Penyelamatan Putra Mahkota

1334 Words
Puluhan tembakan listrik yang mengarah pada tubuh naga elemental tak dihiraukan sama sekali. Lelaki tersebut menaiki sebuah gedung guna menghindari setiap serangan listrik. Angelia pun datang menyusul si adik kesayangan. “Adik manisku, gedung di sini terlalu banyak. Sulit untuk mendeteksi keberadaan orang di sini. Apakah kau punya sebuah rencana?” tanya Angelia. “Kita cegah di jalan keluar,” tanya Arsada. “Tak ada jalan keluar, semuanya telah tertutup medan elektromagnetik.” “Mereka pasti ke pusat pengendali gedung ini. Kita ke sana saja.” Arsada memegang tubuh fairy. Keempat sayap dikepakkan dan Arsada terbang begitu cepat. Kaca menghalang gedung ditabrak dengan sekuat tenaga. Angelia dilepaskan, api naga membakar seluruh tubuh hingga luka dari pecahan kaca bisa tertutup rapat. Beberapa shifter dan penyusut terkejut akan aksi yang dilakukan naga elemental, termasuk juga dengan pangeran kerajaan tersebut. Konsentrasi dilakukan, tubuh mereka berubah ke alam bentuk shifter masing-masing. “Wow, bagaimana kau bisa tahu jika kami di sini?” tanya si ayam. “Mudah saja, jika kalian ingin keluar dari sini menonaktifkan tombol pelindung yang terbuat dari medan elektromagnetik.” Angelia telah bersiap untuk betarung dengan menyalakan keenam cahaya di telapak tangan dan kaki. “Kalian salah, mereka tak berniat untuk membuka tempat ini. Mereka akan meledakkan tempat ini dan kabur melewati jalan rahasia,” kata seorang yang sedang diikat pada sebuah tiang, dialah sang pangeran. “Apa?” Kedua shifter tipe penerbang bersaudara terkejut. Tangan wajah seribu yang memegang senjata tajam. Ujung dari benda terebut mengarah pada kulit pangeran yang tak tertutup kain. “Diam atau….” Wajah seribu berhenti mengancam karena tangan membeku. Padangan mata teralih pada naga elemental. “Kau bisa menggunakan es?” tanya dengan penuh kegingungan. Sorot pandangan mata beralih tertuju pada sesosok makhluk bersayap empat serta ekor yahg mematikan.  “Kalian terkejut? Aku ini naga elemental, bukan naga api,” kata Arsada. “Habisi dua orang tersebut,” perintah wajah seribu dengan nada dingin. Enam cahaya dipancarkan fairy mengganggu menghilatan yang adda di sana. Arsada turut membantu dengan mengepakkan keempat sayap yang mana hal tersebut membuat ribuan kertas terbang di udara. Api ditambahkan sehingga alarm kebakaran menyala. Angin kembali dibentuk sehingga bisa membuka akses ke tepat sang pangeran tertawan. Es, ekor serta cakar menyingkirkan orang yang ada di sana. Gigitan berapi digunakan untuk membakar seutas tali hingga terputus. “Yang Mulia, mohon ikuti kakak cantikku. Hampa yang akan tangani mereka.” Arsada memasang badan untuk menahan segala macam serangan. “Terima kasih.” Putra mahkota itu pergi begitu saja. “Adik manis, aku akan…,” kata Angelia. “Pergilah, aku akan mengamuk.” Arsada sudah tak kuat lagi menahan serangan. Terpaksa dia membakar diri sendiri. Paduan api dan air menimbulkan asap yang sangat tebal. “Aku mengerti.” Angelia menyusul sang putra mahkota. Namun dia dikejutkan ada dua pangeran yang ada di sana. Seorang pangeran sedang menodong pangeran yang lain. Mereka saling mengaku sebagai pangeran asli. Sang penodong ditendang bagian mata dan mundur beberapa langkah. Wajah pangeran palsu sudah berubah. “Kalau mana kau bisa tahu yang asli?” tanya pangeran. “Mudah saja, Yang Mulia tadi berdiri di tempat sedikit jauh dengan air. Jadi yang lebih kering berarti yang asli. Belum tangan yang palsu sedikit membeku.” Angelia terus terbang menghindari setiap serangan dari wajah seribu. Tubuh berupa karet melakukan sebuah lompatan. Seranga kepada si fairy berkali-kali. Sasaran yang dikunci terlalu sulit karena tingkat akselerasi tinggi pada tubuh yang sangat mungil. Target diganti dengan lelaki pewaris kerajaan. Serangan tinjuan besi siap untuk membuat luka yang serius. Namun sorotan cahaya membuat penyusup itu silau dan tak bisa menarget sasaran dengan lain. Alhasil dia hanya bisa meninju sebuah tembok. Di waktu yang amat sedikit masing sempat Angelia menaburkan serbuk di udara. Segera dia berlari mengajak sang pangeran untuk kabur. Pintu lift dibuka dan mereka masuk ke ruangan mengantar antar lantai terebut. “Fairy, mengapa kau tak mengalahkan orang tadi saja?” tanya Pangeran. “Sebab aku tak bisa mengalahkannya. Prioritas keselamatan Yang Mulia menjadi hal utama bagiku.” Angelia terus menekan tombol di lift. Namun benda tersebut tak bisa bergerak sama sekali. “Kok bisa?” tanyanya. “Kita salah masuk. Jika boleh aku tahu kalian siapa?” Tangan sang pangeran mengelus rambut fairy. “Hamba Angelia, adik naga manis hamba Arsada. Kami hanya anak panti.” Angelia menekan tombol dan mereka keluar dari tempat tersebut. Arsada terlihat di sana. “Adikku, kamu di sini. Aku mencarimu sebab kita sudah menang. Kepala sekolah mengundang kita,” kata lelaki tersebut. Angelia mendapat lelaki tersebut masih dalam mode fairy. Sebuah pelukan dilakukan. Sebuah kepalan tangan dilayangkan pada lelaki tersebut. Mata kiri menjadi korban dari serangan Angelia. Serbuk sari ditaburkan di udara yang membuat alergi si wajah seribu. Bagian leher ditendang yang membuat manusia karet tersebut mundur beberapa langkah. “Tak ada fairy yang memiliki penglihatan naga. Bagaimana kau bisa mengetahui jika itu aku?” Si wajah seribu melompat dan langsung membalas serangan dari Angelia walau dia harus mundur lagi sebab alergi pada serbuk fairy. “Jangan beritahu musuhmu!” teriak pangeran. “Karena kau bukan yang asli. Yang asli ada naganya.” Angelia terus terbang menghindar sambil menyalakan cahaya. Tak lupa juga serbuk bertaburan di udara. Angelia berlari bersama dengan sang pangeran menuju ke lantai bawah. Naas, sang putra mahkota terjatuh saat menuruni anak tangga karena terjatuh. Angelia kembali menjadi manusia tak berupaya untuk menolong sang pangetan yang telah terjatuh. “An, tinggalkan aku dan selamatkan akademi ini. Nyawa kalian lebih berharga daripada nyawaku.” Sang pangeran berusaha berdiri dan menahan rasa nyeri dan perih akibat dari luka gores. “Maaf, nyawa Yang Mulia sangat berwearga bagi kami. Biar kami yang berkorban demi Yang Mulia.” Angelia menutup luka di tersebut dengan melepaskan sendiri baju yang dikenakan. Kaos berwarna merah muda tanpa lengan malah mempercantik penampilan shifter fairy tersebut. “Manis sekali hubungan  kalian berdua. Sayang, kerajaan ini akan jatuh di tanganku. Kalian tak akan selamat.” Si wajah seribu turun sambil membawa sebuah pisau. “An, targetnya hanya aku saja. Kabur dan selamatkan yang lain. Jika tidak kita semua akan kehilangan nyawa,” perintah sang pangeran. “Kau bisa berubah menjadi orang lain. Tapi ada satu yang perlu kau ingat, kau tak akan berani membunuhku. Ketiadaanku akan membuat nagaku mengamuk dan kau akan menyusulku di alam keabadian,” gertak Angelia. “Kau kira dengan begitu aku akan takut. Kalau berani aku ke sini,” tantang wajah seribu. Sang pangeran teringat pada sebuah benda yang berada di sebuah kantung baju. Alat keamanan darurat tersebut diambil dan diberikan kepada Angelia yang terlah menjadi fairy. “An, aku percayakan ini kepadamu. Kalahkan dia apapun caranya dan kau akan mendapatkan sebuah penghargaan khusus,” perintahnya. “Terima kasih atas kepercayaan Yang Mulia.” Angelia menerima benda tersebut. Tak ketinggalan dia juga mengambil sebuah benda tajam. Tubuh kecil terbang sambil memancarkan cahaya dari telapak kaki. Di area nan sempit dan penuh dengan besi penghalang. Namun dia sendiri juga kesulitan untuk bisa menarget si wajah seribu. Bahkan dia menerima sebuah pukulan. Tubuh fairy yang terjatuh diambil wajah seribu. Tangan besi lelaki tersebut mencengkram tubuh fairy yang tak seberapa besar. “Inilah akhir dari hidupmu, adiknya naga.” Wajah seribu menguatkan cengkraman tangan. Enam sinar laser dipancarkan dari telapak tangan Angelia. Serbuk fairy mampu menciptakan alergi sehingga ada kesempatan Angelia untuk terlepas. Benda yang ada di belakang tubuh dikeluarkan. Dia menggunakan benda tersebut untuk memukul ati wajah seribu. Energi listrik mengalir dan membuat orang tersebut kesetrum dan menggelundung menuruni tangga. Si fairy segera berlari ke tempat pangeran. Hanya saja dia kembali menjadi manusia terjatuh karena luka di perut yang terlalu parah. Rasa iba dan sayang tumbuh di hati sang pangeran. Dengan langkah tertatih, calon raja tersebut maju menghampiri Angelia. Tubuh perempuan tersebut dibawa keluar dari gedung tempat penyekapan. Banyak puing bangunan yang runtuh akibat dari sebuah pertarungan. Sang pengaran terus berjalan melewati beberapa orang yak tak bergerak lagi. Pemandangan tak terduga terjadi, seorang shifter tiranosaurus tengah menghadpi beberapa roket. Dia pun bersembunyi untuk bisa selamat. “Angelia, kumohon kau bisa bangun. Panggil nagamu dan selamatkan mereka semua.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD