Bab 9

967 Words
Aline di kamarnya sedang bingung tujuh keliling, disatu sisi dia tidak mau melepas ikatan persahabatannya dengan Julian, disisi lain, dia juga ingin menjadi kekasih Julian. Sesungguhnya Aline sangat takut jika harus kehilangan Julian saat hubungan percintaannya tidak berhasil. Aline meremas ujung selimutnya dan bersembunyi dibalik selimut, berharap menemukan jawaban diantara kegelapan, hatinya yang kemelut dan batinnya penuh dengan perang, sungguh Aline sangat takut untuk menghadapi perasaan Julian. "Aduh aku harus bagaimana ini," gumam Aline pelan. Semakin Aline bingung semakin rumit rasanya hidupnya, Aline bangkit dan turun ke bawah mengambil air putih. Dia terkejut dan berteriak saat Julian ada di ruang tamunya. "Astaga kamu bagaimana bisa di dalam rumahku Jul?" tanya Aline bingung. "Ah aku masih ingat passcode rumahmu hehe, lagipula aku semakin resah karenamu. Katakan padaku Aline, apa yang harus aku lakukan saat ini?" tanya Julian. "Maksudmu? Tentang hubungan kita?" tanya Aline kembali. Julian mengangguk dan mengucapkan, "Iya bagaimana jika kita menjalin hubingan berpacaran?" tanya Julian gemas. "Entahlah Julian, aku masih bingung. Aku tidak ingin kehilangan sahabar terbaik sepertimu." Aline lalu duduk di samping Julian, sembari memberikan minuman. "Aku ingin memastikan sesuatu," ucap Julian. Dia lalu mendekat ke arah Aline dan menghapus jarak diantara mereka dan mencium bibir Aline, melumatnya pelan. Aline mengikuti lumatan Julian dan mendesah pelan, serasa ada getaran dalam hatinya dan tubuhnya melemas. Ciuman Julian semakin dalam dan menyecap bibir Aline. "Jul ... stop ... ah ... ple .. please ...," ucap Aline terbata-bata. Julian melepaskan ciumannya, satu hal yang Aline baru tau seumur hidup, Julian handal melakukan ciuman. Napas Julian terengah-engah dan menatap dalam Aline, dia mengecup keningnya. "Tolong, Tolong Aline, please be my wife. I can't hold on anymore." Julian kembali mencium bibir Aline, kali ini pelan dan penuh perasaan. Aline melepaskan ciumannya pelan. "Please say yes." Julian menatap Aline dengan wajah memelas. Perasaan yang ia pendam bertahun-tahun akhirnya tersampaikan. "Yes," ucap Aline sambil tersenyum malu. Julian tersenyum lebar dan memeluk Aline erat, dia sangat mencintai Aline sepenuh hatinya, akhirnya dia mendengar Aline menyetujui permintaannya. "Terimakasih Aline, aku sangat bersyukur memilikimu. Aku janji akan menjaga hubungan kita Lin."   Julian meraih tangan Aline dan mengecup punggung tangannya. Julian mengambil sebuah kotak merah bludru dari saki celananya, membuka kotaknya dan menyematkan cincin ke jari Aline. Hati Aline berdesir dan wajahnya bersemu merah, dia mendapatkan perlakuan paling romantis dari Julian. Suasana seketika canggung, Julian terseyum malu juga. “Lihatlah, wajahmu bersemy merah,” ucap Julian tersenyum. “Oh ya? Wajahmu juga.” Aline mencubit pelan pipi Julian dan mengecupnya. “Bagaimana dengan orang tuamu? Apa menyetujui aku sebagai calon suami?” tanya Julian dengan tatapan penasaran. Julian sepertinya sangat percaya diri untuk menghadapi orang tua Aline. “Mmm ... coba aku telpon mereka dulu.” Aline merogoh sakunya dan mencari nomor orang tuanya, dia lalu menelpon ibunya, terdengar suara ibunya yang mengangkat telponnya dan membuatnya lega. “Hei Mom, I want to tell you something ...,” ucap Aline “Oh Dear, please don’t talk with me right now. I’m so busy.” Dari seberang sana ibunya mendengus pelan dan hal itu membuat Aline sakit hati. Dia tak percaya ibunya tidak mau mendengar sepatah kata apapun darinya. “This is important, I want to marry with someone I loved.” “What? Are you kidding on me? Oh Honey, I’ll be come home with your dad this week. I’m so curious, who is he? Is it Julian?” Aline tersenyum senang dan wajahnya kini berbinar terang seperti lampu philips. elama hampir empat tahun ini orang tuanya belum juga pulang dan bahkan tidak mau menjenguknya, tapi ketika pernikahan Aline, akhirnya hati ayah dan ibunya tergerak untuk kembali pulang ke Indonesia. "I love you Mom, thank you. Julian is here, do you want to talk with him?" tanya Aline. "Yes, Please." Aline memberikan ponselnya kepada Julian dan Julian langsung menerimanya. "Hei Julian! Take care of my daughter, If you broke her heart I'll kill you," ucap Ayah Aline. Julian terkejut yang berbicara bukan lagi ibu Aline, tapi ayahnya. "Of Course, I love Aline with all of my heart." Aline memeletkan lidahnya, geli akan gombalan Julian. Terdengar suara gelak tawa di seberang sana, mereka lalu berbincang ringan dan ayah ibu Aline terlihat menyetujui pernikahan mereka. Julian memberikan hanphone Aline setelah telepon selesai, dia menghembuskan napas dan menyeka kerungatnya yang muncul di dahi. Aline tertawa kecil melihatnya. "Kenapa Jul?" tanya Aline menggoda. Dia tau Julian sangat gugup berbicara kepada orang tuanya. "Tidak apa-apa." Julian lalu meneguk air mineralnya sampai habis dan Aline tertawa kecil melihatnya. “Come here, let me kiss you.” Aline lalu duduk di pangkuan Julian dan mau menciumnya, namun baru beberapa centi, Julian menjauhkan wajahnya. “Jangan Aline, nanti aku takut melewati batas.” Julian lalu memeluk Aline dan mengecup keningnya lama, meski restu sudah di tangan Julian, dia tidak mau merusak masa depan Aline dengan keegoisannya, Julian lelaki yang bertanggung jawab dan memahami Aline lebih dari apapun. “Jul, perutku lapar. Mari kita memesan makanan.” Aline mengeluarkan ponselnya dan menghubungi ojek online untuk memesan makanan, angin malam begitu dingin menusuk tulangnya, namun kehangatan tatapan mata Julian menghapuskan segalanya. “Kamu mau makan apa?” tanya Aline. “Apa ya, aku ingin makanan yang kita makan bersama saat pertama kali bertemu,” ucap Julian. Aline menyerngitkan dahinya, dia mencoba mengingat-ingat makanan apa yang Julian mau, bayangannya kembali ke tiga tahun yang lalu. Saat itu Julian mengenakan kaus basket tim kampus dan tidak sengaja menabrak Aline saat berjalan di kantin dan tidak sengaja menumpahkan ketoprak yang Aline bawa, Julian lalu mengajak Aline duduk lagi di bangku kantin dan memesankan makanan untunya. Seingat Aline makanan itu adalah ... Bebek goreng penyet. “Ah aku ingat!” ucap Aline bersemangat dan menatap Julian dengan senyuman penuh. “Oh iya kah? Apa itu?” “Bebek goreng penyet!” ucap Aline tersenyum. Julian tersenyum dan mengangguk cepat, dia tidak menyangka ingatannya sama dengan Aline bagaimana pertemuan mereka. Saat itu Julian telah jatuh cinta pada Aline, jatuh cinta pada pandangan pertama. Aline lalu mengecup pelan pipi Julian karena gemas melihat wajah Julian yang memerah. “Kamu sekarang berani ya cium-cium,” ucap Julian menggoda Aline. Aline menyembunyikan wajahnya di balik bantal dan bersembunyi, dia enggan menatap Julian karena malu. “Buka Aline bukaa,” ucap Julian Gemas dan mereka tersungkur di lantai dengan Julian berada di atas Aline.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD