Bertemu Kembali

1175 Words
Mike menghentikkan mobil tepat di seberang jalan sebuah gang kecil menuju kostan yang Nisa tempati selama 3 bulan ini. Aldy mengarahkan pandangannya dan mendapatkan sosok Nisa yang sedang duduk di sebuah kursi kayu di depan sebuah warung klontong. Sebuah tas besar tergeletak tepat di bawah kakinya, sedang Nisa terlihat sedang meminum sebotol air mineral dan tak menyadari jika ada sebuah mobil hitam yang terparkir di seberang jalan di mana penumpang mobil itu sedang memperhatikannya. Tentu Aldy tahu apa yang sedang Nisa lakukan di warung tersebut dan apa yang telah menimpa gadis malang itu. Tak menunggu lama, Mike kembali menjalankan mobil itu dan menuju kantor. Setengah jam kemudian, mereka pun sampai. Selama di kantor, senyuman aneh terus saja mengembang di wajah tampan Aldy sehingga membuat para karyawan bertanya-tanya sekiranya hal apa yang membuat seorang Grinaldy Setiawan menebar senyum ke mana-mana tak jelas. Mike yang melihatnya tak banyak komentar dan hanya menarik nafas pasrah karena Aldy selalu menyangkal semua perkataan Mike jika mengenai Nisa dan memintanya agar jangan ikut campur. Sejujurnya, Mike sangat cemas dan dia benar-benar tak tahu apa rencana Aldy setelah ini untuk Nisa karena Mike sudah mencoba bertanya, tapi tak digubris, dan sepertinya Aldy yang akan turun langsung menjalankan aksinya tanpa bantuan siapa pun. Waktu sudah menunjukkan jam 3 sore dan artinya jam kerja untuk Nisa sudah dimulai. Siang tadi, mendadak Aldy memerintahkan Mike untuk melihat pembangunan resort baru yang ada di Bali selama seminggu. Tanpa curiga, Mike tentu saja mematuhi dan langsung terbang ke Bali. Keberangkatan Mike ke Bali sebenarnya hanya bagian dari rencana Aldy agar Mike tidak menganggu rencananya tersebut karena dia sadar betul bahwa Mike mencoba melindungi Nisa diam-diam dan berpikir bahwa Aldy tak mengetahuinya. Aldy bahkan tahu jika Nisa sudah ada di Jakarta dan melanjutkan kuliahnya di sebuah perguruan tinggi negeri dan dibiayai oleh keluarga yang telah menolongnya 2 tahun lalu. Waktu pun berlalu begitu cepat, Nisa dengan wajah cerianya yang tetap berusaha menutupi kesedihannya bekerja seperti biasa dengan baik. Semua dilakukannya dengan gesit, hingga tak terasa waktu sudah malam dan waktu pulang akhirnya tiba. “Nis!” panggil seseorang yang ternyata Buk Winda. “Iya, Buk,” sahut Nisa cepat. “Sebelum pulang tolong buatkan kopi pahit untuk Pak Aldy, ya, dan segera antar ke ruangannya. Kata beliau dia akan lembur malam ini,” terang Buk Winda tegas. “Baik, Buk,” ucap Nisa paham. “Ya sudah, Ibu pulang duluan, ya,” pamit Buk Winda segera karena tak ada rencana lembur malam ini. Dengan cepat, Nisa tanpa ragu langsung membuat kopi pahit untuk Aldy yang merupakan Boss di kantornya tersebut. Sejujurnya, dia juga sangat penasaran dengan Boss di kantor itu yang katanya super hot. Pasalnya, Nisa memang tak pernah melihat wajahnya dan hanya sekali, itu pun dari belakang, apalagi berhubungan langsung dengannya mengenai pekerjaan yang tak mungkin pastinya. Apalah Nisa, hanya seorang Cleaning Service yang baru saja diusir dari kostan, bahkan malam ini pun tak tahu harus pulang ke mana. Aroma kopi yang tersiram air panas pun menyeruak dan segera Nisa letakkan di atas nampan. Dibawanya nampan tersebut dengan hati-hati. Jantungnya sedikit berdebar karena ini pertama kali baginya membuat kopi untuk Pak Boss dan Nisa berharap bisa memberikan kesan yang baik. Langkah kecilnya menuju pada sebuah lift dan ditekannya angka 20 hingga tak berapa lama Nisa pun sampai. Dilihatnya sebuah pintu berwarna coklat yang besar dan tertulis “CEO’s Room”. Dengan sedikit keraguan, Nisa mengetuk pintu besar itu, kemudian dipegangnya gagang pintu, lalu mendorongnya pelan. Mata Nisa langsung tertuju pada seorang pria yang sedang berdiri menghadap jendela dengan kemeja putih yang digulung hingga lengan menampilkan lengan besar berotot nan kokoh yang dimasukkannya ke saku celana. “P-permisi, Pak. Saya mengantarkan kopi,” suara Nisa terdengar sedikit terbatah membuat senyuman kecil terbit di bibir Aldy yang sudah tahu siapa yang akan datang ke ruangannya dan sebentar lagi akan menjadi neraka bagi Nisa. “Letakkan di meja!” suara bariton terdengar cukup tajam di telinga Nisa. ‘Degg’ “Suara itu?” suara batin Nisa yang merasa tidak asing dengan suara yang baru didengarnya dan seketika membuat jantungnya berdebar kencang. Nisa menghalau perasaan aneh yang tiba-tiba menyelimutinya dan bergegas meletakkan kopi ke meja agar bisa segera pergi meninggalkan ruangan yang terasa berubah mencekam. “Permisi, Pak!” pamit Nisa yang kemudian melangkah menuju pintu keluar. “Mau ke mana?” kembali suara bariton itu terdengar. Langkah Nisa pun terhenti dan berbalik ke posisi semula menghadap Aldy yang belum membalikkan tubuh untuk melihatnya. “A-ada apa, Pak? B-bapak perlu yang lain?” tanya Nisa gugup sambil mencengkeram erat nampan dengan kedua tangannya. Nisa benar-benar tak bisa lagi menyembunyikan rasa gelisah yang semakin bergejolak di hatinya. Nisa mengenali suara itu, suara milik seorang laki-laki yang telah menghancurkan masa depannya 2 tahun lalu, dan Nisa yakin dia orangnya. Nisa bersama dengannya di ruangan yang sama dan hanya berdua. “Saya perlu kamu,” jawab Aldy yang masih menatap ke luar jendela dengan aura dinginnya. Nisa bingung dan rasa takut semakin menguasainya kini. “M-maksud Bapak, a-apa?” tanya Nisa menatap ke arahnya. Aldy tersenyum geli dengan seringaian mengejek, lalu berbalik menghadap Nisa yang sejak tadi berdiri dengan kaki gemetar. ‘Degg’ Mendadak wajah Nisa pias dan pucat. Perlahan keringat dingin mengucur di dahinya. Tubuh kecilnya bergetar dengan kepala yang menggeleng tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bibir mungilnya tak mampu berucap serta nafas yang mendadak sesak, lalu perlahan mundur selangkah demi selangkah berniat keluar ruangan. “Tidak … tidak mungkin! Ini hanya mimpi!” lirih Nisa tak percaya dengan kepala yang terus menggeleng menyangkal apa yang dilihatnya. ‘Krek Krek Krek’ Nisa mencoba membuka pintu yang ternyata terkunci dan entah sejak kapan terkunci. ‘Dug Dug Dug’ Nisa memukul-mukul pintu berharap ada orang yang mendengarnya dan membantunya keluar dari ruangan yang berisi seorang pria psychopath baginya, tapi nihil. Tentu tak ada orang di luar karena lantai 20 hanya dihuni oleh Aldy seorang. Tanpa permisi, air mata Nisa sudah mengalir membasahi wajahnya yang terlihat pucat dan putus asa. Aldy melangkah perlahan mendekatinya yang membuat Nisa semakin ketakutan dan kini tersudut di depan pintu yang terkunci. Tubuhnya luluh ke lantai karena tak mampu lagi menopang karena gemetar hebat. Nisa ketakutan. “Tolong … tolong … buka pintunya, hiks … hiks …,” suara Nisa merajuk lirih sambil terus mengetuk pintu sambil berteriak penuh isak, tapi tetap tak ada yang mendengarnya. Lantai 20, bel pulang karyawan baru saja berbunyi pertanda jam lembur kantor sudah berakhir. Tak akan ada yang datang di saat jam kerja sudah berakhir, apalagi menolong Nisa. Hanya Aldy yang dapat menolong Nisa dan dalam mimpi pun hal itu tak akan pernah terjadi. “A-aku mohon, Pak. Biarkan a-aku pergi, hiks …,” mohon Nisa dengan linangan air mata sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan d**a, sedangkan Aldy yang kini sudah di hadapannya hanya menatap tajam dengan seringaian devil seperti 2 tahun yang lalu. “No No No,” ucap Aldy sambil menggelengkan kepalanya. Tangan kanan Aldy pun melayang ke atas. ‘Plak’ ‘Plak’   Bersambung 15 April 2020/17.20
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD