Terusir

1288 Words
Keesokkan harinya, aku bangun pagi seperti biasa. Sekitar jam 7, aku keluar kostan untuk menunju sebuah warung nasi uduk yang berada tak jauh dari kostanku berada. Langkahku terhenti ketika Mbak Wiwik memanggilku sekedar menitip untuk dibelikan bubur kesukaannya dan aku pun dengan senang hati membelikannya, terlebih dia juga sangat baik padaku, bahkan dia yang membantuku untuk masuk dan bekerja di kantor tempatnya bekerja. Langkahku langsung menunju pintu pagar yang tidak dikunci karena sudah ada penghuni kost yang telah pergi bekerja. Beberapa menit berjalan, sampailah aku di sebuah warung yang menjual nasi uduk dan menu lainnya dengan harga yang cukup murah bagi anak kost sepertiku. Setelah selesai, aku langsung bergegas ke penjual bubur yang terlihat tak begitu antri. Semuanya selesai dan langkahku langsung tertuju ke kostan untuk segera pulang. Bersama dengan Mbak Wiwik, aku pun sarapan di ruang makan berdua sambil berbincang ringan, hingga tak sadar makanan kami akhirnya habis. Kami pun langsung kembali ke kamar masing-masing karena Mbak Wiwik segera bersiap untuk berangkat kerja dan aku harus pergi ke kampus karena ada kelas pagi. Kuambil sebuah tas jinjing besar persegi yang kugantung di balik pintu dan bergegas memasukkan beberapa buku yang dibutuhkan untuk mata kuliah hari ini. Kebetulan untuk kuliah hari ini hanya ada 4 sks untuk dua mata kuliah saja. Saat sedang sibuk memasukkan buku ke dalam tas, terdengar suara berisik dari ruang tengah, sehingga menghentikan kegiatanku sejenak di dalam kamar. Kucoba menajamkan indra pendengaranku, tapi suaranya terdengar samar dan tak jelas apa yang sedang dibicarakan serta siapa yang sedang berbicara. Karena rasa penasaran yang begitu besar, aku pun membuka pintu dan melihat ada pemilik kostan, Buk Fitri yang sedang mengumpulkan semua penghuni kost tanpa terkecuali karena masih ada yang terlihat mengantuk, dan membawa bantal. Kulihat Mbak Wiwik yang melihatku di balik pintu dan langsung melambaikan tangan ke arahku agar segera bergabung dan langsung kuturuti. Dengan langkah cepat dan tak berpikir macam-macam, aku pun langsung bergabung bersama dengan yang lainnya, termasuk Mbak Wiwik yang menggeser duduknya untuk memberi ruang bagiku agar duduk di sebelahnya. Tak berapa lama, akhirnya semua penghuni kostan pun berkumpul, kecuali yang sudah berangkat kerja sejak subuh. Terlihat semua orang yang berkumpul menunjukkan raut wajah bingung yang tercetak jelas karena baru kali ini, Buk Fitri mengumpulkan kami sepagi ini, dan sepertinya benar-benar hal yang sangat penting. “Ada apa sih, Nin?” tanya Nina yang terlihat kesal karena ritual mandinya terganggu terbukti dia datang masih menggunakan handuk dan beruntung semua penghuni kostan adalah wanita. “Gak tau, tuh, Buk Fitri, masih pagi udah bikin rusuh,” decak kesal yang lainnya dengan suara berbisik. “Jangan bilang harga kostan mau naik, deh!” sahut yang lainnya menuduh kebiasaan pemilik kost. Wajah-wajah penuh dengan kebingungan, membuatku semakin bertanya-tanya sekiranya ada hal penting apa dan tak kupungkiri, jika jantungku mendadak terasa tak enak. Kalau hanya harga kost naik, mana mungkin dikumpulkan seperti ini. Jujur, hatiku sedikit was-was saat ini, dan berharap tak terjadi apa-apa. Kukaitkan jari-jariku menunggu dengan gelisah apa yang akan disampaikan oleh Buk Fitri, dan semoga bukan berita buruk. “Gimana, Sin, sudah kumpul semuanya belum?” tanya Buk Fitri kepada Sinta. “Sudah semua, Buk, kecuali Yuanita dan Eva!” jawab Mbak Sinta selaku yang paling lama di kostan. “Ehem, baiklah kalau sudah kumpul semua, saya akan mulai!” suara Buk Fitri ingin membuka pembicaraan. Semua mendadak hening dengan mata yang tertuju ke Buk Fitri yang berdiri di hadapan kami semua. “Jadi begini, maksud saya mengumpulkan kalian sepagi ini adalah hanya ingin memberitahukan kepada kalian bahwa saya telah menjual kostan ini kepada orang lain,” ucap Buk Fitri yang sontak membuat semuanya kaget termasuk aku yang melirik Mbak Wiwik nampak ikut terperanjat. “Juuual? Maksud Ibu?” tanya Mbak Wiwik. “Iya, saya telah menjual kostan ini pada seseorang dan sekarang saya sudah tak bertanggung jawab atas kostan ini. Saya terpaksa menjualnya karena sedang membutuhkan uang. Jadi, maafkan saya telah membuat kalian kaget,” jelas Buk Fitri seolah menyesal dengan keputusannya. “Lalu, kami harus pindah gitu, Buk?” tanya Sinta yang berdiri di samping Buk Fitri juga tak tahu. “Pemilik baru berpesan kalau dia akan tetap menyewakan rumah ini, tapi hanya untuk orang-orang yang memiliki pekerjaan layak, dan bukan pegawai rendahan seperti Cleaning Service atau pun seorang mahasiswi karena pasti tak akan mampu untuk membayarnya. Selain itu, tarif kostan akan dinaikkan bulan depan serta akan direhab dengan fasilitas yang lebih bagus juga modern.” ‘Degg’ Pandangan Buk Fitri seketika beralih menatapku diikuti yang lainnya karena aku memanglah satu-satunya penghuni kostan yang berstatus mahasiswi ditambah baru saja seminggu bekerja sebagai Clening Service yang ternyata tidak masuk kriteria untuk menjadi penghuni kostan. “Nisa, kamu tak bisa tinggal di sini dan segeralah kemasi barang-barangmu. Maafkan saya telah membuatmu sulit, dan bukan saya sengaja melakukan hal ini kepadamu, tapi semua ini adalah amanat pemilik kostan ini sekarang,” ucap Buk Fitri dengan raut wajah yang terlihat terpaksa melakukan hal tersebut dan menatapku iba. “Maafkan saya, Nis,” gumam pelan Buk Fitri yang sesungguhnya tak tega melihat wajahku yang mulai memanas dengan mata yang mulai terasa berkabut, tapi kutahan. Benar, di kostan ini hanya aku yang bekerja sebagai Cleaning Service dan benar, aku juga tak kan mampu membayar biaya kostan kalau bukan Kak Pian yang membayarnya, bahkan gajiku saja tak akan cukup untuk membayarnya, walau hanya sebulan. “Saya mengerti, Buk. Kalau begitu saya permisi untuk berkemas,” jawabku dengan hati bergetar dan berusaha tegar menahan luka, luka yang selalu kuterima sejak kecil karena terlahir menjadi orang miskin, bahkan yatim piatu. Seolah tak ada tempat untukku berlindung. Kulihat tangannku yang digenggam erat Mbak Wiwik sekedar menyalurkan sedikit kekuatan kepadaku dan kubalas senyum tipis yang mungkin terlihat getir. Secepat kilat, kumasuk ke kamar dan menutup pintu lalu menguncinya. Tubuhku luluh di balik pintu dan kututup mulutku agar isak tangis tak keluar dan didengar oleh mereka. “Ya Allah, Nisa harus kemana?” Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalaku. Hari masih pagi dan aku harus angkat kaki dari tempat yang sudah kutinggali selama tiga bulan. Kuhapus air mata dan beranjak bangun untuk meraih tas besar yang kusimpan di atas lemari. Saat kusedang sibuk berkemas, pintu terdengar diketuk oleh seseorang. ‘Tok Tok Tok’ “Nis, ini Mbak Wiwik. Tolong buka pintunya.” Ternyata Mbak Wiwik yang mengetuknya dan bergegas membuka pintu. “Nis,” suaranya menyebut namaku pelan sesaat pintu kubuka. “Masuk, Mbak,” sahutku singkat. Mbak Wiwik pun masuk dan duduk di tepi ranjang, sedangkan aku melanjutkan memasuki pakaian ke dalam tas. “Kamu mau ke mana?” tanyanya pelan, tapi tak menghentikanku berkemas. “Nisa belum tahu yang penting keluar dulu dari sini, Mbak,” jawabku apa adanya tanpa memandang ke arahnya. “Gimana kalau Mbak antar cari kostan baru yang murah-murah dekat sini saja, Mbak akan minta cuti hari ini, gimana?” kata Mbak Wiwik menawarkan bantuannya. Mataku beralih menatapnya, kemudian menggeleng. “Engga, Mbak,  uang Nisa gak cukup buat sewa kostan baru, cuma bisa untuk makan selama seminggu sampai Kak Pian kirim uang,” sahutku jujur karena uang di dompet hanya tersisa 100 ribu dan cukup untuk membeli makan di warteg. “Gimana kalau pake uang Mbak saja?” saran Mbak Wiwik cepat. “Nggak usah, Mbak, Nisa nggak apa-apa, kok. Nisa akan menginap di kostan teman kuliah saja sampai Kak Pian kirim uang,” sahutku dengan senyum yang terpaksa kuukir agar Mbak Wiwik tak cemas memikirkanku yang selalu menyusahkan. “Kamu yakin?” tanya Mbak Wiwik sedikit tak percaya. Aku hanya mengangguk dan tak lupa tersenyum agar Mbak Wiwik yakin serta tak mengkhawatirkanku. Dia sudah terlalu banyak membantuku selama ini dan aku tak ingin menyusahkan terus menerus. Sebenarnya itu hanya sebuah alasan saja, nyatanya aku tak tahu harus ke mana. Bersambung 15 April 2020/17.15
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD