Hari Penghukuman Naga Elelmental

1212 Words
Di pagi itu para murid diharuskan berkumpul pada sebuah tempat. Di sana mereka sedang menyambut kedatangan seorang pangeran kerajaan tersebut. Gemuruh tepuk tangan mewarnai akademi itu. Tak jarang juga histeris teriakan para perempuan menyaksikan secara langsung calon penerus bangsa. Hanya lambaian tangan yang pangeran lakukan. Tapi aura kebijaksanaan tersebar seantero akademi. Sang pangeran mengikuti upacara tersebut bersama dengan kepala akademi sebagai pemimpin jalannya upaca. Sambutan yang dilakukan membuat suasana sendiri di tempat tersebut. Alunan nada suara yang lembut membuat para murid semakin terlena larut di dalam suasana kebersamaan. Upacara telah selesai, sebuah pertunjukan dipersembahkan oleh kepala sekolah. Sebuah tepukan dilakukan, seorang anak mudah di datangkan ke sana dengan tangan terborgol. Beberapa mentor menodongkan senjata pada lelaki tersebut. “Murid-murid semua, ini akan menjadi sebuah contoh bagi kalian semua. Jika ada yang memberontak maka akan mengalami nasib seperti anak ini,” kata kepala sekolah. Arsada dibawa ke sebuah panggung penantian akhir hidup. Seluruh tangan dan kaki diikat dengan sanagt erat. Beberapa rudal telah siap untuk menembus kulit si shifter naga tersebut. “Arsada!” teriak beberapa siswi tak kuat menyaksikan akhir hidup dari orang yang mereka idolakan. Angelia hanya bisa tertunduk sambil menangis. Orang yang dianggap adik manis harus berakhir dengan cara yang tak terduga. Kaki terasa lemas, tiada kuasa untuk bisa berdiri lagi. Wajah dan telinga ditutup agar tak bisa menyaksikan kepedihan ucapan terakhir dari saudara yang amat disayangi. Seorang mentor membawakan sebuah suntikan perubah wujud paksa. Namun Arsada terlebih dahulu sehingga tak jadi disuntik. Mata mencoba untuk melihat suhu sekitar yang tujuan untuk melarikan diri. Namun yang ditemukan malah sebuah keanehan. Suhu badan yang tak merata dilihat pada tubuh kepala akademi. “Dia palsu!” teriaknya sekencang mungkin. “Jangan suka mengatakan hal yang bukan-bukan pada kepala sekolah,” kata seorang mentor dengan nada tinggi. “Tidak, coba lihat dengan penglihatan suhu atau arwah. Jiwa apapun tersebar secara merata, begitu juga dengan hawa serta suhu panas dan makhluk bersuhu dingin. Jika bukan maka itu hasil modifikasi atau apalah,” alasan Arsada. Valara tak mau kehilangan Arsada begitu saja. Konsentrasi dan berubah wujud menjadi shifter dilakukan agar bisa melihat hawa panas sesuai dengan yang dikatakan Arsada. Sebuah keanehan terlihat dengan suhu yang tidak merata. “Dia palsu!” teriaknya. Beberapa orang berubah menjadi shifter dengan kemampuan melihat. Yang dikatakan Arsada ada benarnya, mereka meneriaki kepala akademi dengan sebutan palsu. Sayang, kepala akademi palsu terlebih dahulu menodongkan sebuah senjata mematikan pada pangeran. Bahkan tempat akademi itu ditutup seketika dengan pelindung medan elektromagnetik. Dalam suasana nan kacau para murid tak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka berhamburan hingga mengganggu murid yang sebenarnya bisa tenang. Baru sebuah tembakan dilakukan hingga membuat orang yang ada di sana terdiam dan merunduk ketakutan. Seribu wajah alias sang kepala akademi palsu menekan sebuah tombol. Hal ini mengendalikan sebuah rudal hingga benda tersebut meleset ke arah orang yang akan diekskusi hari itu juga. Sayap dan ekor tidak diikat sama sekali. Arsada bisa mengepakkan angin sehingga menambah besar api yang ditiup dari mulut. Namun energi panas tak mampu menghentikan rudal tersebut. Ekor memukul rudal hingga berubah arah dan meledak di sekitar sana. Beberapa luka bersemayam di tubuh Arsada. Api disemburkan membakar tubuh tersebut. Pergelangan tangan digerakkan digerakkan dan bisa memutuskan rangkaian rantai. Tubuh merunduk sambil menyemburkan api ke atas sehingga rudal salah sasaran. Cakar diselipkan sehingga rantai di kaki terlepas. Gerakan hingga menari di udara menghindari dan mematikan rudal yangt mengarah pada Arsada. Pendaratan dilakukan secara sempurna. Sayang, dia harus terkena tembakan listrik pada beberapa orang. Saudara sedang dalam keadaan yang mengkhawatirkan, Angelia berubah menjadi fairy. Tembakan cahaya dilakukan guna mengganggu penglihatan para penembak. Namun dia sendiri harus terjatuh karena terkena tembakan listrik. Untung saja Antika datang untuk membantu. Valara tak mau ketinggalan begitu saja. Amukan dilakukan kepada regu menembak. Hal ini diikuti para murid yang lain dan menimbulkan huru-hara di sana. Kekisruhan pun meluas ke seluruh siswa. Mereka semua berubah ke dalam bentuk shifter masing-masing. Keadaan semakin tak terkendali. Si wajah seribu menggunakan sebuah masker sebelum menekan sebuah tombol yang mengakibatkan tempat tersebut dipenuhi dengan asap tebal. Dia membawa lagi pangeran menghilang dari tempat tersebut. Kabut asap tak hanya mengganggu penglihatan saja. Udara tersebut membawa hawa kantuk. Hampir semua shifter kembali menjadi manusia dan tak sadarkan diri. Belum lagi tembakan listrik dan bius. Semua mentor dan staff akademi tertidur mulas tanpa kecuali. Arsada bisa meloloskan diri dengan terbang tinggi sambil menghindari tempat tersebut. Begitu juga dengan Salwa yang kebal terhadap beberapa racun serta Valara yang terlalu besar untuk dosis seperti itu. Angelia beda lagi kasusnya, perempuan tersebut terlebih dahulu menutup hidung. Sedangkan Minarto masuk ke dalam tanah. Beberapa murid yang masih tersadar memilih untuk kabur atau berpura-pura. Kabut sudah berakhir dengan diterpa angin. Wakil kepala akademi masih sanggup berdiri dengan berubah bentuk menjadi sesosok makhluk semi transparan. Yang terlihat hanya ada empat siswa yang tersisa. Sedangkan yang lain melarikan diri dan tak sadarkan diri. “Anak-anak, cepat kalian kabur dan selamatkan diri. Kalian bukan tandingan dari mereka. Jumlahnya terlampau banyak” perintahnya. “Maaf Bu, walaupun aku masih dalam masa tahanan aku akan mengalahkan orang yang bisa berubah warna itu,” kata Arsada. “Adik manis, aku ikut sert bersamamu,” dukung Angelia. “Meskipun aku benci Arsada tapi aku tak mau berakhir seperti ini, ayo Medusa,” ajak Valara. “Aku Salwa, kita akan selamatkan akademi ini dan menjadi pahlawan.” Salwa ikut berjalan bersama dengan ketiga rekan yang masih bisa bertahan. Perjalanan yang mereka tempuh tidak terlalu jauh karena dihadang anak buah wajah seribu. Beberapa shifter berubah dalam bentuk masing-masing. Tak ketinggalan juga senjata listrik sebagai alat untuk menyerang. “Kalian, bagaimana bisa tak terkena racun? Aku sudah meracuni kalian semua dan memicnya dengan udara. Seharusnya kalian semua tertidur,” tanya seorang bertangan enam. “Dosis bayi mana mempan buatku. Lain kali gunakan dosis seratus gajah,” jawab Valara. “Aku tadi lupa sarapan .” Angelia mempersiapkan cahaya di tangan. “Oh, itu racun? Kukira makanan penunjang.” Salwa menyalakan laser pembeku. “Aku yang akan kalian musnahkan hari ini. Lain kali kenali musuh sebelum menyerang.” Arsada mengmpulkan sejumlah angin sambil mengepakkan keempat sayap. Sembuaran api ditembakkan bersamaan dengan bola angin. Arsada memicu terjadinya tertarungan di sana. Berbagai macam tembakan harus dihindari. Angelia menembakkan cahaya sambil terbang menghindari setiap sengatan listrik yang beterbangan di udara. Serbuk juga digunakan saat telah mendekat kepada seorang penembak. Pukulan pun mulai dilayangkan pada orang yang mengalami alergi. Meskipun kurang mematikan tapi bisa membuat beberapa orang terjatuh. Valara datang sambil membersihkan orang yang tersisa di sana. “Kalian berdua terbanglah yang tinggi dan cari kepala akademi palsu. Hajar dia dan selamatkan pangeran,” kata Valara. Ekor masih terus digoyangkan untuk menyapu beberapa orang yang menjadi kaku karena terkena sinar pembeku. “Lalu, bagaimana dengan kalian?” tanya Angelia. “Aku dan Salwa akan mengatasi area sini. Hnya kalian yang bisa mengejar mereka,” jawab Valara. “Mengapa harus kami?” Angelia masih terbang dan menembakkan enam cahaya ke atas yang berbeda. “Sebab kalian bisa terbang dan kami tidak.” Salwa tersengat listrik dan mundul beberapa langkah karena menoleh ke arah Angelia. Untung saja Arsada datang membantu dengan menembakkan angin dingin. “Terima kasih teman, aku minta izin keluar beberapa jam.” Arsada terbang secara vertikal ke arah langit. “Tunggu adik manis!” Angelia mengikuti si naga elemental ke atas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD