Target Naga

1123 Words
Arsada menyemburkan es ke seluruh bagian tubuh hingga hampir seluruh kulit naga tersebut membeku. Hal ini membuat sang mentor harus segera pergi dari tempat tersebut untuk mencari Karunia guna mengatasi segala racun yang ada di dalam kandungan tubuh naga. Di dalam kesendirian, Arsada bisa mengatasi rasa panas yang luas biasa. Api disemburkan ke atas sehingga alarm kebakaran terpicu dan air keluar dari sebuah keran pemadam. Angin dibuat dan dikendalikan sehingga menarik air yang ada di sekitar sana. Semburan api ditambahkan sehingga air berubah menjadi sedikit hangat. Hal ini menimbulkan sebuah relaksasi tersendiri. Dia merasakan sebuah kenikmatan tersendiri. Suasana mandi air hangat terasa di sana untuk beberapa. Tak lama berselang Karunia serta Disti Raven datang ke sana. Mereka merasa sedikit kebingungan tentang apa yang dilihat. Naga yang terkenal memiliki elemen api malah mengurungkan diri ke dalam lingkaran air. “Ars, sebenarnya apa yang kamu lakukan?” tanya sang mentor. “Entahlah, badanku terasa panas. Sebab itu aku semburkan api dan terjadi hujan. Aku gunakan angin untuk mengumpulkan air dan kugunakan sebagai kompres udara,” kata Arsada. Setumpuk makanan masih ada di dalam kantong kresek. Tangan kanan Karunia hendak mengambil benda tersebut. Namun cakar naga malah mencegahnya. “Arsada, cakarmu berbahaya untuk tanganku. Aku tak akan membuat sesuatu yang membahayakanmu lagi,” kata Karunia. “Bukan, aku gunakan untuk berburu. Selama ini aku memburu hewan pengerat agar bisa bertahan hidup,” alasan Arsada. “Siapa yang mengajarimu bertahan hidup? Pelajaran itu untuk triwulan ketiga,” tanya Disti Raven. “Aku pikirkan makan saja. Aku tak peduli apa itu,” kata Arsada. “Ya sudah, gunakan sesuka hatimu.” Karunia tak jadi mengambil makanan tersebut. Keracunan sekali saja tak membuat Arsada tertaubat. Makanan yang mengandung racun malah digunakan untuk menguji diri sendiri. Porsi yang digunakan hanya sedikit dan efek yang dirasakan juga sedikit. Efek tubuh memanas dicoba dikombinasikan dengan semburan api maupun es. Namun tak ada yang perbedaan sama sekali. Naga tersebut berpikir lagi cara yang lebih efektik. Malam hari saat yang tepat untuk berburu. Sengaja Arsada memasang makanan tersebut sehingga dia tak perlu lagi berburu. Waktu yang ada dimanfaatkan untuk terus berlatih semburan api, es serta angin. Tembakan api angin dan es silih berganti. Selain itu teknik latihan memperkuat tubuh dilakukan. Tak semua hewan buruan dimakan Arsada. Makanan yang diberikan para mentor serta beberapa teman perempuan membuat selera makan terhadap hewan buruan berkurang drastis. Kegiatan berburu dihentikan. Malam itu Arsada sedang membaca sebuah buku hingga tertidur lebih awal. Sebab itu di tengah malam tak bisa tidur. Kamar mandi menjadi sebuah tempat tujuan untuk membuang air sisa dari metabolisme. Sebuah suara terjatuh didengar dari dalam ruangan berair tersebut. Sedikit rasa curiga bersema di hati naga bersebut. Aktifitas di kamar mandi sudah selesai. Dia keluar dari kamar mandi dan melihat seseorang sedang mencari sesuatu. “Kau siapa?” tanyanya. “Arsada, aku sedang memantaumu,” kata wajah seribu yang menyamar sebagai seorang mentor. Konsentrasi penuh dilakukan oleh Arsada yang membuat lelaki itu berubah menjadi naga elemental. Sebuah semburan api membakar sebagian baju mentor. Tak ketinggalan lampu dirusak dengan jarak jauh. “Arsada, kenapa kau menyerang mentormu sendiri? Mau kau dihukum lebih berat?” Si wajah seribu menyalakan senter agar bisa melihat sasaran. “Mudah saja, tiada mentor yang masuk dari atas sebagaimana seorang maling.” Arsada menyemburkan api ke arah wajah seribu. Orang yang bisa berubah wajah tersebut menghindar setiap serangan yang dilakukan dari naga elemental. Kelenturan tubuh mampu dipergunakan untukl mengiring naga ke tempat yang telah. Senter dilemparkan untuk memberi efek cahaya dari tempat lain. Kaki ditekan sehingga gaya lentur terjadi. Serangan balasan dilakukan dengan mengubah tubuh menjadi besi. Arsada menahan serangan tersebut, tapi dia tak mampu. Tubuh sedikit terluka karena terkena besi. Tinjuan serta sendangan besi harus diterima. Keempat sayap dan keempat cakar tak mampu melukai orang tersebut. Bahkan serangan yang dilakukan bisa ditahan dan membuat dia terluka. Baru semburan api membuat si wajah seribu mundur beberapa langkah. Arsada melakukan sebuah serangan balasan. Keempat sayap mengepak mnghasilkan angin begitu besar.Semburan api ditambahkan sehingga serangan semakin besarserta bercahaya lebih terang. Elemen api menjadi sebuah kelemahan tersendiri bagi wajah seribu. Belum lagi kala itu sudah malam hari. Belum lagi cahaya ditempat kurang terang dan juga tempat terlalu sempit untuk mode pertarungan yang biasa dijalan. Pintu keluar telah terlihat, dia pun melarikan diri. “Ah, dasar orang gadungan.” Arsada tak jadi mengejar orang tersebut karena dia teringat atas perintah sang mentor. Pagi hari sudah menjelang. Namun dia tak menemui sang mentor lagi. Seorang petugas pun tak ada di sana. Arsada terus menunggu sambil membaca buku strategi. Lelaki tersebut memainkan api di saat sudah bosan. Penantian yang ditunggu tak sia-sia juga. Angelia bersama dengan ketiga teman satu tim datang menjenguk. Berbagai macam buah-buahan dibawa. “Adik manis, aku dengar kau diracun seseorang. Apakah itu benar?” tanya Antika. “Hai, dia adikku, bukan adikmu,” sangkal Angelia. “Tidak hanya diracuni tapi juga diserang seseorang yang bisa berubah wajah. Dia sangat kuat dan bisa bergerak seperti karet,” kata Arsada. “Coba kau ceritakan.” Segenap kejadian di malam itu diceritakan Arsada kepada keempat perempuan itu. Dikarenakan timbul sebuah kekhawatiran, Angelia menelepon seorang mentor. Tak lama berselang beberapa mentor datang ke sana. Mereka semua mendengarkan segala cerita yang diutarakan naga tersebut. Arsada mencurigai tentang seorang yang berada di sana. Konsentrasi dilakukan dan dia berubah menjadi naga. Penglihatan panas digunakan untuk mendeteksi suhu badan orang yang ada di sana. Salah satu dari mereka memiliki menyebaran panas yang tak teratur dan kurang dari yang lain. Bola api dibentuk dan langsung mengarah pada orang tersebut walau pun meleset sebab orang itu menghindar terlebih dahulu. “Naga, aku sedang apa? Itu berbahaya,” kata Anwu. “Dia orang yang menyerangku.” Arsada menunjuk seorang yang paling jauh di kalangan mereka. Semua orang yang ada di sana segera berubah menjadi bentuk shfter masing-masing kecuali Karunia yang tak bisa berubah bentuk. “Kau hebat juga bisa mengenalku. Tapi ini belum seberapa, masih ada banyak cara untuk menghabisimu.” Si wajah seribu meledaka sebuah bom asap. Seisi ruangan tersebut menjadi penuh dengan asap. Hanya Arsada, Antika dan Disti Raven yang bisa melihat di dalam kabut yang sangat tebal tersebut. Kedua shifter wanita mengejar orang tersebut tapi kehilangan jejak. Yang ada di luar sana beberapa orang sedang lalu lalang. “Antika, mulai sekarang kalian harus waspada. Keamanan di tempat ini berkurang. Jaga diri kalian dan teman kalian, Ingat baik ciri khas, termasuk juga sifat. Wajah seribu bisa menjadi siapa saja termasuk aku dan kau,” kata Disti Raven. “Bagaimana cara agar kita bisa membedakan satu sama lain?” tanya Antika. “Mudah saja, anting merupakan pembeda yang tak pernah diperhatkan wajah seribu dan juga larangan bagi lelaki di akademi ini. Gunakan motif sefeminim mungkin karena wajah seribu tak akan mengikuti perubahan sampai begitu detail.” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD