Embun pagi yang basah membuat Julian terbangun dari tidurnya, dia menatap handphonenya dan tersenyum, mengiEmbun pagi yang basah membuat Julian terbangun dari tidurnya, dia menatap handphonenya dan tersenyum, mengingat kemarin dia menginap di rumah Aline. Meski mereka tidak melakukan sesuatu yang berbau dewasa, dia sangat menyukai di dekat Aline. Julian mencari kontak Aline dan menelponnya.
"Halo? Aline?" tanya Julian
"Ya?" jawab Aline cepat. Suara Aline serak, khas bangun tidur.
"Hari ini apakah kau mau ikut denganku? Mungkin kita akan olahraga bersama lalu ikut denganku ke mall aku mau membeli beberapa kemeja."
Tanpa Aline sadari dia mengangguk tersenyum girang dan mengiyakan Julian tanpa bersuara. Dia tersenyum sendiri tanpa Julian tau ekspresi wajahnya.
"Aline? Kenapa kau diam saja? Mau tidak?"
"E-eh? I-iya aku mau!" ucap Aline.
"Okay, aku jemput jam setengah tujuh," ucap Julian.
Aline segera bangkit dari tidurnya dan membereskan kasurnya lalu berjalan menuju kamar mandi. Menyegarkan badannya dari rasa kantuk. Tak butuh waktu lama bagi Aline untuk mandi, dia lalu mengenakan kaus polos berwarna kuning dan celana training hitam strip kuning. Tak lupa dia mengambil topi. Aline lalu ke bawah dan menyiapkan s**u serta sereal. Dari kulkas, Aline mengambil dua buah pisang dan menghancurkannya, lalu memasukkan oat dan chocho chips lalu mengovennya. Dia membuatkan cookies untuk Julian. Tidak lupa Aline juga membuatkan pancake. Setelah semua selesai, Aline menaruh makanannya di dalam bekal, lalu dia membawanya dengan tas kecil. Tak lupa dia membawakan air mineral.
Tin Tiin.
Suara mobil Julian dari depan pagar, Aline tersenyum senang dan membuka pagar. Wajah tersenyum Julian terlihat jelas di depan sana. Dia mengenakan training panjang hitam dan juga kaus orange sama dengan Aline. Entah bagaimana mereka bisa mengenakan baju yang warnanya sama, mereka tampak terlihat seperti couple.
“Wow bagaimana bisa baju kita sama nih?” ucap Julian memperhatikan Aline dari atas sampai bawah. Rambut Aline yang diikat ekor kuda membuat leher jenjangnya terlihat mulus dan cantik. Julian sangat menyukainya.
“Entahlah, ayo berangkat. Oh iya aku membawakan sarapan untukmu. Silahkan.”
Aline membuka kotak bekalnya, nampak lima cookies dan lima pancake di sana. Julian membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Aline ke dalam. Mereka lalu memakan bersama dan menikmati masakan buatan Aline. Apalagi Julian sangat menyukai cookies buatan Aline yang terbuat dari buah pisang.
“I really love it. Sumpah enak banget Lin, plis cookiesnya buat aku semua ya. Pancakenya juga, rasanya pas banget. Kamu jago masak ya, harusnya kuliah tata boga aja.”
Julian memakan dengan lahap cookies buatan Aline. Rasanya begitu nikmat dan beda dari cookies lainnya, apalagi ini buatan pujaan hatinya.
“Ah kamu memang suka berlebihan, ada resep rahasia dari cara buatnya Julian. Dan sejujurnya aku ini bidadari, dalam sekali bimsalabim, semua masakan terjadi,” ucap Aline bercanda. Sontak Julian tertawa sampai wajahnya memerah karena pengakuan konyol Aline. Gadis di sampingnya sangat lucu dan menggemaskan.
Julian terbatuk-batuk saat memakan pancake Aline, dengan sigap Aline membuka botol mineral dan memberikan kepada Julian.
“Wah, kamu sudah menyiapkan semuanya ya Lin, pretty thanks.”
Aline hanya menjawab dengan senyuman malu dan mengangguk.
“Jadi, kita mau kemana ini Lin? Kamu mau berolahraga dimana? Di lapangan atau tempat gym?” tanya Julian
“Aku rasa akan lebih menyenangkan jika di lapangan taman kota, bagaimana menurutmu?”
“Boleh juga, pasang sabuk pengamanmu.”
Mereka lalu menuju lapangan taman kota yang biasanya ramai dengan orang-orang yang berolahraga, Aline sangat menyukai berlari, dengan berlari dia bisa melepaskan penat dan beban pikiran. Aline melangkah keluar dari mobil dan diikuti dengan Julian, taman kota pagi ini tidak terlalu ramai, mereka lalu memulai dengan gerakan pemanasan dan jogging bersama.
“Lin, aku berikan tantangan untukmu. Kejar aku!”
Julian lalu tertawa dan berlari lebih kencang daripada Aline, tentu saja Aline tidak mau kalah dan segera mengekar Julian. Jangan salah, Aline sangat jago berlari, dia pernah menjadi juara lari marathon.
“Julian! Awas Kau!”
Aline mengencangkan tali sepatunya dan berlari sekencang mungkin mengejar Julian, hampir saja dia akan menggapai Julian dari belakang, namun usahanya gagal karena Julian menambah kecepatan berlarinya, Aline kembali menambah kecepatannya dan mendorong Julian, hingga mereka terjatuh, Aline terjatuh tepat diatas Julian dan mereka saling berhadapan. Tidak sengaja, bibir Aline menyentuh bibir Julian.
Satu detik
Dua detik
Tiga Detik
Aline tersadar dan bangkit dari atas tubuh Julian, dia lalu mengerjapkan matanya dan duduk dengan wajah yang shock sambil memegang bibirnya, ini ciuman pertamanya!
“Kenapa kamu begitu? Mau lagi yang lebih panas?” bisik Julian.
Aline mencubit lengan Julian dan Julian kabur berlari lagi, Aline kembali mengejarnya, untung saja taman pagi ini tidak terlalu ramai, tragedi ciuman pertama mereka tidak ada yang memperhatikan.
Aline bersemu merah mengingat hal itu, dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Julian merasakan napasnya memendek, dia menghentikan larinya dan membiarkan Aline menangkapnya.
“Kau tidak apa-apa?”
Julian berbalik menghadap kepada Aline, dia tersenyum lalu mengangguk. Julian lalu menatap wajah Aline.
“Lin, aku suka padamu,” ucap Julian dengan suara pelan.
“Hah?” ucap Aline tidak percaya dengan apa yang dia dengar, jantungnya berdegup sangat kencang dan tangannya sangat dingin karena ucapan Julian.
“Iya ... mmm ... Julian ... aku tidak dengar,” ucap Aline berbohong, dia hanya ingin mendengar untuk lebih jelas lagi.
Julian menarik napas dan menghembuskannya perlahan, dia menjadi sangat gugup saat ini, entah bagaimana Julian begitu gemetaran saat ini, apalagi Aline menatapnya intens.
“Jangan bercanda Julian, aku tidak suka dipermainkan, kau tau sendiri kan aku perempuan yang bagaimana?” ucap Aline menatap Julian sungguh-sungguh.
“Baiklah, aku perjelas lagi. Aku menyukaimu Aline Azzahra. Aku sangat suka sejak awal kita berkuliah bersama, dan lagi aku ingin kita serius, menikah dan menjalani hidup sampai akhir hayat bersama, maukah dirimu menerima aku sebagai lelakimu?” tanya Julian menatap Aline dengan serius dan dalam. Sekarang Aline malah gugup dan tak tau harus menjawab apa.
“Julian, sungguh aku sangat terkejut dengan pernyataanmu, aku hanyalah wanita biasa yang bahkan tidak memiliki prestasi yang melejit apalagi memiliki perusahaan besar sepertimu, sepertinya aku tidak terlalu cocok denganmu,” ucap Aline.
Julian menarik napas dalam, “Yang aku tanyakan sekarang, apakah kau mau menjadi istriku? Aku tidak memandangmu seperti apapun, aku hanya suka denganmu. Apakah kamu mencintai aku Aline?”
Aline menatap ke bawah, menjauhi tatapan Julian, Aline memang terlahir dari keluarga yang serba berkecukupan, tapi saat ini pun dia tidak mengetahui keberadaan orang tuanya, bahkan ayah dan ibunya sudah bertahun-tahun tidak pulang. Memberi kabar saja sangat jarang, melihat Julian yang sukses membuat Aline sedikit iri dengan Julian.
“Tolong beri aku waktu Julian, beri aku waktu untuk berpikir sejenak. Aku rasa ini semua terlalu cepat.”