Pagi ini, Aldy bangun lebih awal dari biasanya dan sudah rapi dengan jas hitam nan mahal yang membuat penampilannya semakin mempesona serta rambut yang nampak mengkilat tertata rapi. Wajahnya terlihat sangat segar dengan senyum cerah menawan membuat Rosalia menatap bingung melihat putranya yang bertingkah aneh menurutnya karena siulan terus terdengar sejak beberapa menit yang lalu dari kamarnya di lantai atas serta nyanyian yang terus digumamkan Aldy yang entah lagu apa karena Rosalia tak tahu.
“Tuh, anak kenapa, sih! Kayaknya lagi senang betul pagi-pagi. Menang judi atau apa, sih!” gumam Rosalia yang sedang ikut mempersiapkan sarapan dengan seorang pembantu. Sedangkan Mike yang sudah duduk manis sambil membaca koran harian di meja makan tersenyum pula mendengar gumaman Rosalia.
“Aldy kenapa, sih, Mike? Tante jadi penasaran, deh!” tanya Rosalia berharap Mike tahu apa yang membuat Aldy bahagia sejak pagi-pagi buta.
“Mike juga gak tahu, Tan. Mungkin ada kencan hari ini,” jawab Mike asal bunyi karena tak mungkin mengatakan apa yang terjadi dengan Aldy. Tentu Rosalia akan marah besar jika tahu anak satu-satunya melakukan tidak tak terpuji kepada seorang gadis yang tak bersalah, bahkan sudah dilakukannya sejak 2 tahun yang lalu.
“Masa, sih! Tante gak percaya kalau dia punya pacar. Otaknya cuma Icha dan hanya Icha sejak dulu,” sahut Rosalia tak percaya alasan yang diberikan Mike.
Mike tak menjawab hanya tersenyum tipis. Sebenarnya dia tahu apa yang telah membuat Aldy terlihat sangat bahagia. Apalagi kalau bukan tentang Nisa si gadis malang yang kini jadi buruannya. Sedangkan Icha, adik Mike entah di mana keberadaanya karena belum ditemukan hingga saat ini. Terdengar Aldy menuruni anak tangga tanpa mengentikan siulan berisiknya menuju ke ruang makan yang ada di lantai bawah.
“Morning, Ma!”
“Morning burung kutilang,” jawab Rosalia berbarengan dengan Aldy yang menarik kursi berhadapan dengan Mike yang hanya diam tanpa bicara.
“Dih! Mama durhaka, anak sendiri dibilang burung kutil,” sahut Aldy geram dengan julukan Rosalia yang sudah menghinanya pagi-pagi.
“Ya kamu dari tadi berisik banget pagi-pagi, mirip burung minta kawin,” jawab Rosalia tersenyum tipis mendapat sanggahan.
“Hahahaha … bisa saja si Mama semok,” sahut Aldy tertawa lebar sedang Mike hanya tersenyum.
“Sudah cepet sarapan! Nanti telat!” kata Mike menyarankan.
“Iya iya,” ucap Aldy yang langsung membalik piring di hadapannya dan mengambil sepotong roti, lalu mengolesnya dengan selai kacang.
Mereka pun memulai sarapannya tanpa suara karena sudah didikan keluarga Setiawan yang tak boleh bicara saat sedang makan. Tak berapa lama, sarapan pun selesai. Aldy dan Mike bergegas pamit untuk berangkat ke kantor. Keduanya mencium punggung tangan kanan Rosalia, kemudian melangkah cepat ke garasi mobil.
“Mike! Kita ke tempat kemarin sebentar.”
Perintah Aldy sesaat setelah memasuki mobil. Mike tanpa suara hanya menurut seraya mengangguk. Mike hanya bisa menuruti kemauan Aldy sambil memantau sekiranya apa yang akan Aldy lakukan selanjutnya kepada Nisa. Mobil pun perlahan keluar pagar dan membelah jalan ibu kota yang terlihat cukup padat.
Setelah berpamitan kepada seluruh penghuni kostan, aku pun bergegas meninggalkan tempat yang selama tiga bulan ini telah menjadi tempatku untuk berteduh dan melepas lelah. Aku tak menyangka jika ada orang kaya yang tertarik membeli kostan milik Buk Fitri dan membuat peraturan seperti itu. Apakah orang itu sangat kaya dan sangat benci dengan orang miskin sepertiku? Apa aku begitu hina karena terlahir menjadi orang miskin? Aku tak pernah meminta lahir sebagai orang miskin dan yatim piatu karena aku pun tak mau, tapi itulah takdir yang tak dapat kuubah, dan harus kuterima. Aku juga ingin bahagia seperti yang lainnya, tapi inilah takdirku. Namun, aku yakin badai pasti berlalu bukan? Walaupun aku tak tahu akankah badai segera berakhir atau akan ada badai yang lebih besar sedang menunggu di depan.
Setelah berpamitan dengan isak tangis yang mengiringi, bahkan ada di antara penghuni kost yang memberikan sedikit uang dan kutolak dengan halus. Dengan langkah berat akhirnya kutinggalkan kostan tersebut dengan segala kenangan yang pernah kulalui di sana. Salahkah jika aku merasa diusir dari sana? Tapi itulah yang kurasa, aku terusir karena keadaan sosialku yang tidak seberuntung yang lainnya.
Langkahku terhenti di sebuah warung klontong tempat biasa aku membeli makanan saat pulang kerja di malam hari, dan kebetulan perutku memang mendadak terasa lapar,walau tadi sudah kuisi. Jadi, kuputuskan mengisinya dulu sebelum melanjutkan langkahku yang tak tahu akan ke mana.
“Buk, beli rotinya dua, ya, sama air mineralnya juga,” pintaku kepada Pak Sabar.
“Iya, Neng, tunggu sebentar, ya.” Tak menunggu lama, roti dan sebotol air mineral yang sudah dibungkus plastik diberikan Pak Sabar kepadaku dan langsung kuterima.
“Neng Nisa mau ke mana? Bawa tas besar segala?” tanya Buk warsih sambil meletakkan sepiring nasi uduk dan teh ke hadapan seorang pembeli. Secepat kilat kurubah raut wajah sedihku dengan senyuman semanis mungkin yang biasa kutunjukkan. Aku tak ingin Buk Warsih mendapati air mataku yang sebenarnya sejak tadi kutahan untuk keluar.
“Nisa mau pindah, Buk, mau tinggal bareng dengan teman. Lumayan bisa menghemat hehe …,” jawabku berbohong dengan senyum termanisku yang mengiringinya.
“Oooh, gak sarapan di sini lagi dong!” sahut Buk Warsih kecewa.
“Tenang, kapan-kapan Nisa pasti ke sini, kebetulan tempatnya gak jauh dari sini, Buk,” sahutku berbohong lagi.
Buk Warsih pun tersenyum dan kembali ke tempatnya karena sudah ada pembeli yang datang lagi. Aku pun bergegas membayar roti dan air mineral yang kubeli dan segera pergi karena sejam lagi mata kuliah hari ini akan segera dimulai dan aku tak ingin datang terlambat.
Hari ini, aku sangat bahagia karena rencanaku semalam untuk mengusir gadis bodoh itu sudah terlaksana dengan mulus. Dia pasti diusir dari kostan itu dan tak akan menyangka jika aku yang telah membelinya dengan segala peraturan konyol yang kubuat untuk mengenyahkannya. Itu hanya sebagian kecil, bahkan sangat kecil dari rentetan rencana yang telah kubuat untuk menghancurkannya nanti. Di tengah senyumku yang terus mengembang sejak meninggalkan rumah, tiba-tiba Mike menghancurkan lamunanku dan ternyata kami sudah sampai tepat di seberang jalan sebuah gang tempat kostan gadis itu berada. Dan hal yang membuatku semakin senang adalah tepat di depanku, gadis bodoh itu sedang duduk di sebuah kursi kayu tak jauh dari sebuah warung klontong dengan membawa sebuah tas besar yang artinya rencana pertamaku sudah berhasil.
Bersambung
15 April 2020/17.20