Gevarano merupakan seorang bangsawan di kerajaan tempat Arsada dan lainnya tinggal. Dia salah satu pemimpin penting dalam kerajaan tersebut. Namun dalam kepeminmpinannya dia memiliki sikap yang kurang menyenangkan. Keputusan yang dilakukan maih tergolong untuk proteksi dia dan kelompok elit.
Keadaan Eduardo yang berbaring di rumah sakit menimbulka sebuah kekecewaan yang mendalam. Tak peduli siapa yang memulai, dia menauh dendam kepada Arsada. Namun sedikit halangan yang ada di sana, Arsada ditempatkan pada kelas akademi khusus untuk para shifter. Tentu saja tempat tersebut sulit untuk tertembus karena milik wewenang pihak kerajaan secara langsung. Bahkan akademi tersebut menjadi tempat favorit pihak kerajaan. Menyerah secara fisik juga percuma. Bnayak shape shifter hebat yang menjadi mentor. Belum lagi pengamanan super tinggi.
Gevarano hanya bisa membayar seorang shifter yang memiliki kemampuan kamuflase terbaik, si wajah seribu. Shifter ini merupakan seorang lelaki yang memiliki dual tipe yaitu besi dan karet. Dia bisa berubah bentuk menyerrpai siapa saja. Bukan hanya itu saja, bahkan dia bisa menyesuaikan bentuk tubuh.
Kala itu banyak murid yang dipulangkan dengan karena telah kehilangan nyawa. Si wajah seribu melakukan sebuah penghadangan. Jalan tempat diperkirakan ambulans lewat dipasang ranjau paku. Tangan kanan berubaha menjadi besi, si wajah seribu menghantam dengan sekuat tenaga. Retakan aspal dibongkar dan dipasangi bahan peledak yang berisi ranjau paku. Aspal yang tercecer dikumpulkan kembali dan ditumpuk hingga bisa menyamarkan jalan tersebut. Dia sendiri duduk di tumpukan ban.
Sebuah penantian terbayar sudah. Sebuah ambulans terlihat dari kejauhan. Si seribu wajah tetap duduk santai. Tepat saat mobil itu berada di depan mata sebuah tombol di tekan. Ledakan terjadi, puluhan paku tersebar dan mengakibatkan bab mobil mengalami kebocoran. Seorang sopir ke luar dari mobil, si wajah seribu langsung menodong dengan tangan besi.
“Menyerahlah atau akan aku gali kuburanmu?” ancam si wajah seribu.
Ketidakberesan di luar mengundang beberapa orang untuk keluar. Mereka langsung menodong si wajah seribu dengan senjata listrik. “Kau yang harus menyerah, jumlah kami lebih banyak,” kata seorang anggota keamanan.
Satu jari isyarat dilakukan. Beberapa orang keluar dari perumahan di dekat sana. Mereka langsung berubah menjadi shifter ayam, kera dan manusia dengan struktur yang terbuat dari pegas. “Jadi, siapa yang sekarang menyerah?” tanya si kera.
“Tentu saja kalian.” Seorang petugas keamanan melemparkan senjata ke atas. Dengan berkonsentrasi penuh dia berubah menjadi ulat besar. Tubuh yang bisa memgubah warna membuat hipnotis tersendiri. Dengan mudah dia menjerak beberapa orang shifter dengan carian yang ada di mulut yang merupakan materi lengket. “Masih belum menyerah juga? Kalian telah melawan hukum dan kalian harus dilenyapkan di tempat,” kata perempuan berwujud ulat tersebut tersebut.
Si wajah seribu merampingkan badan hingga bisa keluar dengan mudah. Pedulu juga dengan shifter lainnya. Mereka bisa bebas dengan cara masing-masing dan segera kabur dari tembakan senjata pelontar listrik.
“Kau kira dengan begitu bisa mengalahkan aku,” kata wajah seribu yang masih santai dalam mode karet. Dia bisa melompat dengan bebas tanpa merasakan listrik sama sekali.
Si wajah seribu berbalik arah dan langsung melancarkan sebuah tinjuan yang membuah si ulat mundur beberapa meter. Tubuh berubah menjadi karet dan melakukan leompatan tinggi. Saat berada di udara dia berubah menjadi manusia besi dan langsung menghantam bagian perut si ulat hingga terluka parah dan kembali menjadi manusia. Sebuah senjata listrik diambil dan diarah ke shifter ulat yang kembali menjadi manusia. “Aku janji kau tak akan kehilangan nyawa jika mau menuruti keinginanku,” tawarnya.
Semua pihak petugas dari akademi tertangkap dan diikat dengan tali. Sebuah gua menjadi tempat untuk mereka. Sengaja sebuah pisau diletakkan di sana. Namun pintu gua ditutup dengan sebuah batu besar sehingga aparat kerajaan tersebut harus mencari jalan lain agar bisa keluara dari tempat tersebut.
Empat orang shifter menyamar menjadi petugas dari akademi. Mereka memakai segala atribut yang diambil dari petugas akademi, termasuk juga senjata listrik. Si wajah seribu memimpin operasi tersebut. Mobil milik akademi dinaiki, mereka mengantarkan jenazah pada keluarga yang terkait.
Tugas yang tak seharusnya telah mereka jalani. Mobil digunakan untuk kembali ke akademi. Sebuah hutan mereka masuki. Jalan nan sulit ditelusuri. Namun tak ada tanda dari akademi tersebut. Untung saja seorang dari mereka mendapatkan pean serta arah mavigasi. Dengan demikian mereka bisa menuju ke tempat yang benar.
Pengamanan di sana sangat ketat. Sebuah mobil diperiksa dengan seksama. Sebuah kejadian tak terduga di sana. Sebuah mobil diledakkan dan pemiliknya di hajar habis-habisan sebelum ditendang keluar dari akademi. Namun hal tersebut tidak menimbulkan rasa ketakutan di hati wajah seribu. Dia dengan santai menjalankan mobil melewati periksaan. Dia dan ketiga shifter turun dari sana. Sebuah identitas hasil rampasan digunakan. Wajah seribu bisa berbentuk sama dengan foto yang tertera. Dengan demikian dia bisa masuk tanpa mengalamni kendala.
Si wajah seribu dan ketiga shifter menyebar ke berbagai arah. Dia berjalan ke sebuah tempat di mana arsip para siswa dikumpulkan. Setiap baris nama diperiksa. Nama Arsada hanya ada satu, tapi ditandai secara khusus. Dia tak tahu tanda apa tersebut. Karena itu dia kembali berjalan dan menyamar sebagai seorang petugas kebrsihan.
“Mentor garuda, bagaimana keadaan Arsada di kurungan sana?” tanya seorang mentor.
“Jangan khawatir, ia baik-baik saja. Tak ada kendala apapun,” jawab Anwu.
Informasi sekecil tersebut sangat bergunakan bagi wajah seribu. Dengan langkah hati-hati sambil berpura-pura membersihkan tempat tersebut, dia memasuki ruang pengarsipan kembali. Untung saja rangan tersebut masih kosong. Sebuah komputer dibuka. Data mulai dicari. Keberadaan Arsada sudah diketahui. “Arsada, tunggu saja kematianmu,” katanya.
Malam hari telah tiba. Si wajah seribu berkumpul dengan ketiga temannya.
“Jadi begini rencananya, kita racuni Arsada. Aku akan menyelinap ke dalam koki. Kalian tunggu saja hasilnya,” kata wajah seribu.
“Hati-hatilah. Jika tidak maka kita dalam bahaya,” kata seorang shifter.
Pagi hari masih buta. Di saat jam tersebut belum ada siswa maupun staff akademi yang bangun, kecuali para penjaga malam dan koki. Si wajah seribu masuk ke dalam dapur umum tersebut. Dia berpura-pura memasak. Tangan kanan digunakan untuk memotong bumbu. Dia juga merebut air dan menanak nasi.
“Kak, enak sekali naga elemental. Sudah berbuat salah, tapi malah dapat fasilitas yang wah. Enak saja dia mendapatkan makanan kemasan. Kita di sini harus merasa kecapekan untuk melayani ratusan orang setiap hari,” kata seorang koki.
“Sudahlah, jangan mengeluh. Naga elemental sedang dilemahkan dengan dikurung ke dalam sebuah penjara. Pihak akademi sengaja memberi makanan enak agar dia terlena dan tak mau latihan,” kata koki lain.
Informasi yang terlihat tak sempurna tersebut sangat berarti bagi si wajah seribu. Nasi yang belum matang dibiarkan begitu saja. Dia keluar dari ruang untuk memasak tersebut.
Si wajah seribu kembali berubah bentuk. Kali ini dia mengawasi gerbang masuk makanan kemasan. Setiap informasi yang dibicarakan seseorang digunakan. Lelaki tersebut berubah wajah dan menjadi seorang petugas keamana. Dia dipercaya untuk membawakan sekantong makanan untuk Arsada.
Ketika sudah tak terlihat orang lain, dia berubah arah sedikit. Sebuah jarum berisi racun dikeluarkan. Isi dalam tabung tersebut diinjeksikan ke makanan satu per satu, termasuk juga minuman mineral. Beberapa tabung racun telah tersalurkan dengan sempurna. Si wajah seribu kembali ke jalur normal. Dia sendiri yang menyerahkankan makanan tersebut ke Disti Raven.
Lelaki tersebut masih mengikuti mentor macan kumbang yang membawakan makanan. Dia menyamar sebagai seorang petugas kebersihan. Dengan demikian wajah seribu bisa aman dan bebas melangkahkan kaki menikuti siapa saja. Ruangan tempat Arsada dikurung sudah terlihat. Kamera digunakan untuk mengambil foto tanpa ada rasa kecurigaan. Namun dia tak bisa masuk ke sana karena ada petugas lain yang sudah membersihkan tempat tersebut.
Dari balik sebuah dinding dia menguping. Teriakan dari Arsada terdengar sangat jelas. Sebab itu dia pergi sambil memberi kabar pada majikannya. Namun dia diminta tetap berada di sana untuk beberapa hari ubtuk memastikan apakah Arsada bisa kehilangan nyawa dengan racun atau malah sebaliknya.
Beberapa hari telah dilalui wajah seribu tanpa ada kabar atas racun yang meninpa pada Arsada. Yang diketahui malah kabar buruk tentang pencarian orang tega meracuni Arsada. Sebab itu dia tak keluar dari akademi dan memutuskan untuk meliha sendiri keadaan naga yang menjadi target sasaran.
Malam itu wajah seribu dan ketiga temannya menyelinap masuk ke dalam tempat Arsada dipenjara. Loteng tempat tikus beraktifitas mereka tempuh. Pelan-pelan merayap menyelusuri tempat nan sempit tersebut. Sebuah tempat lapuk dipijak, alhasil si wajah seribu terjatuh ke bawah, “Gedubrak!”