Lenka melangkah menyusuri koridor kelas sambil memainkan ponselnya. Dengan earphone yang terpasang hanya di telinga kirinya, sambil bersenandung pelan, adalah kebiasaan gadis dengan surai hitam pekat itu.
Baru saja ia memasuki kelas, pandangan pertama yang ia lihat adalah sepasang kekasih, yaitu Tara yang duduk di kursi, sedangakan Rian hanya berdiri di depan Tara. Namun, bukan itu yang mengalihkan perhatiannya, melainkan kelas yang sangat sepi. Hanya ada Tara dan Rian saja di dalam kelas sebelum ia memasuki kelas itu.
"Kok sepi, Tar? Yang lain ke mana?" tanya Lenka.
Tara maupun Rian, tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Membuat Lenka mengernyit. Ia melihat seksama wajah kedua orang itu. Apa yang sebenarnya terjadi, dan tepat, ada aura mematikan yang terpancar di wajah Tara.
"Tar?" panggil Lenka ragu.
"KAMU KOK BONCENGAN SAMA DIA?!"
Lenka meringis mendengar itu. Ia sudah tahu pasti apa masalahnya. Jika ia berlama-lama di sini, gendang telinganya bisa saja pecah hanya mendengar teriakan Tara seperti tadi.
"Sayang, aku bisa jelasin. Itu sem---" ucapan Rian terpotong.
"Apa yang mau di jelasin?! Perbuatan lebih jelas dibandingkan ucapan! Apalagi cowok omdo modelan kayak kamu!"
Lenka perlahan mundur. Ia memasang kedua earphone-nya dan langsung berbalik meninggalkan kelas. Tidak ingin ikut campur dalam masalah itu. Ia mengerti, kenapa teman-teman kelasnya tidak ada satupun yang tertinggal di dalam sana.
"Terus gue ke mana? Kantin? Pagi banget pergi ke kanti jam segini," ucapnya sendiri.
Lenka tetap melangkah menyusuri koridor kelas. Tak tau tujuannya ke mana. Namun, pada saat ia berjalan, ia melihat salah satu kakak kelas yang ia kenal tengah berjalan ke arahnya. Ia tersenyum. Akhirnya, ada seseorang yang dapat ia sapa.
"Kak Reno!" teriak Lenka. Ia melambaikan tangannya saat Reno menoleh padanya. Lenka langsung berlari mengarah kakak kelasnya itu.
"Kenapa, Len?" tanya Reno.
"Tara sama Kak Rian berantem. Jadi, bingung mau ke mana," jawab Lenka.
Reno menganggukan kepalanya, "Mereka emang sering gitu. Semua orang yang disekitar mereka, pasti Rian usir. Lo di usir mereka juga?"
Lenka menggelengkan kepalanya, "Nggak. Gue nyadar aja."
Reno lagi-lagi menganggukan kepalanya. Seraya berkata, "Jadi, lo mau ke mana?"
Lenka terdiam sejenak. Lalu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Reno menepuk tangannya sekali membuat Lenka sontak kaget dengan sikap kakak kelasnya yang tiba-tiba itu.
"Ikut gue aja, yok! Ke basecamp," ucap Reno.
Lenka mengerjapkan matanya dan mengangkat sebelah alisnya bingung. Belum saja ia menjawab, Reno sudah seenak jidatnya menggandeng tangannya dan menyeret gadis itu pergi dari sana.
-----
Aldo mengernyit saat melihat punggung cewek ada di meja kantin yang biasa mereka duduki. Tidak mungkin itu bukan tempat yang biasa mereka tempati. Bahkan di sana sudah ada Reno dan Adit yang seperti berbincang ria dengan cewek itu.
Selama ini, hanya Tara dan Syila yang pernah duduk di sana. Tidak pernah ada cewek lain. Apakah itu cewek baru-nya Adit?
"Eh, Do!" sapa Adit saat Aldo sudah dekat dengan mereka.
Lenka menoleh ke belakang saat Adit mengucapkan itu. Ia tidak terlalu terkejut dengan kedatangan Aldo. Karena ia sudah tahu lebih dulu, kalo Reno dan Adit adalah sahabat karib cowok itu.
Namun, berbeda dengan reaksi Aldo. Cowok itu nampak terkejut tak menyangka bahwa yang ia tebak tadi adalah cewek yang ia bonceng barusan.
"Loh, ngapain lo di sini?" tanya Aldo.
"Ngopi," balas Lenka seadanya. Ia kembali menghadap depan tak memperdulikan cowok yang ada dibelakangnya itu.
Aldo duduk di kursi sebelah Lenka. Pertama, ia menatap tajam Reno karena masih kesal kejadian di parkiran tadi. Kedua, ia menoleh ke samping mengarah Lenka yang tengah menyeruput teh hangat-nya.
"Katanya ngopi," celutuk Aldo.
"Mau bodohin lo doang," balas Lenka tanpa menatap wajah Aldo.
Aldo mengangkat sebelah alisnya. Ia mengambil air mineral yang ada di atas meja dan langsung meminumnya.
"Eh, Do. Btw, muka Lenka mirip banget, ya, sama Kesha."
Mendengar itu, Aldo langsung tersedak. Membuat Adit menjadi panik. Takut, apa yang terjadi pada Reno, akan terjadi padanya. Ia tidak ingin, hanya masalah kecil seperti ini, nilai harian fisikanya akan turun drastis. Cukup Reno, Adit jangan.
Sedangkan Lenka, ia masih meminum teh hangatnya. Berlakon seakan tidak kepo tentang masalah ini. Walau sebenarnya, ia penasaran siapa Kesha. Ditambah, ini juga menyangkut dirinya.
"Lo bisa diem nggak?" ucap Aldo tajam.
Adit menganggukan kepalanya cepat dan mengangkat tangannya ke mulutnya seakan tengah mengunci mulutnya. Tidak ingin berdebat. Ia harus mengalah. Atau nilainya akan terancam musnah.
Reno menoleh ke arah Lenka yang hanya terdiam. Gadis itu sama sekali tidak bertanya. Padahal, Adit sudah jelas mengatakan bahwa Kesha itu mirip dengan dirinya. Apakah gadis itu tidak penasaran?
"Len, lo nggak nanya siapa Kesha? Dia mirip banget loh sama lo," ucap Reno sedikit heran dengan sikap Lenka yang tiba-tiba saja menjadi acuh. Berbeda saat Aldo belum datang, Lenka sangat banyak sekali bertanya kepada Reno dan Adit. Apa yang mereka berdua bicarakan, selalu gadis itu tanyakan.
Lenka membalas menoleh ke arah Reno. Lalu beralih menatap Adit, dan terkahir menatap Aldo yang ternyata juga tengah menatapnya. Ia meringis. Sebenarnya, ia penasaran. Tapi, ia tidak ingin mengetahui urusan pribadi yang menyangkut cowok menyebalkan yang ada di sebalahnya ini.
"Hmm... Gu--gue pensaran siapa Kesha. Katanya mi--mirip gue, 'kan?" ucap Lenka akhirnya.
Reno langsung membenarkan duduknya seperti orang yang ingin siap menggibah itu. Belum saja Reno mengelurakan suaranya. Aldo sudah lebih dulu berdiri dari duduknya dan melangkah menjauhi mereka bertiga. Itu membuat Reno mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan jurus rempongnya.
"Dia kenapa?" tanya Lenka.
Adit hanya bisa menghela napasnya. Lalu, ia beralih menatap Reno yang sudah menampilkan senyum bersalah dan peace-nya.
Lenka terdiam dengan pikirannya. Ia jadi ingat pertanyaan Aldo pada saat cowok itu datang ke rumahnya.
Entah ini perasaan apa, sepertinya, Kesha ada seseorang yang begitu penting bagi Aldo. Bahkan cowok itu rela datang ke rumahnya hanya untuk menanyakan hal sepele itu. Ditambah, temannya pun mengatakan bahwa dirinya begitu mirip dengan Kesha. Segitu dekatnya kah Kesha dengan Aldo dan para sahabat cowok itu?
***
Tbc