Bab 2 – Istana yang Penuh Ular

774 Words
Pagi di istana selalu terlihat indah. Sinar matahari menyelinap melalui jendela kayu yang dihiasi ukiran halus. Cahaya keemasan jatuh di lantai batu yang dingin, membuat ruangan Paviliun Anggrek terlihat lebih hangat dari biasanya. Namun Huang Yue Ning tahu satu hal. Keindahan istana ini hanyalah topeng. Di balik dinding merah yang megah, tempat ini dipenuhi orang-orang yang siap menusuk dari belakang kapan saja. Aku berdiri di depan jendela sambil memandang taman istana yang luas. Bunga-bunga plum mulai bermekaran, dan beberapa pelayan terlihat sibuk menyapu jalan batu. Kelihatannya damai. Padahal sebenarnya tidak. "…Tuan putri?" Suara ragu-ragu dari belakang membuatku menoleh. Xiao Lan berdiri sambil membawa nampan sarapan. Di atasnya ada bubur hangat, beberapa kue manis kecil, dan secangkir teh. "Ada apa?" tanyaku santai. Xiao Lan terlihat sedikit gelisah. "Hari ini… semua selir harus memberi salam kepada Permaisuri di Aula Phoenix." Aku mengangkat alis. Oh, benar. Dalam ingatan Huang Yue Ning, setiap beberapa hari sekali para selir harus berkumpul untuk memberi salam kepada Permaisuri. Dan biasanya… Pertemuan itu tidak pernah berjalan damai. Aku duduk di kursi sambil mulai makan. "Banyak selir yang datang?" "Hampir semuanya." Xiao Lan ragu sebentar sebelum melanjutkan. "...Selir Lin juga akan datang." Aku berhenti mengaduk buburku. Ah. Musuh pertama. Selir Lin adalah salah satu selir favorit di istana. Keluarganya kuat dan punya pengaruh besar. Karena itu, dia terbiasa memperlakukan selir lain seperti bawahannya. Termasuk Huang Yue Ning yang dulu. Aku menyendok bubur dengan tenang. "Hmm." Xiao Lan menatapku dengan cemas. "Tuan putri… pelayan takut mereka akan menyulitkan anda lagi." Aku menelan bubur itu lalu tersenyum kecil. "Kalau aku takut, aku tidak akan bertahan lama di sini." Xiao Lan tampak tidak sepenuhnya yakin. Aku berdiri dari kursi dan berjalan menuju lemari pakaian. Di dalamnya tergantung beberapa hanfu yang cukup sederhana dibandingkan milik selir lain. Aku memilih yang berwarna biru muda. Tidak terlalu mencolok. Tapi tetap elegan. Setelah berpakaian dan merapikan rambut, aku menatap diriku di cermin sekali lagi. Wajah Huang Yue Ning terlihat tenang. Namun di balik ketenangan itu, pikiranku sudah mulai bekerja. Hari ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ini adalah panggung pertama. Kalau aku ingin bertahan di istana ini… Aku harus mulai menunjukkan bahwa Huang Yue Ning tidak lagi mudah diinjak. Perjalanan menuju Aula Phoenix cukup jauh. Koridor istana panjang dan dihiasi pilar merah besar. Beberapa pelayan menunduk hormat saat aku lewat. Xiao Lan berjalan di belakangku sambil membawa kipas. Ketika kami hampir sampai, suara tawa wanita terdengar dari dalam aula. Aku berhenti sebentar di depan pintu. Xiao Lan berbisik pelan. "Itu suara Selir Lin." Aku tersenyum tipis. Bagus. Berarti pertunjukan sudah dimulai. Kami masuk ke dalam aula. Ruangan itu sangat luas. Di tengahnya ada beberapa kursi yang disusun rapi. Para selir duduk berkelompok sambil berbicara pelan. Namun begitu aku masuk… Suasana langsung berubah. Beberapa selir menatapku dengan ekspresi mengejek. Yang lain berbisik-bisik. Seorang wanita cantik dengan pakaian merah menyala duduk di kursi depan. Rambutnya dihiasi jepit emas yang mahal. Dia menatapku dari ujung kepala sampai kaki. Selir Lin. Sudut bibirnya melengkung sinis. "Wah… bukankah ini Selir Huang?" Beberapa selir langsung tertawa kecil. "Dia masih berani datang?" "Katanya kemarin dia dihukum sampai pingsan." Aku berjalan masuk tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Selir Lin melanjutkan dengan nada pura-pura prihatin. "Kami semua khawatir padamu. Tubuhmu terlihat sangat lemah." Dia berhenti sejenak lalu menambahkan dengan senyum licik. "Apakah kamu yakin masih pantas berada di istana?" Tawa kecil terdengar lagi. Xiao Lan menggenggam kipas dengan gugup. Namun aku hanya menatap Selir Lin dengan tenang. Lalu tersenyum. "Terima kasih atas perhatian Selir Lin." Semua orang sedikit terkejut. Aku melanjutkan dengan santai. "Namun tubuhku baik-baik saja." Aku duduk di kursiku tanpa terburu-buru. "Lagipula…" Aku menatap langsung ke arah Selir Lin. "Kalau aku tidak pantas berada di istana, tentu Kaisar tidak akan memasukkanku ke sini sejak awal." Ruangan itu langsung sunyi. Beberapa selir saling menatap. Selir Lin jelas tidak menyangka aku akan menjawab seperti itu. Matanya menyipit sedikit. "Oh?" Dia bersandar di kursinya. "Selir Huang terlihat lebih berani hari ini." Aku tersenyum tipis. "Dibandingkan kemarin, mungkin." Untuk sesaat tidak ada yang berbicara. Lalu tiba-tiba seorang pelayan istana masuk dengan cepat. "Permaisuri akan segera datang!" Semua selir langsung berdiri. Aku ikut berdiri bersama mereka. Namun saat itu juga, aku merasakan sesuatu yang aneh. Tatapan. Aku menoleh sedikit ke arah pintu aula yang terbuka. Di luar sana, di balik tirai tipis… Seseorang berdiri. Pria itu tinggi dengan jubah hitam yang dihiasi naga emas. Matanya tajam dan dingin. Untuk sepersekian detik, mata kami bertemu. Jantungku hampir berhenti. Tidak mungkin aku salah mengenali simbol naga itu. Hanya satu orang di seluruh istana yang boleh memakainya. Kaisar. Namun yang membuatku lebih terkejut… Sudut bibirnya sedikit terangkat. Seolah-olah dia baru saja menemukan sesuatu yang sangat menarik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD