bc

Selir Licik Milik Kaisar

book_age4+
0
FOLLOW
1K
READ
drama
soul-swap
rebirth/reborn
like
intro-logo
Blurb

Seorang gadis dari dunia modern tiba-tiba bereinkarnasi menjadi Huang Yue Ning, selir rendahan yang dibenci di dalam istana. Semua orang menganggapnya lemah dan mudah ditindas.Tapi mereka tidak tahu bahwa Huang Yue Ning yang sekarang sudah berbeda.Di istana yang penuh intrik, fitnah, dan perebutan kekuasaan, ia mulai memainkan permainan licik untuk bertahan hidup. Namun tanpa sengaja, tindakannya justru menarik perhatian seseorang yang paling berbahaya di istana…Kaisar.Di balik senyum manisnya, tersimpan rencana besar.Pertanyaannya hanya satu…Apakah ia akan menjadi korban istana…atau justru menjadi selir paling berbahaya milik kaisar? 👑

chap-preview
Free preview
Bab 1 – Bangun di Tubuh Selir Terbuang
Kepalaku terasa berat sekali. Bukan sekadar pusing biasa. Rasanya seperti habis dipukul benda keras berkali-kali, lalu dipaksa bangun sebelum tubuhku benar-benar pulih. Perlahan aku mengerang pelan. "...ugh..." Kelopak mataku terasa berat ketika mencoba membukanya. Pandanganku masih buram, tapi samar-samar aku bisa melihat sesuatu yang aneh di atas kepalaku. Langit-langit kayu. Bukan langit-langit biasa. Kayu itu dipenuhi ukiran rumit berbentuk naga dan awan yang saling melilit. Di sela-sela ukiran itu ada cat emas yang memantulkan cahaya lembut dari jendela. Aku berkedip beberapa kali. "Oke… ini bukan kamar kosku." Aku mencoba duduk, tapi gerakan kecil itu langsung membuat kepalaku berdenyut lagi. Tanganku refleks memegang pelipis. Saat itulah aku menyadari sesuatu yang jauh lebih aneh. Tanganku terlihat… berbeda. Kulitnya putih dan halus, jauh lebih halus dari tanganku yang biasa. Jari-jarinya ramping dan panjang seperti tangan model iklan lotion. Aku menatapnya cukup lama. "Loh…?" Belum sempat aku mencerna keanehan itu, suara pintu kayu tiba-tiba terbuka dengan cepat. Seorang gadis muda masuk dengan wajah panik. Dia memakai pakaian kuno berwarna biru pucat, rambutnya ditata rapi dengan jepit kayu sederhana. Begitu melihatku sudah duduk, matanya langsung membesar. "Tuan putri! Anda sudah sadar!" Aku benar-benar membeku. Tuan putri? Gadis itu langsung berlari mendekat lalu berlutut di samping tempat tidur dengan wajah lega bercampur khawatir. "Pelayan sangat khawatir! Anda pingsan begitu lama setelah hukuman tadi!" Aku menatapnya dengan ekspresi kosong. Oke. Mari kita proses satu per satu. Pertama. Aku tidak kenal gadis ini. Kedua. Dia memanggilku tuan putri. Ketiga. Dia barusan bilang aku dihukum. Aku mengerutkan kening. "Tunggu dulu..." Suaraku bahkan terdengar berbeda. Lebih lembut dari biasanya. "Aku… dimana?" Gadis itu terlihat terkejut. "Tuan putri? Anda berada di Paviliun Anggrek, tentu saja." Paviliun? Apa lagi itu? Kepalaku tiba-tiba berdenyut lagi. Lalu— Seperti bendungan yang jebol, ingatan asing membanjiri pikiranku. Gambar-gambar muncul silih berganti. Istana besar dengan dinding merah. Para wanita berpakaian mewah. Tatapan sinis. Bisikan penuh intrik. Dan sebuah nama yang terus muncul di kepalaku. Huang Yue Ning. Aku menutup mata dengan napas tertahan. Tidak. Tidak mungkin. Namun ingatan itu terasa terlalu nyata untuk sekadar halusinasi. Perlahan aku membuka mata lagi dan menatap ruangan di sekitarku dengan lebih serius. Ruangan ini luas. Tempat tidur yang kududuki dihiasi tirai sutra merah muda. Di sudut ruangan ada meja kayu dengan ukiran indah, di atasnya tersusun cangkir teh porselen yang tampak mahal. Di dekat jendela berdiri vas besar berisi bunga segar. Segalanya terlihat seperti set drama sejarah. Masalahnya… Ini tidak terlihat seperti set. Ini terlihat sangat nyata. Aku menelan ludah. "Hei..." Gadis pelayan itu langsung menjawab cepat. "Ya, tuan putri?" Aku menatapnya. "Namamu siapa?" Dia tampak sedikit bingung dengan pertanyaanku, tapi tetap menjawab dengan hormat. "Pelayan bernama Xiao Lan." Aku mengangguk pelan. Xiao Lan. Nama itu juga ada di ingatan baruku. Dia adalah pelayan pribadi Huang Yue Ning. Satu-satunya orang di paviliun ini yang benar-benar setia. Aku menghela napas panjang. "Jadi… semua ini benar." Xiao Lan langsung panik. "Apa yang benar, tuan putri?" Aku tidak langsung menjawab. Sebaliknya, aku perlahan turun dari tempat tidur. Kakiku sedikit lemas, tapi masih bisa berdiri. Xiao Lan langsung berdiri dengan panik. "Tuan putri! Anda masih lemah!" "Tidak apa." Aku berjalan pelan menuju sebuah cermin perunggu besar yang berdiri di sudut ruangan. Pantulan wajah seorang gadis muncul di sana. Aku berhenti. Gadis di cermin itu sangat cantik. Kulitnya putih seperti porselen. Bibirnya tipis dengan warna merah alami. Matanya panjang dan tajam, memberi kesan elegan sekaligus dingin. Rambut hitam panjangnya jatuh seperti sutra di punggung. Cantik. Benar-benar cantik. Masalahnya… Itu bukan wajahku. Aku menatap pantulan itu lama sekali. "Luar biasa..." Xiao Lan berdiri di belakangku dengan wajah khawatir. "Tuan putri…?" Aku akhirnya tertawa kecil. "Jadi begini rasanya reinkarnasi." Xiao Lan jelas tidak mengerti sepatah kata pun. "Tuan putri mengatakan apa?" Aku menoleh padanya. "Oke, Xiao Lan. Aku mau tanya sesuatu." "Silakan." "Selir Lin." Begitu nama itu keluar dari mulutku, wajah Xiao Lan langsung berubah tegang. "Dia yang menghukumku tadi?" Xiao Lan menunduk. "...benar." Aku menyilangkan tangan. "Kenapa?" Xiao Lan ragu-ragu sebelum menjawab. "Selir Lin mengatakan bahwa tuan putri tidak memberi hormat dengan benar saat bertemu dengannya di taman." Aku langsung mendengus. Serius? Alasan klise seperti itu? Tapi kalau mengingat ingatan Huang Yue Ning… itu memang masuk akal. Di istana ini, alasan sekecil apa pun bisa dipakai untuk menjatuhkan orang lain. Aku menatap kembali wajah di cermin. Huang Yue Ning. Seorang selir peringkat rendah. Tidak punya keluarga kuat. Tidak punya pengaruh. Tidak disukai para selir lain. Singkatnya? Dia adalah target empuk. Aku menghela napas panjang. Kalau ini benar-benar dunia istana seperti di novel yang sering k****a… Maka ada satu aturan penting. Orang lemah tidak akan bertahan lama. Xiao Lan tiba-tiba berkata pelan. "Tuan putri… pelayan takut." Aku menoleh. "Takut kenapa?" "Selir Lin sangat berpengaruh. Jika dia terus menargetkan anda…" Dia tidak melanjutkan kalimatnya. Tapi aku tahu maksudnya. Kalau ini terus berlanjut, Huang Yue Ning mungkin akan mati cepat. Namun Xiao Lan tidak tahu satu hal. Aku bukan Huang Yue Ning yang dulu. Aku tersenyum kecil. "Xiao Lan." "Ya?" "Kamu percaya padaku?" Dia terlihat sedikit terkejut. "Tentu saja. Pelayan selalu setia pada tuan putri." Aku mengangguk pelan. "Bagus." Aku kembali menatap jendela besar yang menghadap taman istana. Angin sore meniup tirai sutra dengan lembut. Di luar sana, kehidupan istana terus berjalan. Para selir saling menjatuhkan. Para bangsawan bermain politik. Dan di puncak semuanya… Ada seorang pria. Kaisar. Penguasa mutlak istana ini. Aku menyeringai tipis. "Kalau mereka mau bermain licik..." Xiao Lan menatapku bingung. Aku mengepalkan tangan pelan. "...aku akan bermain lebih licik." Xiao Lan masih belum sepenuhnya mengerti, tapi entah kenapa ekspresinya berubah sedikit lebih yakin. Sementara itu, jauh di luar paviliun. Seorang pria tinggi berdiri di balik pepohonan. Jubahnya hitam dengan bordir naga emas. Matanya tajam seperti elang. Dia sudah berdiri di sana cukup lama. Dan tanpa sengaja… Dia mendengar sebagian percakapan di dalam paviliun. Sudut bibirnya sedikit terangkat. "Menarik." Pengawal di sampingnya menunduk. "Yang mulia?" Pria itu menatap ke arah Paviliun Anggrek. Tempat seorang selir kecil yang biasanya tidak pernah dia perhatikan. Namun hari ini… Dia merasa sesuatu berubah. Kaisar tersenyum tipis. "Sepertinya istana ini akan menjadi lebih menyenangkan."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
7.7K
bc

AKU DAN JIN CANTIK

read
3.9K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.5K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
5.3K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.7K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.5K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook