Kegalauan yang Luar Biasa

1350 Words
Valara maju ke depan dan langsung dalam wujud tiranosaurus. Tanpa menggunakan gigi ataupun tangan, dia menginjak-injak seorang shifter tipe bola. Tendangan kuat dilakukan sehingga si bola melayang tinggi menatap ke langir-langit ruangan sebelum jatuh ke lantai dan kembali menjadi manusia biasa. Valara kembali menjadi wujud manusia dan dinyatakan sebagai seorang pemenang. “An, kau yakin naga kita bisa menang melawan raksasa brutal itu? Jika tak ada larangan untuk menggigit aku khawatir naga kita akan kalah,” kata Nina. “Kau belum tahu kekuatan adik manisku. Arsada tak akan mati meski kejatuhan sebuah meteror.” Angelia berbalik arah sambil mengisyaratkan para anggota FDF untuk pergi dari tempat tersebut. Beberapa langkah telah mereka tempuh. Namun mereka tidak bisa keluar dari ruangan tersebut karena terhalang oleh para lelaki yang ada di sana. “Mas mas yang ganteng, tolong minggir. Kami numpang lewat,” kata Janisha. “Kau adiknya naga kan, kau tak boleh lewat sebelum beritahu kami apa kelemahan Arsada atau kalau beri kami sedikit kesenangan,” kata seorang lelaki sambil menunjuk ke wajah Angelia. “Perlu kau ketahui, kelemahan Arsada cuma satu yaitu kakaknya sendiri alias aku.” Angelia berubah menjadi sesosok fairy bersayap enam dan bertangan empat. Cahaya sudah menyala di telapak tangan. “Baguslah, mari kita tangkap fairy itu,” kata seorang lelaki sebelum berubah menjadi panda. Beberapa lelaki di sana berubah menjadi bentuk shifter masing-masing. Tak mau kalah begitu saja, para anggota FDF berkonsentrasi menjadi wujud shifter masing-masing. Tatapan mata tajam telah mereka hadirkan. “Jika kalian mau melawan maka aku akan layani,” kata Antika. Ekor dari tiranosausur rex datang di tengah sengitnya aduh argumentasi, tatapan mata serta otot antara dua jenis gender yang berbeda tersebut. Dengan demikian kedua kubu mundur beberapa langkah. Namun persiapan dan persaingan antara mereka masih sangat sengat. Valara kembali menjadi manusia biasa. Dia berjalan sehingga berada ditengah pertikaian tersebut. “Biarkan saja mereka lewat.” Katanya. “Val, dia itu adiknya. Kita tangkap saja dia dan jadikan sandera,” kata seorang lelaki yang baru menjadi manusia biasa. “Kau pikir dengan menangkap adiknya Arsada melemah? Apa kau ingin aku memukul Arsada sambil mengancam Angelia? Bukan itu.” Amarah Valara memuncak. Tanpa terasa dia memukul seorang lelaki. “Lalu kau maunya bagaimana?” tanya seorang lelaki dengan nada tinggi. “Dengar ya, aku mau mengalahkan Arsada dengan cara yang jujur. Satu lawan satu atau tidak sama sekali,” kata Valara. “Val, kau bisa kalah sekali sembur. Kau akan kalah sekali lumat. Lebih baik gunakan umpan dan kita pukuli secara bersama-sama,” kata laki-laiki yang lain. Kesabaran Valara sudah memuncak. Tangan kanan digunakan untuk mengangkat lelaki tersebut sebelum dibanding ke lantai. Sebuah tinjuan hendak dilayangkan. Namun dia menghentikan kegiatan itu karena terhalang oleh fairy. “Val, hentikan saja. Kau mau seperti adikku? Jika mau melawan nagaku sebaiknya hindari pertarungan yang tak perlu dan tetap berlatih,” kata Angelia. “Kau benar. Silahkan pergi sebelum aku mengamuk.” Valara melepaskan pria yang dibanting di lantai. Lelaki itu kembali melihat pertandingan. Sementara itu tim FDF pergi dari tempat tersebut. Hari pertandingan telah usai. Segala kegiatan pelajaran kembali dilaksanakan sebagaimana mestinya. Pagi latihan fisik, sore pelajaran biasa. Malam hari pun ada tugas. Semakin lama pelajaran semakin sulit dan bisa membuat pusing kepala. Apalagi ujian yang diadakan seminggu sekali seperti sebuah perjuangan tanpa ampun. Beberapa siswa ada yang frustasi dengan keadan di dalam akademi tersebut. Ada yang jatuh sakit, ada juga yang membolos. Tak jarang ada yang menyakiti diri sendiri agar bisa terbebas dari sana. Ada juga yang nekad untuk meloloskan diri walaupun berakhir dengan kegagalan. Bahkan beberapa dari mereka nekad meloloskan diri dengan mengeluarkan nyawa satu-satunya. Hal yang serupa dilalui oleh Nina. Baru kali ini dia merasakan kelelahan yang luar biasa. Tubuh masih lemas harus dipacu untuk menyelesaikan tugas hari itu juga. Tumpulan buku ditaruh di atas sebuah meja.Dia berjalan ke atas atap gedung bersama dengan murid yang lain. Di bawah sinar rembulan, satu per satu para siswa terjun bebas dari atas gedung tersebut. Rembulan kuning setengah pase menyinari pemandangan yang mengerikan tersebut. Nina masih saja berjalan menuju ke tepi gedung tersebut. Dia terhenti dan memandang ke arah langit. Kumpulan bintang dikubungkan sesuai dengan imajinasi yang dimilikinya. Nina duduk di sana sambil membayangkan sebuah bentuk naga yang menjadi idaman selama ini. “Nina, jangan kau akhiri kehidupanmu! Arsada masih ada!” teriak Angelia yang datang menyusul dalam bentuk fairy. “An, aku tak mau berakhir seperti yang lain. Aku ingat kok, naga kita masih di sana,” kata Nina sambil menoleh ke belakang. “Lho, bukannya kau di sini agar bisa keluar dari penderitaan ini?” tanya Angelia. “An, kau itu jangan lemah. Meski aku sebelumnya manja, aku harus kuat. Ini semua demi Arsada. Jika kita berakhir di sini dengan tanpa nyawa maka Arsada pasti mengamuk dan menghancurkan tempat ini,” jawab Nina. “An, kamu jangan terlalu lebay. Kamu sendiri pernah datang ke tempat ini,” sindir Rosmina. Gadis tersebut berbaring dan memandang bintang. “Dan kau tak lebih peduli kepada yang katanya adik manismu. Dasar kakak akuan saja,” sindir Antika juga. “Eh, aku punya akses bebas untuk menemui Arsada bagaimana kalau kita ke sana,” ajak Angelia. “Besok saja, besok kita libur. Tidur dan tanggal merah menyelamatkan kita dari frustasi.” Pagi hari telah menjelang. Hari itu tiada pelajaran dari pagi hingga siang. Kesempatan yang bagus untuk para siswa mengistirahatkan diri. Kesempatan nan singkat harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin. Namun, beberapa dari mereka malah menyibukkan diri dengan hal yang sebenarnya tak perlu. Ada guna yang melakukan pertarungan secara sembunyi-sembunyi, ada juga yang melakukan permainan yangt menguras otak dan tenaga. Banyak juga kegiatan yang tak diperlukan yang mana menguras tenaga atau menjadi beban otak secara berlebihan. Seperti kesepakatan semalam, Angelia bersama dengan anggota FDF mendatangi tempat Arsada dikurung. Sejumlah makanan serta baju yang bergambarkan kesukaan Arsada dibawa. Tanpa perlu izin atau apapun, mereka langsung masuk ke dalam sana. Sedikit pemandangan tak biasa terjadi di sana. Api yang menyala terlihat dari dalam tempat tersebut. Angelia merasakan sebuah kekhawatiran. Dia berubah menjadi fairy dan masuk melalui sebuah lubang ventilasi. Yang terlihat Arsada sedang menembakkan bola api dalam wujud naga. “Arsada, kukira kau mengamuk lagi,” katanya. “Aku sedang bosan. Sudah tiga hari tak ada siapapun yang ke sini. Aku hanya diberi setumpuk makanan kemasan yang bisa bertahan selama seminggu,” kata Arsada sambil membentuk bola api. “Apa? Di saat yang lain sedang pusing memikirkan pelajaran kau malah bosan. Kau merasa enak di kurungan ini.” Angelia sedikit sebal dengan apa yang diutarakan Arsada. “Yang terjadi di luar sana apa? Sumpah, aku tak tahu itu,” tanya Arsada. “Temui temanku dahulu. Nanti akan aku ceritakan kabar di akademi saat kita berpisah hingga hari ini.” Arsada kembali menjadi manusia biasa. Dalam keadaan yang masih berkeringat, dia menemui para perempuan yang menjenguk dirinya. Pertandingan antar tim menjadi topik pertama. Segala cerita serta keluhan para siswa pun di dengarkan naga itu dengan seksama. Tak jarang dia mendengarkan keluhan dari para perempuan tersebut. “Teman-teman, aku punya sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepada kalian,” kata Arsada sambil berubah menjadi naga. “Apa itu?” tanya seorang perempuan. Kedua sayap dikepakkan. Energi angin yang terjadi dikumpulkan dan berubah menjadi sebuah bola energi. Sedikit api disemburkan hingga bola menyala dengan warna merah kejinggaan. Sebuah trik mulai dimainkan bola tersebut dilemparkan keatas sebelum kembali karena dikendalikan dengan angin yang tentu saja di bawah kendali Arsada. Permainan api yang dilakukan naga tersebut menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi para wanita yang ada di sana. Secara sadar mereka melakukan tepuk tangan. Namun, ada yang kurang dari tempat tersebut. Angelia mematikan lampu yang ada di sana. Bola semakin terpancar lebih terang. Kilau keindahan semakin menawan hati bagi siapa saja yang melihatnya. Kekaguman mereka semakin bertambah. Terlebih lagi naga tersebut mampu membuat sebuah gambar tertentu melalui dua buah api di dalam pertunjukan itu. “Arsada, kau hebat. Aku suka itu!” teriak Janisha. “Arsada, apa yang kamu lakukan?” tanya seorang mentor, Anwu. Semua murid yang ada di sana kaget. Arsada sedikit panik dan bola api langsung padam. Petunjukan di tempat tersebut selesai dan keadaan ruangan tersebut gelap gulita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD