4. Kunci mobil

981 Words
"Kak Reno, Kak Aldo. Kenalin, dia Lenka. Siswi baru di kelas gue," ucap Tara memperkenalkan.  Sekedar informasi. Tara memang mengenal Aldo, Reno, Adit dan Rian. Bahkan, Rian memang dekat dengan Tara. Bisa di bilang, mereka cukup akrab. Termasuk, Syila. Yang notabennya juga tengah dikejar oleh Adit.  Reno menoleh ke arah Lenka dengan senyumnya. Ia melangkah ke samping membuat Aldo mau tak mau bergeser karena ulah sahabatnya itu.  "Kenalin, gue Reno. Cowok paling tajir dan ganteng di sekolah ini. Gue suka banget mandangin Tara, walau di hati gue sudah ada Viola. Tapi tiba-tiba, sekarang gue juga suka mandangin Lenka." Reno sudah mengeluarkan kata-kata gombalannya. Ia mengangkat kedua alisnya menunggu respons dari adik kelasnya itu.  "Mau kena tinjuan Rian lo karena mandangin gue?" celutuk Tara.  Reno mengangguk paham sembari mengibaskan tangannya, "Iya gue ngerti. Lo udah sold out." Tara mendesis melihat tingkah laku Reno. Namun sedetik kemudian, ia tertawa karena tingkah laku cowok itu.  Teng teng teng Suara bel pertanda masuk kelas berbunyi. Membuat lamunan Aldo seketika buyar. Ia kembali menatap gadis yang ada di hadapannya. Wajahnya mirip seseorang. Seketika, ia mulai kembali terhipnotis dengan wajah cantik itu.  "Yaudah. Gue sama Lenka ke kelas dulu. Bye!" Sebelum Tara dan Lenka melangkah. Lenka menoleh sebentar ke arah kakak kelasnya itu yang ternyata juga tengah menatapnya. Ia tersenyum. Lalu, ia dan juga Tara melangkah melalui Aldo dan Reno.  Reno dan Aldo berbalik secara bersamaan untuk melihat kedua punggung mungil itu menjauh dari mereka berdua. Reno berdecik dan menggelenhkan kepalanya beberapa kali.  "SMA Nusa Jaya. Memang T.O.P! Isinya cecan-cecan semua!" ucap Reno tanpa mengalihkan perhatiannya.  Aldo diam tidak merespons apa yang di ucapkan sahabatnya itu. Ia juga masih menatap punggung itu. Pikirannya berkata-kata. Itu orang lain yang mempunya tampang sama. Atau justru, itu memang dia?  *** Lenka memasukkan semua buku beserta perlengkapan lainnnya ke dalam tas. Ia ingin bersiap pulang. Sudah lima menit yang lalu bel jam pelajaran telah usai berbunyi.  Tara dan Syila menghampiri meja Lenka. Gadis itu mengangkat wajahnya saat merasa dihampiri. Ia tersenyum ramah.  "Pulang bareng, yuk! Gue antar lo pulang," ajak Tara.  Lenka tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Nggak. Kebetulan, gue bawa mobil sendiri." Tara mengerucutkan bibirnya. Ia sedikit kecewa dengan penolakan Lenka. Namun, setelah itu ia menghela napasnya dan mengangguk mengerti.  "Yaudah. Lain kali, kalo lo nggak bawa mobil. Bilang gue, ya! Biar gue kasih tebengan," ucap Tara lagi.  Lenka lagi-lagi tersenyum dan mengangguk, "Iya. Makasih, Tar." Tara mengacungkan jempolnya sembari mengedipkan sebelah matanya, "Kalo gitu. Kami duluan, ya." Lenka mengangguk. Tara dan Syila melambaikan tangannya.  "Sampai jumpa besok, Len!" ucap Syila riang. Lenka membalas lambaian tangan mereka berdua sampai kedua gadis itu keluar dari ruangan.  Lenka menghela napasnya. Ia kembali merapikan barang-barangnya. Buku-buku memang banyak sekali ia keluarkan. Karena tadi adalah pelajaran Kimia. Ia begitu banyak mencatat apa yang guru katakan. Memang, ia sangat menyukai pelajaran yang berbau IPA. Sedari kecil, ia bercita-cita ingin menjadi dokter kecantikan.  Setelah semua barang sudah ia masukkan ke dalam tas. Ia mencari kunci mobilnya yang ada di saku kecil di dalam tasnya. Ia mengernyit. Benda yang ia cari, tidak dapat ia temukan.  Jantung Lenka tiba-tiba saja berdegup kencang. Ia melepas tasnya dan menatap depan. Meraba saku seragamnya dan saku roknya. Tidak ada.  "Di mana, ya?" ucapnya sendiri. Ia melihat sekeliling. Sepi. Semua teman-temannya sudah pulang beberapa menit yang lalu. Ia memegangi kepalanya. Berpikir, apa yang harus ia lakukan.  Kehilangan kunci, adalah sesuatu yang sering Lenka alami. Terkadang, ia lupa mencabutnya. Atau, ia sudah mencabutnya. Namun, terlepas dari genggamannya.  Lenka mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Mencari kontak seseorang. Setelah menemukan kontak dengan nama yang tepat, tanpa ragu ia langsung menelpon orang itu.  "Apa? Lupa naroh kunci mobil?" Baru dering pertama. Orang itu sudah mengangkat telponnya dan ia langsung mendapat kata seperti itu. Lenka mendengus kasar.  "Iya! Antarin kunci cadangannya," ucap Lenka.  "Nggak. Abang sibuk. Mianhae." Lenka menutup mata dan memegangi kepalanya tak habis pikir dengan jalan pikir kakaknya itu. Dengan santainya menolak dan tak khawatir bagaimana keadaan adik perempuan satu-satunya itu.  "Abang! Gue aduin Papa nanti!" ancam Lenka.  "Aduin aja sana. Lo pikir, yang lebih dimarahin itu siapa? Lo atau gue?" Lenka terdiam sejenak. Ucapan kakaknya ada benarnya juga. Mungkin, Raka akan tetap kena ceramahan ayahnya karena tidak membantu dirinya. Namun, ia yang akan lebih mendapat ceramah. Karena, kebiasaan buruk kehilangan kunci belum bisa ia hapuskan dari kehidupannya.  Pernah dulu, Lenka dan ibunya pergi ke mall. Saat ingin pulang, Lenka tidak mendapat kunci mobil yang telah ia simpan di tas kecilnya. Dengan teganya, ibunya memesan ojek online tanpa mengajak dirinya pulang ke rumah.  Ah, mengingat itu, Lenka menjadi rindu ibunya.  "Gue! Tapi, tolong gue sekarang. Ntar, gue beliin kuota 15 GB deh. Janji." Lenka mulai ber-negosiasi dengan Raka. Memang, Raka harus mendapat iming-iming hadiah terlebih dahulu baru ingin melakukan apa yang Lenka katakan.  "Gue baru aja di beliin Papa kuota. Ngapain harus ngambil tawaran lo?" "Emang Papa ngasih berapa GB?" tanya Lenka. Ia harus bisa menyaingi kuota yang diberikan ayahnya itu agar kakaknya mau membantunya.  "150 GB. Telkomsel." Lenka membulatkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang kakaknya katakan. 150 GB? TELKOMSEL?!  "Tercengang nggak lo? Uang jajan lo seminggu juga nggak bakal cukup beli kuota segitu." Lenka menghela napasnya dan tak menjawab apa yang kakaknya ucapkan. Ia terlalu bingung untuk meminta bantuan dengan siapa. Terlebih, Tara dan Syila sudah pulang. Sedangkan ayahnya, pergi ke luar negri untuk perjalanan bisnis.  "Lo sibuk nge-bucin, ya jadi nggak mau bantuin gue?" tanya Lenka. Setaunya, kakaknya itu baru-baru saja dapat pacar di sekolah barunya.  "Iyalah. Baru beberapa jam gue di sini. Udah ada yang nyantol. Amazing nggak tuh." Lenka menganggukan kepalanya. Ia terlalu pusing untuk berdebat dengan kakaknya yang tak punya prikepersaudaraan itu. "Yaudah. Gue tutup dulu." Lenka mematikan sambungan telponnya secara sepihak. Ia meletakkan ponselnya ke atas meja dengan keras. Sibuk berpikir, dengan siapa ia akan meminta bantuan.  Ia tidak mempunyai kenalan di sini. Ia baru pindah ke kota ini dan tidak mempunyai teman sama sekali. Lenka menenteng totebag-nya dan memilih keluar dari kelas. Siapa tau, ada seseorang yang dapat membantunya.  Lenka menyusuri koridor sekolah. Sudah sangat sepi. Padahal, baru dua puluh menit setelah bel pulang sekolah berbunyi.  Ia menatap layar ponselnya saat dering berduaris satu detik itu terdengar di genggamannya. Ia mengernyit saat ada seseorang mengirimkan pesan padanya melalu DM i********:.  aldo.radhitama -Perlu bantuan?  *** Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD