Para penyusup sedang mengarahkan tembakan ke langit. Hal ini membuat jengkel Salwa karena tak diperhatikan sama sekali. Sebab itulah dia menembakkan beberapa laser pembeku meski akurasi sngat keurang. Tidaknya dia dapat mengalihkan perhatian sambil memberi jalan Arasada dan Angelia jalan untuk mengejar musuh utama.
“Salwa, naik ke tubuhku.” Valara bisa menahan serahan dari senjata listrik karena tubuh yang terlampau besar. Hal ini dilakukan demi melindungi perempuan ular yang baru kali ini menjadi rekan seperjuangan.
Ekor si ular meliuk indah merambat pada ekor tiranosaurus rex hingga bisa mencapai kepala. Ekor melilit kuat di leher sebagai sebuah tempat berpegangan. “Maaf, jika ini menyakinimu,” katanya.
“Tidak apa-apa.” Valara melaju cepat dan menyasar pada orang yang sedikit kaku karena terkena sinar laser dari Salwa. Gigitan serta cabukan dari ekor berukuran lebih dari satu meter membuat beberapa orang terpental mundur.
Kepala tiranosaurus menunduk menggigit orang yang terletak di tanah. Kesempatan bagi Salwa mengambil senapan listrik yang ditinggal pemiliknya. Tembakan si gorgon lebih bervariasi dan mematikan. Apalagi posisi tubuh berpegang pada t-rex. Kecepatan serangan dan mobilitas semakin tinggi. Lawan yang dihajar semakin banyak dan bervariasi.
Namun ada lawan yang tak bisa ditarget sama sekali. Mereka si kera dan si pegas. Hal ini disebabkan karena gerakan mereka berdua semakin lemah. Selain itu akurasi Salwa di bawah rata-rata. Hanya tembok yang menjadi sasaran. Bahkan perempuan ular tersebut harus berkali-kali terkena tendangan dan pukulan lagi orang yang melompat. Untung saja Valara mampu menghentikan mereka dengna mengibaskan ekor serta menghancurkan beberapa tembok yang dilalui oleh kedua penyusup untuk melompat.
Si pegas dan si kera bangkit. Sebuah bom diledakan di depan mereka sehingga shifter raksasa dengan gigi pisau mundur beberapa meter dan menghentikan serangan.
“T-rex, jangan kau kira kau sendiri yang bertubuh besar. Aku pun bisa melakukan hal yang sama. Saatnya shifter level up!” Otot dari tubuh si kera membesar. Tinggi pun bertambah hingga lebih dari tiga meter. Selain itu terdapat dua tangan tambahan dan ekor menghilang. Sebuah lompatan dilakukan dan lengsung menendang tiranosaurus hingga mundur beberapa meter.
Salwa melompat dari tubuh tiranosaurus sambil menembakkan sinar laser sebagai sebuah dinding penghalang. Bongkahan batu besar harus dia hindari. Untung saja serangan pada si pegas membuahkan hasil. Walau ekor tak bisa bergerak karena tertimpa batu. Salwa menembakkan sinar laser dan listrik secara terus menerus ke shifter yang lebih mirip dengan yeti daripada kera. Namun dia hanya bisa pasrah di saat sebuah batu menarget dirinya. Datanglah shifter bola yang datang untuk menyelamatkan murid tersebut dengan menjadi tameng sebelum tak sadarkan diri juga.
“Terima kasih kawan.” Salwa menarik ekor hingga bisa leluasa bergerak lagi.
Beberapa penyusul tak tersisa memasuki area pertarungan tersebut. Mereka adu tembak dengan si gorgon. Listrik yang keluar terus mengarah pada si perempuan ular. Mereka juga mencari tempat perlindungan. Selain juga mencari waktu yang tepat untuk mgunci sasaran. Permaianan cahaya terjadi di sana. Jumlah yang lebih banyak serta akurasi dan pengalaman yang lebih matang membuat mereka bisa membuat si manusia ular tak berdaya. Walau juga beberapa dari mereka menjadi kaku sementara. Sasaran berikutnya telah ditentukan. Mereka mengepung tiranosaurus yang tinggal seorang diri.
“Kuakui kau hebat. Tapi tak akan mungkin kau bisa mengalahkan kami,” kata si kera dengan sangat sombongnya.
“Tujuanku bukan mengalahkan kalian tapi menunda waktu kalian. Saat ini ketua kalian telah menghadapi naga elemental. Kalian yang akan kalah!” Valara berteriak keras untuk mengalihkan sedikit.
Sebuah senjata listrik memuntahkan energi yang menjadi amunisi. Serangan tersebut mengenai sebuah obyek hitam tanpa ada reaksi sama sekali. Benda tersebut terus bergerak mengikuti setiap arah listrik yang akan menarget Valara.
“Kau tak sendiri. Aku akan membantu untuk mengulur waktu mereka,” Antika menegakkan bulu hitam. Aliran listrik yangterdapat pada ujung bulu membuat medan elektromagnetik tersendiri. Shifter tipe kucing tersebut terus berkali. Lompatan tinggi dilakukan bersamaan dengan cakaran.
Si kera bisa hendak maju. Namun dia terjatuh karena terkena jebakan dari cacing batu, wujud shifter Minarto. Hal ini dimanfaatkan Valara untuk menyerang. Sebuah gigitan berpisau siang untuk mengoyakkan kepala kera. Hanya saja dia kesulitan untuk menutup mulut karena terhalang oleh empat tangan. Ekor digunakan untuk menyerang walaupun tertahan dengan kaki kera. Lompatan dari manusia pegas mengarah ke mata tiranosaurus yang membuat konsentrasi kacau. Valara dilempatkan ke sebuah gedung hingga tembok runtuh.
Si kera melompat jauh mendekati Valara. Empat buah bongkahan batu dibawa. Satu per satu dari benda tersebut dipukulkan ke wajah tiranosaurus hingga berdarah.
Valara tak diam begitu saja. Gigit tajam menggigit kaki dari si kera. Dia bangkit dan meulai menggoyangkan kepala sehingga di kera ikut bergerak dan kehilangan batu. Tendangan dan pukulan tak dihilaukan sama sekali. Gerakan ke atas membuat kera empat tangan melambung tinggi. Momentum telah tepat, ekor digerakan untuk memutul si rival. Hantamankeras yang dilakukan membuat kera terlempar jauh hingga sebuah tembok runtuh.
Kaki besar tiranosaurus membuat lompatan Valara semakin tinggi . Sedikit ada gempa bumi ketika Valara mendapat ke tanah. Beberapa penyurusp dihempaskan dengan ekor, Antika sedikit tertolong. Bahkan satu dari para penyusup digigit hingga tubuh terputus. Valara melompat lagi layaknya seperti kangguru.
Kini si tubuh raksasa tersebu tiba di tempat si kera bangkit. Ekor yang dikiebaskan membuat si kera kembali terpental. Tendangan dengan melompat dilakukan walaupun tak mengenai sasaran. Tembok langsung runtuh. Kaca di dekat sana pecah karena efek getaran yang dihasilkan. Gigit sepanjang pisau siap untuk menggigit sang rival.
Si kera harus menahan kepala tiranosaurus yang besar dan berat tersebut. Dia sendiri kalah adu otot. Kaki digunakan untuk menendang sehingga kepala tiranosaurus mengarah ke atas. Dia melaju ke bawah tubuh Valara. Tendangan dilakukan secara bersama. Si kera kalah tenaga dan terpental beberapa langkah.
Badan menjadi nyeri dan perih karena terkena tendangan bercakar. Beberapa tulang terasa mau parah. Belum lagi darah keluar membasihi bulu nan tipis. Si kera bangkit dan memegang basian badan yang sakit. “Kau kira dengan begini bisa mengalahkanku.” Si kera mengambil bongkahan batu.
“Hiya!” Lompatan tinggi dilakukan Valara yang mengakibatkan gempa bumi saat raksasa itu turun. Getaran yang terjadi dimanfaatkan untuk mengibaskan ekor nan besar.
Si kera melempar batu tapi tak berarti. Keempat tangan tak mampu menahan serangan dari ekor dinosaurus. Tubuh besar tersebut menembus tembok dan melayang jauh sebelum menembus tembok berikutnya. Kedua tangan menghilang dan tubuh mengecil. Dia hendak bangkit tapi teinjak Valara terlebih dahulu. Wujud kembali menjadi manusia biasa sebelum tak sadarkan diri.
Valara datang ke tempat si kucing bertarung. Yang terlihat hewan kecil tersebut menjadi sasaran beberapa rudal. Terpaksa dia menghalangi serangan tersebut agar Antika bisa selamat. Ledakan terjadi dan Valara kesakitan dan roboh.
“Valara!” teriak Antika saat kembali menjadi manusia dan meninju seorang penyusup.
“Arsada bisa menghalangi serangan rudal, aku harus bisa!” teriak Valara yang membuat gendang telinga terdekat tak kuat untuk menahan getaran suara keras tersebut.
Valara bangkit kembali. Ekor digunakan untuk menghalau roket. Sisa roket digigitkan dan dilemparkan sebelum meledak. Namun dia tak mampu menahan roket yang lain dan terjadilah sebuah ledakan. Valara roboh lagi karena itu.