Seperti biasa, setiap gadis itu pulang, suasana yang pertama ia rasakan adalah, sepi. Mereka tidak mempunyai asisten rumah tangga untuk membersihkan rumah mereka. Walau, rumahnya tidak berantakan karena hanya ada dirinya serta kakaknya, yang terkadang ayahnya pulang ke rumah lalu pergi lagi.
Rumah itu sangat gelap. Karena, mereka berdua berangkat pagi dan lampu pasti mereka matikan. Dirinya yang datang selalu dekat maghrib, apalagi kakaknya yang selalu datang hingga tepat tengah malam. Membuat hati Lenka benar-benar kesepian.
Mengapa Lenka tidak memilih keluar dan bersenang-senang? Ia ingin. Namun, ia tidak bisa. Untuk hal itu saja dari dulu tidak pernah ia lakukan. Paling, dia jalan-jalan bersama ibunya. Namun sekarang?
Lenka bukan seorang gadis introvert. Hanya saja, ia terlalu trauma untuk bertemu dengan teman sebaya-nya yang mungkin memiliki berwajah dua serta berjuta sifat. Ia ingin sendiri. Setidaknya, ia ingin menunda. Walau mungkin cepat atau lambat, ia akan kembali merasakan itu semua.
Baru saja ia ingin melangkahkan kaki di anak tangga pertama, suara dering singkat ponselnya membuat ia menghentikan langkahnya. Itu notif pesan. Lalu, ia membuka pesan itu.
"Mau jalan bareng gue nggak?"
Ia mengerutkan keningnya. Ini nomer tidak dikenal mengirimkan pesan padanya. Tidak ingin menerka, ia lebih memilih menelpon nomer tidak dikenal itu.
"Halo? Lo siapa?" ucap Lenka saat dering pertama terhubung.
"Gue. Lupa, ya?"
Lenka kembali mengerutkan keningnya. Merasa tidak asing dengan suara itu.
"Ck. Percuma cantik, tapi pelupa."
Lenka membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang orang disebrang telpon itu katakan. Ia menjauhkan ponselnya dan melihat nomer tidak dikenal itu dengan tatapan heran. Siapa dia?
"Lo nelpon duluan, sok kenal. Kok lo ngatain gue, sih?!" kesal Lenka.
"Iya habis, lo lupa sama gue."
Lenka menarik napasnya dan berkacak pinggang dengan sebelah tangannya yang bebas, "Kalo gue kenal sama lo, mungkin lo memang orang yang nggak patut diingat!"
"Eleh. Liat aja, ntar lo juga bakal inget terus sama gue."
"Jijik! Siapa sih lo? Dasar sinting!" Lenka memutuskan panggilan itu secara sepihak. Memasukkan ponselnya ke dalam saku seragamnya dan memilih melanjutkan langkahnya untuk ke kamarnya. Ia ingin segera melampiaskan kekesalannya itu dengan berendam di bathup. Ia ingin, tidak memingat hal yang barusan terjadi.
Walau sebenarnya, ia juga kepo dengan siapa dibalik panggilan misterius itu. Namun, ia urungkan. Ia tidak ingin mengurus kehidupan yany menurutnya unfaedah itu. Lebih baik, ia matikan ponselnya dan ingin segera berendam di dalam bak mandi.
-----
"Habis nelpon siapa lo, Do? Jauh amat. Sini kali," celutuk Reno sedikit heran dengan sahabatnya itu yang tiba-tiba menjauh untuk menelpon.
Aldo menoleh, lalu ia masukan ponselnya itu ke dalam saku celananya dan melangkah menghampiri sahabat-sahabatnya.
"Habis nelpon siapa 'sih? Kayaknya serius banget," ucap Adit.
Reno mengangguk menyetujui, "Telpon dari rentenir, Do?"
Rian yang mendengar itu langsung memukul kepala Reno dengan kotak kacamata miliknya membuat cowok itu meringis dan menatap kesal ke arah Rian.
"What are you doing?!" ucap Reno dengan nada tak percaya dengan apa yang dilakukan Rian pada dirinya.
"Nggak usah sok inggris kalo aplikasi translate masih nongki manis di hp," balas Rian.
Reno hanya menggerutu kesal dan menatap tajam ke arah Rian yang tidak diperdulikan oleh cowok itu. Rian beralih menatap Aldo yang baru saja duduk di sebelahnya.
"Nelpon Lenka, ya? Gimana?" tanya Rian.
Aldo menggelengkan kepalanya, "Gue rasa, dia memang bukan Kesha."
Rian mengerutkan keningnya sambil membenarkan duduknya menghadap Aldo, "Jadi bener, di dunia ini, kita punya tujuh kembaran?"
"Jadi maksud lo, itu kembaran Kesha?" sahut Adit juga.
Aldo kembali menggelengkan kepalanya, "Mungkin... cuman mirip."
Adit menghela napasnya, "Dia bukan cuman mirip, Do. Sama persis! Gue aja pertama kali liat dia syok bukan main."
Reno yang mendengar itu pun menatap ketiga sahabatnya secara bergantian, "Jadi, lo lo pada kaget liat Lenka gara-gara mirip Kesha, ya?"
Adit menoleh dan mengangguk, "Memang apalagi?"
Reno mengerjapkan matanya, "Apa cuman gue, yang kaget karena dia cantik bak bidadari?"
Rian menepuk pundak Adit dan menggelengkan kepalanya mengisyaratkan agar Adit tidak memperdulikan ucapan Reno. Adit pun mengangguk dan kembali ke posisi awalnya menghadap Aldo.
"Gue sih nggak bisa ngasih kesimpulan itu Lenka atau Kesha. Kalo mereka orang yang berbeda, mereka memang benar-benar mirip. Tapi, kalo itu orang yang sama, buat apa Kesha ganti identitas-nya seakan-akan dia baru kenal sama kita?" jelas Rian.
"Tapi kalo itu orang yang sama, menurut gue bisa aja. Apa sih yang nggak mungkin di dunia ini?" ucap Adit.
Aldo hanya diam memikirkan argumen yang ada di otaknya dan pendapat para sahabatnya. Mungkin bisa saja itu Kesha. Karena, gadis itu menghilang tanpa adanya kata pamit. Seakan-akan hilang ditelan bumi. Bisa saja 'kan, dia ingin memulai hidup baru?
Memang benar, hidup Kesha saat itu benar-benar berantakan. Maka karena masalah itu lah, ia dan Kesha harus berpisah. Itu pun karena gadis itu tiba-tiba saja menghilang dari hidupnya.
Dan sekarang? Seorang gadis yang sangat mirip dengan pujaan hatinya, datang ke hadapannya. Bukan hanya sekedar mirip, namun persis. Apakah salah, Aldo beserta teman-temannya berasumsi seperti itu?
"Bukannya lo pernah ngantar dia pulang, Do? Gimana rumahnya? Sama kayak rumah Kesha dulu?" tanya Rian saat ingat bahwa Aldo pernah mengantarkan gadis itu pulang.
Aldo menggelengkan kepalanya, "Beda. Itu bukan rumah Kesha."
Semua menjadi terdiam. Suasana tiba-tiba saja hening di sekitar mereka. Hanya ada suara bungkusan snacks karena Reno tengah memakan cemilannya.
"Dia bukan Kesha. Gue yakin," ucap Reno santai sambil memakan cemilannya itu.
Adit mengangkat sebelah alisnya, "Se-yakin mana cinta lo sama Viola?"
"Viola beda lagi! Ini masalah percintaan Aldo, bukan percintaan gue," jawab Reno yang langsung saja diangguki oleh Adit.
Reno menatap para sahabatnya satu per-satu. Dari wajah mereka, seakan tidak ada yang mempercayainya. Ia menghela napas. Menyesal telah dilahirkan dengan kebegoan yang terlalu mendarah daging. Sehingga kadang bisa diragukan sepereti ini.
"Jinjja! Jarang-jarang coba gue serius gini. Hargain kek!" kesal Reno.
Aldo berdiri dari duduknya yang langsung diikuti oleh Adit dan Rian membuat Reno mengerjapkan matanya bingung menatap sahabat-sahabatnya.
"Lah, mau ke mana? Belum juga bel Cinderella bunyi, kok pada berdiri?" heran Reno yang tidak dihiraukan oleh sahabatnya dan pergi melangkah meninggalkan cowok itu sendiri.
Reno menarik napasnya dan mengeluarkannya perlahan sambil mengelus-elus dadanya, sabar. Lalu, matanya teralih kepada ponselnya yang berdering durasi sedetik itu di atas meja.
Ia mengambilnya dan tersenyum lebar menampilkan jejeran gigi rapinya saat tau siapa yang telah mengirimkan pesan kepadanya.
"Ya Allah, Viola. Kapan jeleknya 'sih?" ucapnya sendiri dengan nada kagum sambil melihat foto profile w******p-nya Viola.
-----
Tbc