. Sensor merespon benda tersebut. Otak memberi tanggapan untuk mengeluarkannya. Bersin pun terjadi. Gadis tersebut mendur beberapa meter.
“Bu, Angelia curang. Dia menggunakan benda beracun,” protes seorang siswi.
“Tidak,serbuk bukan zat berancum tapi bisa mengakibatkan alergi dan itu tidak dilarang. Sama halnya dengan api, es, racun, listrik, angin, cahaya dan aura kegelapan,” jawab Wiragni.
“Enak sekali dia bisa mempunyai banyak cara untuk bisa menyerang,” kesal siswi tersebut.
“Bersyukurlah dengan apa yang kau miliki. Kembangkan dan kuasi itu.”
Penglihatan si gadis kelelawar letak normal kembali. Mata iang berwarna merah tersebut terfoku pada Anglia si fairy. “Dasar kau ini!”teriak gadis tersebut sambil membentangkan sayap selebat lebih dari lima meter. “Rasakan itu,” imbuhnya sambil terus mengepakkan sayap.
Angin cukup besar tercipta di sana. Benda ringan mulai melayang tinggi ke udara, termasuk juga kain yang kenakan para murid dan mentor, terutama para perempuan yang mengenakan rok mini. Mereka memegang pakaian agar tak tertiup angn.
“Ketua kita cerdas juga. Kau petarungan seperti ini ada laki-laki kita tak akan malu,” kata Antika. Dia dan para anggota FDF membentangkan tangansambil menikmati angin tersebut. Meskipun rok dan baju melayang, mereka tak peduli sama sekali. Masih ada kain yang menutupi kulit mereka. Pita dilepaskan dan rambut terurai mengikuti arah angin.
Kepakan sayap telah berakhir, angin pun hilang seketika. Seluruh benda yang terbang di udara kembali jauh, kecuali dengan Angelia. Gadis itu masih bisa terbang dengan anggun di udara sambil menyalakan kedua tangan. “Sudah puas,” kata makhluk dengan warna merah muda dan putih tersebut.
“Hai, kenapa kamu tidak jatuh tertiup angin? Seharusnya kamu sudah keluar dari arena,” tanya si kelelawar keheranan.
“Mudah saja, hindari angin dan cari ruang hampa,” jawab Angelia.
Kedua sayap kelelawar kembali mengepak. Gafdis tersebut terbang hingga hampir menggapai tubuh Angelia. Lagi-lagi dia harus terkena serbu dan berin hingga mundur ke belakang.
Tiada kesia-siaan Angelia melewatkan sesempatan yang ada. Cahaya termbangkan dari keempat tangan langsung mengarah pada mata kelelawar. Si fairy terbang dan langsung menyerang bagian leher. Namun Wiragni datang terlebih dahulu dan mencegah hal tersebut.
“Anak-anak, dilarang menyerah orgn vital. Hanya boleh angota gerak, kepala, badan dan anggota tambahan. Dilarang menyerah mata, menaruk rambut atau buku dan menggigit,” kata Wiragni.
“Maaf Bu, saya lupa.” Angelia terbang mundur beberapa meter.
Si kelelawar sudah bisa melihat lagi. Dia terbang mengejar fairy yang tentu saja kabur menghidari makhluk yang jauh lebih besar. Kecepatan yang dimiliki si kelelawar sebenarnya lebih cepat. Namun dia kalah akselerasi dengan Angelia. Saat berada di udara, gadis itu hanya bisa menggunakan kedua kaki dalam keadaan terbang. Itupun pergerakannya sangat terbatas. Dia pun menggunakan kekuatan angin untuk menghempaskan.
Tubuh Angelia terlalu rapuh terkena angin besar. Hampir saja dia menabrak langit-langit ruangan akibat arus angin yang sangat kuat tersebut. Angin bisa keenam sayap digerakkan dan membuat daya dorong tersendiri. Sinar dipancarkan secara acak yang membuat si kelelawar sedikit kebingungan. Si rival telah terkena sinar lagi dan mengalami kesilauan, saat yang untuk Angelia maju dan menyerang. Tendangan demi kendalan dilancarkan. Dikarenakan tak boleh menyerang bagian vital, serangan yang dilakukan tidak berarti sama sekali. Hanya serbu sari yang bisa digunakan untuk menjatuhkan gadis kelelawar tersebut. Area tersbut penuh serbu dan si kelelawar turun ke lantai lagi karena tak tahan alergi.
“Anak-anak, kalian jangan menyentuh benda apapun atau dinyatakan akan kalah. Peraturan di tanah berbeda dengan di udara,” kata Wiragni.
“Terima kasih Bu.” Angelia langsung memancarkan cahaya sambil terbang sangay rendah. Tak lupa juga bentuk ejekan secara lesan dan visual diperlihatkan.
Si kelelawar terpancing dengan siasata yang digunakan Angelia. Dia sangat terseinggung dan marah. Kedua sayap dikepakkan, gadis itu terbang sangat rendah untuk mengejar Angelia. Terjadi saling adu kecepatan di udara.
Angelia terus terbang merendah sambil bermanuver cepat dan sudut sempit yang mana itu sulit dilakukan jika memiliki tubuh. Dia terus terbang melewati beberapa murid lain yang tidak sedang bertanding. Bahkan sebuah banhku kosong berhsil dilewati tanpa menyentuh sedikit. Dia terbang terus merendah dengan ketinggian beberapa centimeter saja. Dengan demikian si kelelawat tak mampu untuk mendekat. Gadis itu hanya merasakan hembasan angin saja. Cahaya silau ditembakkan, giliran si kelelawar menghindar. Kesempatan yang bagus ini dimanfaatkan untuk kabur saja.
Pertarungan udara diwarna dengan sebuah kecurangan. Beberapa murid sengaja mengarahkan sinar laser untuk mengganggu pergerakan di fairy. Tentu saja ketiga anggota FDF tidak terima itu. Mereka menghadang sinar laser tersebut. Rebutan benda pun terjadi di sana. Saling tarik rambut terjadi di antara kedua orang tersebut. Kedatangan sesosok tiranosaurus mampu menghentikan mereka semua.
Valara kembali ke dala wujud manusia. Dia berjalan begitu santai. Beberapa tangan murid yang ada di sana dijabat. Tak jarang dia juga mendapatkan kecupan manis. “Aku memang ingin bertarung dengan Arsada. Tapi aku benci dengan petarungan seperti ini. Hentikan atau aku terpaksa menghadapi para gadis cantik,” katanya.
“Valara, ada perlu apa?” tanya Wiragni.
“Aku mau melihat bertandingan saudari dari naga elemental. Sedetail mungkin pola dan informasi sangat berguna untukku,” kata Valara.
“Bermain laser hukan larangan di sini. Jadi kami tak melakukan sebuah kecurangan,” sangkal seorang murid.
“Mengganggu orang yang sedang bertanding sebuah kesalahan. Buka bukumu,” kata Valara.
“Tapi…,” kata seorang siswi terputus.
“Kalian hentikan kegiatan ini atau akan aku coret dari daftar pertandingan,” ancam Wiragni.
Semua murid yang sedang bertikai duduk kembali ke tempat mereka masing-masing. Mata saling memandang kekesalan pada lawan kubu sambil mengisyaratkan sebuah tanda mau bertarung.
Masih juga Angelia main kejar-kejaran dengan si gadis kelelawar. Meski sudah terbang sangat rendah dan terlalu rendah, dia juga bisa terdesak. Kini si fairy sedang terpojok di sebuah tembok. Cahaya di tangan digunakan untuk membuat penglihatan si kelelawar terganggu. Selain itu, serbu sari telah bertauran di udara. Angelia bisa kabur dari sana dengan bebas. Dia meleset meninggalkan si kelelawar yang sedang alergi dengan serbuk sari. Sebuah pintu dibuka dengan sangat mendadak dan gadis tersebut tidak bisa menghindar sama sekali. Dia menabrak pintu dan terjatuh ke lantai. “Aduh, “ keluhnya sambil kembali menjadi manusia biasa dan dinyatakan kalah.
“An,” kata Janisha sambil berlari mendatangi sesosok yang masih terjadi. “Kau tidak apa-apa kan?” tanyanya.
“Aku baik-baik saja. Aku kurang waspada saja,” jawab Angelia.
Ketua tim FDF bergabung dengan para anggota yang lain. Sebuah handuk digunakan untuk mengelap tubuh yang bercucuran dengan keringat. Segelas air digunakan untuk menyegarkan tubuh yang sudah dahaga.
“An, tak kusangka kau hanya bisa dikalahkan dengan kecurangan ganda. Memang perempuan itu agak perlu sedikit pelajaran. Andai ini peperangan di lapangan kau pasti yang menang,” kata Valara.
“Sudahlah, kau simpan ini untuk lain kali saja. Jangan beri tahu Arsada jika aku dicurangi sebanyak dua kali. Bisa-bisa Arsada mengamuk dan akan ada yang berakhir selamanya di sini,” kata Angelia.
“Tunggu dulu, seingatku Angelia dicurangi dengan sinar laser saja. Yang kedua kalinya apa?” tanya Nina.
“Nanti akan aku buktikan. Memang aku ini nakal dan suka memaksa kehendak pada orang lain. Tapi aku tak mau melakukan sebuah kecurangan. Curang membuat kalian akan melemah dan rapuh.” Valara berbalik arah meninggalkan rombongan Angelia. Dia berjalan dan membisikkan sesuatu kepada Wiragni sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut. Wajah kembali melihat si anak panti tersebut dengan berteriak, “Jika kau sempat saksikan pertandinganku di ujung nanti!”
***
Di dalam tempat tertutup Arsada menyaksikan segala pertandingan yang dilakukan oleh para siswa. Dia sangat geram ketika mengetahui jika saudarinya kalah karena dicurangi. “Kalian semua, tunggu aku keluar. Pembalasan yang pedih akan aku berikan kepada kalian semua,” ucapnya dengan nada tinggi. Arsada berubah menjadi naga dan menyemburkan energi sangat banyak. Bahkan tanpa sengaja dia menyemburkan listrik dan es.