‘Plak’
‘Plak’
Tangan besar Aldy melayang tepat di pipi kanan Nisa yang terduduk di lantai menatapnya ketakutan. Sesaat tangan itu mendarat di pipi, tangan Nisa memegang pipinya yang memerah, dan terlihat bercak darah keluar di ujungnya. Tak sempat untuk berkata-kata, tangan Aldy langsung meraih lengan kanan Nisa hingga membuatnya berdiri. Nisa tersentak kaget sambil menahan panas di wajahnya serta tangan yang ditarik kasar. Sesaat setelah berdiri, Aldy mendorong tubuh Nisa, lalu menyudutkannya di balik pintu yang tertutup, dan tanpa basa-basi langsung menciumnya dengan kasar.
“Hmmmmptttt!” Bunyi suara Nisa tertahan oleh perlakuan Aldy yang begitu kasar.
Tangan kanan Aldy menahan tengkuk Nisa agar tak dapat bergerak sedang tangan kirinya membawa kedua tangan Nisa dan menguncinya di atas kepala. Aldy melakukannya tanpa perduli jika Nisa kehabisan nafas, dan terus meronta, tapi diabaikan. Air mata terus mengalir di pipinya yang masih terasa panas dan hal tersebut diketahui Aldy karena merasakan air mata Nisa. Namun, hal itu malah membuatnya tersenyum bahagia melihat buruannya terluka.
Di sela kegiatannya tersebut, dengan kasar Aldy merobek seragam kerja Nisa hingga lengan putihnya terlihat dengan jelas, dan melucutinya paksa hingga tanggal, dan menyisakan bra putih yang menutupi bagian tubuh yang justru semakin membuat Aldy menggila. Setelah puas, Aldy membawa tubuh Nisa dengan kasar dan mendorongnya ke atas sofa. Tanpa sempat menyelamatkan diri, Aldy langsung menindihnya. Kedua tangan Nisa dicekal di sisi badan dan kedua kaki kecilnya dijepit oleh kaki besar Aldy, sehingga Nisa tak dapat berkutik. Ditatapnya wajah Nisa yang pucat dengan linangan air mata serta bibir yang terlihat sedikit bengkak karena ulahnya.
“Jangan, Pak! Aku mohon, hiks …,” mohon Nisa lirih dengan tubuh yang tak bisa digerakkan di bawah kuasa Aldy yang menatapnya jahat. Aldy tak menjawab dan menyunggingkan senyum mengejek, kemudian melayangkan tangan kanannya.
‘Plak’
‘Plak’
Kembali, dua kali tamparan pun melayang di kedua pipi Nisa sehingga menimbulkan bekas kemerahan yang semakin terasa, dan perih karena darah yang keluar dari sudut kiri bibir kecilnya kembali keluar.
“Aaakkh!” pekik suara Nisa mendapat tamparan kuat di pipi. Air matanya semakin deras membasahi pipi dengan suara isak tangis yang tertahan. Aldy menangkup rahang kecil Nisa dengan tangan kanan besarnya. Wajah penuh amarah yang tentu selalu dia tujukan untuk Nisa yang hingga kini belum diketahui sebabnya.
“Let’s play game, b***h!” ucap Aldy berbisik tepat di wajah Nisa yang disusul ciuman kasar Aldy pada bibirnya.
Aldy mencium dan melumat bibir Nisa, lalu menggigitnya hingga dia merasakan asin karena darah dari bibir Nisa yang keluar di sela-sela kegiatannya. Dengan paksa, Aldy membelit lidah Nisa yang kewalahan. Tangan kirinya menahan kepala Nisa agar tak bisa bergerak, sedangkan tangan kanannya meraba terburu-buru tubuh Nisa, kemudian merobek apa pun yang ditemuinya. Remasan kuat Nisa rasakan pada kedua bukit kembarnya yang tak terlalu besar. Nisa memekik tertahan karena bibirnya yang masih dibungkam oleh Aldy karena remasan kasar yang Aldy lakukan. Aldy melepas bibir Nisa yang terlihat bengkak dan merah karena ulahnya, kemudian menundukkan kepalanya turun menyusuri leher Nisa, dan kedua bukit kembarnya yang sudah tak tertutup apa pun sambil sesekali menggigitnya hingga meninggalkan bekas.
“Jangan Pak, hentikan, aku mohon, hiks … hiks ...,” pinta Nisa sambil meronta sekuat tenaga agar terlepas dari kungkungan tubuh Aldy yang menindihnya, tapi diabaikan.
Aldy semakin bergerak turun mencium perut dan semakin ke bawah, dan tanpa ragu menarik celana panjang serta celana dalam Nisa, lalu melemparnya sembarangan. Aldy tersenyum menatap apa yang dilihat di bawahnya. Seorang gadis kecil yang kini tanpa busana sedang tergugu menangis tak berdaya. Aldy bangkit dari tubuh Nisa dan mulai melepas semua pakaiannya, sedangkan Nisa yang melihatnya semakin ketakutan. Ketika Aldy sibuk melepaskan pakaiannya, Nisa berusaha bangun dan berlari ke arah pintu. Namun, Aldy hanya tersenyum melihat Nisa yang berlari menuju pintu, dan tetap melanjutkan kegiatannya melepaskan pakaian. Setelah selelsai, dengan santai Aldy meraih Nisa yang sedang menangis sambil memukul-mukul pintu, dan berharap ada orang di luar yang mendengarnya. Senyum seorang pria b******n terlihat jelas di raut wajah Aldy yang kini menatap buas ke tubuh Nisa yang tak tertutup apa pun, lalu meraih kasar, dan menyeretnya serta mendorongnya kembali ke sofa, kemudian menindihnya kembali.
“Mencoba lari, huh?” geram Aldy menarik rambut Nisa.
“Akkh!” suara Nisa kesakitan karena rambutnya yang ditarik kasar.
“Aku mohon, Pak, lepaskan aku, hiks … hiks …,” mohon Nisa dengan wajah memelas memegang tangan Aldy yang menjambak rambutnya yang sudah berantakan.
“Jangan mimpi! Karena mulai hari ini, kau tak akan bisa lari dariku gadis sialan!” bentak Aldy dengan mata merah yang terus menatap Nisa yang berurai air mata juga ketakutan.
‘Plak’
‘Plak’
‘Plak’
Aldy kembali menampar Nisa berkali-kali, hingga wajah Nisa terdapat banyak lebam. Nisa hanya terisak menahan sakit, sedangkan Aldy bersiap melancarkan kembali aksi bejatnya seperti dua dua tahun yang lalu. Dibukanya kedua paha Nisa yang terlihat lemah, dan tanpa pemanasan, Aldy langsung menyatukan tubuhnya dengan Nisa. Nisa yang masih terisak menahan sakit di wajahnya kembali memekik kaget ketika merasakan sesuatu yang masuk ke organ intimnya tiba-tiba.
“Aaakkhhh! Sakit, hiks …,” suara Nisa memekik pelan.
“Kau benar-benar bodoh. Ini tidak sakit, tapi nikmat!” jawab Aldy menatap Nisa yang kesakitan dan meronta mencoba melepaskan diri.
Tak perduli dengan Nisa yang menahan sakit dan terus-terusan meronta, Aldy pun mulai menggerakan pinggulnya tanpa memperdulikan Nisa yang kesakitan. Tangan kiri Aldy menggenggam kedua pergelangan Nisa ke atas kepala, sedangkan tangan kanannya digunakan untuk meremas bukit kembar Nisa, dan melahapnya seperti bayi.
“Akkhh! Ja-jangan. Hentikan!” rintih Nisa yang kesakitan baik tubuh dan hatinya. Berbeda dengan Aldy yang terus bergerak di atasnya dengan suara bariton yang terdengar mengisi ruangan besar tersebut.
“Aagghhh! Sial, ini benar-benar nikmat!” racau Aldy sambil terus bergerak.
“Rasamu ternyata masih sama seperti dulu,jalang!” ucap Aldy yang kini menatap kejam pada Nisa yang tak berdaya. Cekalan tangan Aldy terlepas ketika dia semakin mempercepat gerakannya, sedangkan tangan Nisa menggapai sisi sofa sebagai pelampiasan sakitnya. Suara Nisa terdengar lirih. Tubuhnya ikut bergerak searah gerakan Aldy karena semakin kasar dan brutal.
“Sial! Enak banget!” racau Aldy semakin menggila.
Keringat telah membasahi tubuh mereka berdua. Sudah cukup lama Aldy terus bergerak, tapi tak kunjung sampai membuat tubuh Nisa semakin lemah dan tak berdaya. Matanya terpejam dengan tangan menggenggam erat tepi sofa. Tubuhnya kembali ternoda dan hatinya sakit oleh perbuatan orang yang sama. Nisa kembali jatuh ke masa dua tahun yang lalu. Nisa kembali diperkosa.
“Ya Allah, tolong Nisa, hiks ... hiks ....”
Bersambung
15 April 2020/18.30