3. Pertemuan pertama

763 Words
"Gue denger-denger, katanya ada murid baru di kelas sebelas," ucap Adit disela makannya.  Sekarang ini, para-para cogan SMA Nusa Jaya sedang makan di kantin. Meja paling pojok dekat kedai Mbak Yati, adalah tempat mereka yang tidak bisa diganggu gugat lagi. Seakan sudah dibooking, tidak ada satu pun yang bisa duduk di sana.  Reno menganggukan kepalanya, "Bener. Cantik lagi." Rian menoleh ke arah Reno yang tengah memakan cimolnya, "Lo udah liat? Gercep amat." Reno mengangkat kedua bahunya, "Nggak sengaja, gan. Gue tadi liat Tara jalan keliling sekolah sama cewek. Sumpah deh, cantik. Pengen rasanya gue bungkus terus bawa pulang." Rian mendesis, "Semua cewek aja pengen lo bawa pulang." "Astuti, lo bawa pulang juga, Ren?" celutuk Adit.  Astuti adalah cewek kutu buku. Penampilannya bisa dikatakan begitu culun. Cantik, tapi entah kenapa, Reno benar-benar tidak tertarik. Bahkan ada yang memberitahu, bahwa Astuti ternyata menyimpan perasaan untuk Reno. Maka dari itu, para sahabatnya selalu menggodanya dengan Astuti.  "Nggak! Astuti gue hempas!" balas Reno.  Aldo mengangkat wajahnya dan menatap Reno, "Siapa tau masa depan nanti, Astuti yang hempas lo." Rian dan Adit mengangguk setuju dengan ucapan Aldo. Membuat Reno mendesis, tidak suka jika teman-temannya menggodanya dengan Astuti.  Setelah itu, mereka kembali sibuk dengan masing-masing makanan mereka. Sampai akhirnya, salah satu siswa berlari ke arah mereka dan berhenti tepat di samping Rian.  "Kak, di suruh ke ruang guru. Ada yang mau di omongin," ucap siswa berkacamata itu. Rian menoleh dan mengangguk tanda mengerti.  Rian adalah wakil ketua OSIS. Orang kedua yang paling waras di antara mereka ber-empat adalah Rian. Hanya Rian yang memiliki pemikiran sangat dewasa. Melarang para sahabatnya yang ingin melanggar peraturan. Maka dari itu, salah satu dari mereka tidak ada yang pernah membuat para guru marah kepada mereka.  Intinya, image mereka masih begitu baik di mata orang-orang. Terlebih, di mata para guru.  "Party, Yan?" tanya Adit. Karena dulu Rian pernah bilang, kalau sekolah mereka akan mengadakan party setiap tahunnya.  Rian mengangguk, "Yoi. Yaudah. Gue duluan, ya." Mereka semua mengangguk, dan Rian melangkah pergi meninggalkan para sahabatnya yang di ekori oleh adik kelasnya tadi menuju ruang guru.  --- Aldo melangkah menyusuri lorong kelas dua belas yang di ikuti Adit dan Reno di sampingnya. Seperti biasa, mereka menjadi pusat perhatian pada saat jam istirahat. Entah apa yang membuat mereka menjadi se-famous ini. Rasanya, mereka tidak pernah melakukan hal yang begitu istimewa dulu sehingga mereka menjadi selebgram dadakan.  "Kurang Rian nih. Nggak asik," ucap Adit. Biasanya, mereka kemana-mana selalu ber-empat. Memang, hanya Rian yang selalu sibuk di banding mereka bertiga.  "Makanya, cari kegiatan sana. Biar ngerasain, gimana rasanya jadi orang sibuk," balas Aldo.  Adit menatap malas Aldo, "Iya tau. Yang sering ikut olimpiade." Aldo terkekeh. Jika Rian yang selalu sibuk dengan organisasi sekolah. Lain halnya dengan Aldo, yang selalu sibuk dengan kompetisi Fisika-nya. Kepintaran Aldo sudah di acungi jempol oleh para guru. Itu menambah image baik Aldo, dibanding Adit dan Reno yang kerjaannya hanya datang ke sekolah lalu pulang ke rumah.  Aldo adalah orang pertama yang paling waras di antara para sahabatnya.  Adit melebarkan matanya dan tersenyum lebar saat melihat seorang gadis berkuncir kuda tengah melangkah ke arahnya. Ia menepuk pundak Aldo yang memang berada di sebelahnya, dengan pandangan yang tak luput dari sosok gadis pujaan hatinya.  "Syila, Do. Cantik bener," ucap Adit dengan nada tak habis pikir dengan kecantikan gadis yang bernama Syila itu.  Aldo hanya menganggukan kepalanya dan menepis pelan tangan Adit yang sedari tadi menepuk pundaknya. Ia menghela napas kasar. Merangkul pundak Reno dan membawanya pergi dari sana. Sedangkan Adit, masih setia berdiri dengan tatapan kagum yang tertuju kepada Syila seorang.  "Hai, bebeb," celutuk Adit saat Syila berlalu di sampingnya.  Syila memberhentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Adit yang sedari tadi menatapnya seakan tanpa berkedip. Membuat Syila risih sendiri.  Syila menjentikan jarinya tepat di wajah Adit membuat cowok itu mengedipkan matanya.  "Kedip! Ntar lo katarak." Syila kembali melangkah tanpa menunggu respon dari cowok itu.  Adit hanya terdiam dan menatap punggung mungil itu menjauh darinya. Perlahan, senyumnya mengembang. Membuat orang di sekitarnya bergidik ngeri akibat ulah Adit.  --- Aldo dan Reno masih melangkah menyusuri koridor untuk kembali ke kelas. Hanya sisa mereka ber-dua. Aldo harap, Reno akan tetap setia di sampingnya. Namun, Aldo tidak berharap lebih. Karena pada dasarnya, Reno lah yang paling bengal di antara mereka ber-empat.  Aldo mengernyit saat Reno tiba-tiba saja berhenti. Ia menatap wajah Reno yang diam hampir tak berkedip seperti yang dialami oleh Adit barusan.  "Lo kenapa?" tanya Aldo.  "Tara, bro. Cantik banget," ucap Reno.  Aldo langsung menoleh ke arah pandang Reno. Benar saja, Tara yang sedang berjalan dengan anggunnya melangkah ke arah mereka berdua. Namun, satu sosok gadis membuat Aldo juga ikut terdiam di tempatnya.  Tara beserta seorang gadis dengan surai hitam pekat tergerai itu sudah berhenti tepat di hadapan Reno dan Aldo. Membuat keduanya terdiam dengan arah pandang masing-masing. "Kak Reno, Kak Aldo. Kenalin, dia Lenka. Siswi baru di kelas gue." Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD