5. Siapa kamu?

904 Words
Lenka menoleh ke samping mengarah kakak kelas yang baru saja ia temui bersama Tara pada saat jam istirahat waktu lalu. Ia juga tidak menyangka, ternyata ia akan di pertemukan lagi dengan cowok arogan ini.  Sekarang ini, mereka tengah berada di kios pembuatan kunci. Untung saja, ada orang yang ingin membantunya. Ada rasa suka dan dukanya di bantu oleh kakak kelasnya itu. Sukanya, ia tidak lagi cemas sendiri. Dukanya, sedari tadi, Aldo hanya diam dan tidak terlalu merespons Lenka saat gadis itu ingin menghilangkan suasana canggung.  Lenka menggelengkan kepalanya. Ia berpikir, setelah ini ia tidak akan bertemu dengan cowok ini lagi. Hanya kali ini. Jika ia menghilangkan kuncinya lagi, ia akan mencari orang lain tanpa harus meminta bantuan kepada kakak kelasnya itu.  "De, kuncinya udah jadi." Lenka berdiri dari duduknya saat bapak pembuat kunci itu berkata. Namun, saat ia ingin melangkah, Aldo juga ikut melangkah membuat Lenka refleks menghentikan rencana melangkahnya. Ia melihat Aldo berdiri di depan bapak itu dan mengeluarkan dompetnya lalu membayarnya.  Aldo memberikan kunci itu kepada Lenka membuat gadis itu sedikit tersentak. Ia menatap Aldo sesaat, lalu mengambil kunci itu dari tangan cowok itu.  "Gue buru-buru. Pesan ojek online. Nggak papa, kan?" tanyanya.  Lenka yang ingin cepat-cepat menjauh dari Aldo, langsung menganggukan kepalanya setuju, "Iya. Nggak papa." Aldo terdiam menatap Lenka. Membuat Lenka risih sendiri.  "Kenapa?" "Gue antar aja." Lenka melotot, "Nggak perlu!" Aldo tersenyum miring, "Gue tau. Lo nggak nyaman deket gue, 'kan?" Lenka langsung menggelengkan kepalanya cepat, "Nggak gitu!" Aldo mengangkat kedua bahunya acuh, "Bagus. Ayo ke mobil." Lenka menghela napasnya sambil melihat punggung tegap itu melangkah dengan entengnya. Ia mendengus, hari pertama sekolahnya begitu menyedihkan. Ia tidak pernah berpikir bahwa akan kehilangan kunci pada saat pertama masuk sekolah.  Aldo berbalik saat merasa Lenka tidak membuntutinya. Ia berpaling sempurna menghadap gadis yang telak menampilkan ekspresi tidak nyamannya.  "Woi! Katanya lo sah-sah aja deket gue," teriak Aldo membuyarkan lamunan Lenka.  Lenka mengangkat wajahnya dan melihat Aldo berdiri yang sudah lumayan jauh darinya. Dengan hati terpaksa, ia melangkah menghampiri Aldo dengan senyum miring yang ia tampilkan di wajah arogannya.  *** Lenka menghempaskan tubuhnya di kasur queen size-nya. Ia menatap langit-langit kamarnya yang di penuhi dengan semua tata surya. Ia tersenyum. Mengingat betapa kerasnya ibunya dulu untuk menginginkannya memasuki jurusan Astronomi.  Lenka duduk dengan kedua kaki terlipat. Ia mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk seseorang. Siapa lagi kalau bukan kakaknya.  To : Abang durhaka -Kapan pulang? Bawain makanan, ya, bang. Send.  Lenka meletakkan kembali ponselnya di atas kasur. Ia beranjak dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rasanya, ia sudah terlalu lama memakai seragam. Ia merasakan semua kulitnya sangat lengket. Situasi yang di mana selalu dibenci para kaum perempuan.  Namun, langkahnya terhenti saat ia mendengar bel pintu depan berbunyi. Ia berbalik menghadap pintu kamarnya. Lalu, melangkah untuk melihat siapa yang telah datang ke rumahnya.  Saat Lenka membuka pintu rumahnya, seorang cowok dengan tinggi jangkung berdiri membelakanginya. Ia mengernyit karena tidak mengenali cowok itu.  "Siapa?" ucap Lenka.  Cowok itu berbalik dan menampakkan wajahnya membuat Lenka seketika kaget. Cowok arogan yang beberapa menit lalu telah membantunya. Kenapa cowok itu bisa ada di sini?!  "Kak Aldo? Ngapain di sini? Belum pulang?" tanya Lenka sekaligus. Ia sedikit tidak percaya dengan kedatangan tamu modelan Aldo. Pasalnya, baru beberapa menit yang lalu cowok itu mengantarnya dan berpamitan untuk pulang.  Cowok itu kembali menyunggingkan senyumnya dan memasukkan tanganya ke dalam saku celananya. Sambil menatap enteng Lenka.  "Mau gue jawab yang mana dulu?" tanyanya balik.  Lenka mengibaskan tangannya, "Satu pertanyaan aja. Lo dari tadi belum pulang?" "Balik lagi." "Yang bener dong kalo jawab!" kesal Lenka.  Aldo mengerutkan keningnya, "Gue udah jawab dengan jujur." Lenka menarik napasnya dan membuangnya perlahan. Ia mengangguk saja tidak ingin memperpanjang perdebatan unfaedah ini. Jika ia tidak mengalah, mungkin sampai malam nanti cowok itu tidak akan menjawab dengan benar.  "Yaudah. Pertanyaan lain. Ngapain lo di sini? Nggak punya rumah?" sarkas Lenka.  Aldo kembali terdiam. Sedetik kemudian, ia berkata, "Doyan banget lo nanyain sekaligus gitu. Nggak pusing?" "Lebay. Nggak bakalan pusing gue cuman ngomong gini," balas Lenka.  Aldo menganggukan kepalanya tidak membalas apa yang gadis itu ucapkan. Hingga mereka berdiri dengan keterdiaman selama sepuluh detik. Membuat Lenka kesal sendiri dengan kehadiran tamu menyebalkan ini.  "Sebenernya lo mau ngapain sih? Gue capek. Mau istirahat," ucap Lenka kesal.  Aldo menatap Lenka, "Sebenarnya, gue mau nanya sesuatu sama lo." Lenka menganggukan kepalanya, "Tanya aja." "Nama lo... beneran Lenka?" tanya Aldo yang sukses membuat Lenka terdiam dan menatap tak percaya cowok itu.  Lenka mengangkat sebelah alisnya dan menunjuk dirinya sendiri, "Lo kira, gue bohong?" Aldo langsung menggelengkan kepalanya, "Bukan gitu. Gue cuman mau mastiin." "Sama aja, b**o!" "Kasar banget." Lenka mengibaskan tangannya untuk menyudahi ini semua. Ia sudah terlalu kesal dengan kakak kelasnya ini. Sudah datang pada saat waktu yang tidak tepat. Di tambah, cowok itu secara tidak langsung mengatakan dirinya memalsukan identitas.  "Udah lah pulang sana! Pusing kepala gue deket-deket sama lo," sarkas Lenka.  Saat Lenka ingin berbalik meninggalkan Aldo. Namun dengan cepat, Aldo menarik lengan gadis itu membuat ia sontak berbalik. Aldo menatap sendu manik mata hitam itu.  "Gue serius nanya. Lo beneran Lenka, atau lo Kesha?" Lenka langsung terdiam saat mendengar itu. Mendengar betapa seriusnya cowok itu. Di tambah, siapa itu Kesha? Apakah cowok itu benar-benar mempertanyakan ini? Dan apakah ini alasan Aldo datang ke rumahnya?  "Gue tau, sekarang banyak banget pertanyaan yang mau lo katakan ke gue. Tapi, gue nggak bisa ngasih tau sekarang." Aldo melepas cekalan pada lengan Lenka. Perlahan, ia melangkah mundur menjauhi gadis yang sangat mirip dengan dia. Bahkan, ia sampai lupa, bahwa yang ada di hadapannya sekarang adalah adik kelasnya. Sekali lagi bukan dia.  "Maaf, ganggu waktu lo. Gue pulang dulu." Aldo berbalik dan melangkah dengan cepat meninggalkan Lenka yang masih terpaku berdiri di sana. Sedangkan Lenka, ia tidak menjawab. Ia hanya menatap kepergian Aldo yang perlahan meninggalkannya.  *** Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD