10. Pengakuan

856 Words
Lenka duduk di depan meja riasnya dan menempelkan sheet mask bergambar panda itu ke wajahnya dengan perlahan. Lalu bersiap untuk nyantai di atas kasurnya yang empuk sambil membaca novel kesukaannya. Membayangkannya saja sudah membuat Lenka senang.  Ting tong Lenka menoleh ke arah pintu kamarnya saat suara bel pintu depan berbunyi. Ia mengernyit dan melihat ke jam dinding. Jarum menunjukan ke angka sepuluh. Siapa yang bertamu semalam ini?  Ia menghela napasnya kasar dan kembali melepaskan masker-nya dengan kesal. Lalu melangkah untuk melihat siapa orang gila yang memencet bel rumahnya itu. Ia terkejut saat melihat seorang lelaki tinggi berdiri di depan pintu rumahnya dengan sekantong plastik di tangannya. Tanpa adanya raut wajah bersalah telah bertamu semalam ini. Lenka keberatan!  "Lo ngapain ke sini?" heran Lenka.  Aldo mengangkat kantong plastik di tangannya membuat Lenka mengerutkan keningnya bingung tak mengerti dengan tingkah laku cowok ini.  "Nggak nyuruh masuk? Takut loh dilihat tetangga. Cowok bertamu malam-malam ke rumah cewek," ucap Aldo.  "Kalo tau, kenapa lo masih aja ke sini?" kesal Lenka tanpa adanya ingin memberikan celah untuk Aldo masuk.  Aldo mengangkat kedua bahunya, "Karena gue ingin." Aldo mendorong tubuh Lenka membuat gadis itu mundur dan Aldo berhasil memasuki rumahnya. Ia menggeram dan tak ada pilihan lain lalu menutup pintu rumahnya. Takut ada tetangga melihat ini.  Dengan tingkat kepercayaan yang tinggi, Aldo melangkah menuju dapur. Ia duduk di salah satu kursi dan mulai membuka kantong plastik putih itu.  "Ambilin piring sama sendok," perintah Aldo seenaknya. Lenka menggeram. Namun ia menurut saja untuk mengambilkan apa yang cowok itu katakan.  Ada pizza, kentang goreng, serta pasta dua porsi di atas meja. Aldo menatap semua makanan itu dengan senang. Lalu, menoleh ke arah Lenka yang menyender di bodi kulkas sambil menatap kesal ke arah dirinya.  "Duduk sini. Makan sama gue," ajak Aldo.  Lenka melangkah menghampiri Aldo. Bukannya duduk, gadis itu berdiri di samping Aldo membuat cowok itu menatap juga ke arah Lenka dengan kening berkerut. Melihat itu, Lenka menoel lumayan keras kening Aldo membuat kepala cowok itu sedikit ke belakang.  "Harusnya gue yang bingung terus kerutin kening. Lo mau apa ke sini hah? Nggak punya rumah?" sarkas Lenka. Untung saja, di rumah tidak ada orang. Jika ada kakaknya, mungkin Aldo sudah di baku hantam karena masuk ke rumah orang seenaknya.  Aldo tersenyum manis, "Kan rumah gue di lo. Kenapa harus ke lain?" Lenka meringis mendengar itu, "Dih! Sejak kapan?" "Sejak lo datang ke kehidupan gue lah. Kapan lagi." Lenka menatap kesal ke arah Aldo, "Gue nggak datang ke lo, ya. Gue pindah ke sini pun, tau lo napas aja nggak." Aldo menganggukan kepalanya, "Iya tau. Tapi, gue yang mau rekrut lo buat datang ke kehidupan gue." Lenka memijat pelipisnya. Bingung ingin berkata bagaimana lagi. Ia sudah terlalu pusing untuk membalas ucapan Aldo yang mungkin tidak akan ada ujungnya. Cowok itu pasti akan selalu memberikan jawaban yang pas. Ciri-ciri cowok tidak mau mengalah.  "Dah lah! Sana keluar dari rumah gue!" Lenka mendorong paksa Aldo yang masih duduk. Namun, badan cowok itu sama sekali tidak bergerak. Memang, kekuatan dirinya dan kekuatan Aldo tidak sebanding. Setidaknya, ia ingin mencoba. Siapa tau dewi fortuna berpihak padanya.  "Berhasil buat gue berdiri. Gue biarin lo jadi pacar gue," ucap Aldo membuat Lenka memberhentikan aksinya.  "Kok gitu?!" kesal Lenka.  Aldo mengangkat kedua bahunya tidak peduli, "Lo mau gue berdiri terus jadi pacar gue. Atau lo duduk terus makan bareng gue?" Lenka melipat kedua tangannya di d**a angkuh, "Nggak mau dua-duanya." "Gue serius, ya sama ucapan gue barusan." Lenka mengerjapkan matanya dan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Entah kenapa, ucapan Aldo jadi keramat di telinganya. Ia berdecak dan segera dudu di hadapan Aldo.  Aldo tersenyum senang dan menyodorkan sepiring pasta itu ke depan Lenka. Sedangkan gadis itu hanya menatap pasta itu tanpa sedikit pun menyentuhnya.  "Nggak gue racunin kok. Gue masih pengen lo di samping gue," ucap Aldo sambil melahap pasta-nya.  Lenka mengangkat wajahnya dan menyipitkan matanya curiga menatap Aldo, "Lo suka gue?" Aldo memberhentikan makannya. Ia mendongak dan juga menatap Lenka yang masih menatapnya curiga. Terlihat, Aldo tengah berpikir untuk memberikan jawaban.  "Lo nembak gue?" tanya Aldo balik.  Lenka menggeram kesal, "Gue nanya. Bukan nembak lo." Aldo membenarkan posisi duduknya dan menatap lekat gadis dihadapannya. Seraya berkata, "Belum." Lenka menghela napasnya lega saat mendengar jawaban dari Aldo walau ia sedikit terkejut. Dilihat dari perlakuan kakak kelasnya itu terhadapnya, begitu kentara kalau cowok itu suka padanya. Namun, yasudahlah. Pikiran seseorang tidak ada yang bisa menebak. Bahkan psikolog pun bisa saja sedikit meleset mendiagnosis pikiran seseorang. Apalagi dirinya. Aldo terkekeh melihat raut wajah Lenka, "Kecewa lo?" Lenka mendongak dan langsung menggeleng, "Nggak lah! Bagus kalo lo nggak suka sama gue." "Gue bukannya nggak suka. Tapi belum. Jadi, lo tenang aja."  Lenka menggeleng cepat, "Bukan gitu maksud gue. Lo--" Aldo berdiri membuat Lenka memberhentikan ucapannya. Cowok itu memasang jaketnya dan mengambil kunci mobilnya. Ia menatap Lenka yang juga tengah menatap dirinya dengan bingung. "Gue udah suka sama lo." Aldo berbalik dan meninggalkan Lenka yang terdiam di kursinya. Gadis itu menatap punggung besar itu melangkah menjauhinya. Entah kenapa, gejolak aneh berdesir dalam tubuhnya. Termasuk hati dan jantungnya.  Lenka menggelengkan kepalanya cepat untuk mengusir pikiran anehnya itu. Ia memegangi dadanya yang sedikit berdetak.  "Sadar, Lenka! Dia itu tipe cowok playboy. Stop buat baperan!" ucap Lenka dengan tegas untuk meyakinkan dirinya.  Lenka sedikit menyesal telah terlahir dengan hati yang lembut. Hingga perlakuan kecil seperti ini saja membuat hatinya terenyuh, dan bisa saja ia menyukainya jika cowok itu terus-terusan berada di dekatnya.  "Gue harus jauh-jauh dari dia!" *** Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD