Humor Naga

1227 Words
Rasa frustasi karena pelajaran menimbulkan kerepotan tersendiri. Tak hanya bagi para pelajar, tapi juga para staff akademi. Setiap minggu ada saja murid yang memutuskan untuk kabur dari akademi tersebut. Mereka harus memulangkan para murid kepada keluarganya mesti tanpa membawa nyawa. Hal ini juga dirasakan para mentor. Mereka setiap hari harus mendengar keluhan dari para perempuan, terutama yang dulu meinjadi anak manja. Hal ini membuat Anwu dan mentor lain tak sempat untuk mengunjungi Arsada. Dengan sangat terpaksa mereka meminta bernegosiasi dengan para staff akademi. Hasil dari kesepatan itu disetujui jika Arsada di beri makanan siap kemasan siap makan kapan saja tanpa perlu dimasak terlebih dahulu. Jatah satu minggu pun diberikan sekaligus. Itupun yang memberikan hanya petugas kebersihan. Lama kelamaan Anwu merasa bersalah. Dia merasa telah melalaikan kewajiban utama. Sebab itu dia menjenguk Arsada bersama dengan Karunia. Sedikit hal yang berbeda di sana. Lampu tempat si naga elemental terkurung padam. Yang terlihat bola api yang melayang indah di udara. Anwu dan Karunia tertarik akan hal tersebut. Karena itu Anwu berlari mendekat, sedangkan Karunia hanya bisa berjalan santai karena sedang membawa peralatan penting. “Arsada, kamu sedang apa?” tanya Anwu. Si naga elemental kaget. Bola api tak terkontrol sama sekali. Energi yang keluar tak seimbang sama sekali. Hal ini yang menyebabkan bola api goyah dan akhirnya padam. Sumber cahaya telah tiada, tempat tersebut gelap. “Pak, maafkan aku. Ini bukan kesalahan dari Angelia. Aku yang salah. Hukum aku jika perlu, tapi jangan mereka,” kata Arsada. Lampu dinyalakan Karunia. Wajah orang yang ada di sana sudah bisa dilihat dengan mata, termasuk Arsada yang telah kembali menjadi manusia biasa. “Arsada, kenapa kau melakukan ini dan sudah berapa lama?” tanya Anwu. “Semenjak para mentor jarang ke sini. Aku senang bisa sendiri tapi juga bosan jika tak ada yang mengunjungiku. Sebab dari itu aku belajar untuk menggunakan energi es. Tapi aku selalu gagal dan gagal. Akhirnya aku tekuni saja menggunakan bola api dan sedikit bermain untuk sebuah hiburan,” kata Arsada. “Hahaha, baru kali ini ada naga yang bisa melawak. Arsada, api digunakan untuk membakar bukan lucu-lucuan,” kata Karunia. “Arsada, di saat temanmu frustasi kau malah galau. Hidup ini sungguh aneh,” kata Anwu. “Tunggu dulu, coba tunjukkan lagi aksimu. Semoga saja dengan pertunjukan ini Arsada bisa cepat berbebas,” kata Karunia. “Dan juga merasakan penderitaan yang kakak cantikmu ini rasakan,” kata Angelia. “Sejak kapan kau menjadi kakakku? Usia kita sama,” sangkal Arsada. “Hai, tua aku seminggu tujuh jam tujuh belas menit. Jadi kau harus panggil aku kakak. Lagipula aku empat tahun lebih dulu ke panti dan ibu mengangkatku jadi kakakmu,” kata Angelia. “Hahaha,” tawa orang yang ada di sana. “Naga, cepat kau buat seperti tadi. Nanti aku rekam,” kata Karunia. Arsada kembali menjadi naga elemental. Keempat sayap dikepakkan dan menghasilkan energi angin yang bisa dikumpulkan utuk membuat sebuah bola energi. Shifter tersebut menyemburkan api sehingga bola kembali menyala berwarna merah kejinggaan dengan ukuran cukup besar. Bola tersebut dialiri angin hngga bisa terbelah menjadi dua. Arsada memainkan api tersebut sambil melihat kamera agar bisa terekam dengan sempurna. Pertunjukan api nan megah tersebut harus diakhiri karena dia lelah dan kelaparan. Anwu segera mengirimkan pesan kepada kepala sekolah berisi rekaman gambar gerak Arsada sedang memainkan api, begitu juga dengan rekaman suhu secara nyata. Berbagai alasan diutarakan. Hanya saja dia tak mendapatkan izin. Arsada tetap tidak diperbolehkan untuk keluar dari sana. “Arsada, aku minta maaf sebelumnya. Kau harus masih tetap di sini. Jika butuh apapun bilang saja pada orang yang terdekat,” kata Anwu. “Tidak apa-apa. Aku hanya butuh menununggu untuk dua bulan lagi. Setelah itu aku…, bisa bersama saudariku untuk menjadi prajurit terhebat dan menjaga perdamaian dunia,” kata Arsada. “Ar, kami pamit dulu. Lain kali aku akan ke sini. Tolong pakai baju pemberian dariku,” kata Nina sambil berpamitan. Semua orang telah pergi. Lagi-lagi Arsada tinggal sendiri. Kain pemberian para perempuan diambil dan dilihat. Sedikit senyuman saat melihat gambar tersebut. “Kau mengaku sebagai kakakku tapi tingkahmu mirip denganku. Angelia, ada ada saja,” katanya. Arsada melipat kain tersebut. Dia mengambil makanan pemberian dari FDF untuk segera dimasukkan ke dalam mulut. Hari-hari pun telah berlalu. Tiada seorang pun yang mengunjungi naga tersebut. Kegiatan seperti biasa telah dilakukan. Bahkan latihan menembak ala kadarnya sudah mencapai titik akurasi yang diperlukan sebagai sebuah batas bawah. Arsada mulai merasakan sebuah kebosanan. Bola api diganti dengan suhu yang agak rendah untuk membuat variasi serangan baru. Namun bola angin yang ada di tangan malah membeku. “Wow, aku temukan cara untuk menggunakan elemental es!” teriaknya yang tentu saja tak ada yang mendengar sedikit pun. Naga tersebut mencoba lagi dan berhasil. Kini sebuah metode baru ditemukan. Dia menembakkan kaleng dengan cairan yang membeku tersebut. Meski akurasi berkurang jauh, dia merasakan sebuah kesenangan. Air mineral dicampur dengan sepotong jauh disembur api hingga mendidih sebelum dibekukan sedikit. Arsada meminum cairan tersebut dan merasakan sebuah kenikmatan tersendiri. Arsada membuka lemari es. Sebungkus makanan dalam kemasan dibuka. Sepotong daging disembur hingga matang sebelum sedikit disemburkan dengan hawa dingin. Makanan sudah siap saja, dia enaruh di sebuah meja. “Terima kasih Tuhan, Engkau telah menganugerahkan kekuatan ini kepadaku meski aku harus kehilangan segalanya,” ucap syukur yang dipanjatkan sebelum makan. Latihan demi latihan dilakukan setiap hari dengan elemen yang baru dikuasai tersebut. Namun resiko yang harus ditanggung Arsada dengan kehilangan jatah makanan. Hingga suatu saat makanan di dalam lemari es telah habis. Tiada seorang pun yang ada di sana. Dia harus bisa menahan rasa lapar. Sehari semalam Arsada tak mendapat makanan. Tiada seorang pun yang ada di sana untuk memberikan jatah makan. Sebenarnya dia bisa saja memberontak tapi tak dilakukannya. Naga tersebut memilih untuk diam diri. Tiada latihan yang bisa dilakukan. “Cit cit cit,” suara dari hewan pengerat terdengar. Arsada berubah menjadi naga. Penglihatan panas dilakukan, hewan tersebut mulai dicari. Sensor panas telah ditemukan, beberapa kristal es ditembakkan mengenai beberapa sasaran. Arsada mengambil hewan tersebut. Api digunakan untuk memanggang hasil buruan yang tak seberapa. Rasa lapar membuat gelap mata, dia memakan hewan tersebut. Tak peduli dengan rasa apa dan kandungan apa pada hewan itu, yang penting dia bisa makan dan kenyang. Seekor hewan pengerat tak mencukupi untuk mengisi perut yang masih meminta rasa lapar. Arsada memanggap hewan yang lain dan langsung dimasukkan ke dalam perut. Lama kelamaan shifter tersebut menjadi keenakan. Hewan telah habis, kini dia mulai berburu lagi. Di suatu pagi Arsada hendak berburu kembali. Namun kala itu seorang mentor mengunjungi tempat itu dengan membawakan sebuah makanan. “Ar, aku minta maaf. Aku lupa untuk membawakan makan. Kamu pasti lapar,” kata Disti. “Tidak apa-apa, aku mengerti perasaan itu,” kata Arsada sambil mengambil satu kantong kresek besar makanan kemasan. Sepotong daging diambil dan dibakar. Segelas minuman mineral disembur higga sedikit membeku. “Ar, kau bisa elemen es?” Disti Raven terheran dengan kemampua yang dimiliki Arsada. “Iya Bu, mau?” tawar Arsada. “Tidak,” tolak Disti. Sepotong daging panggang dilahap dengan cepat. Lagi-lagi terjadi sesuatu. Tubuh Arsada mulai memanas. Sebab itu dia menyemburkan dirinya sendiri agar bisa menahan rasa panas. Namun dia sendiri malah membeku. Kepanikan membuat naga tersebut malah menyemburkan ruangan itu hingga membeku. “Jangan-jangan ada zat asing yang masuk ke tubuh Arsada. Aku harus mencari Karunia. Naga, kau yang sabar di sini,” katanya sambil berubah menjadi macan kumbang. Dia berlari meninggalkan tempat tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD