Kejutan

1103 Words
Waktu sudah menunjukkan jam 10 malam, sebuah mobil Fortuner hitam terlihat bergerak pelan memasuki sebuah rumah besar nan mewah dengan halaman luas layaknya lapangan sepak bola, di mana banyak ditumbuhi bunga-bunga dari berbagai macam jenis serta pohon cemara. Sesampainya di depan rumah, sesosok pria bertubuh tegap nan atletis dengan wajah yang begitu tampan turun dari kursi penumpang. Dialah Aldy, wajahnya masih terlihat segar seolah tak ada lelah yang terpancar, walaupun sudah bekerja seharian. Dia menutup pintu mobil pelan dan disusul seorang pria yang tak kalah tampan dan tak lain adalah Mike menyusul keluar mobil untuk mengekori Aldy di belakang. Langkah kaki besar keduanya berlalu pasti memasuki rumah besar tersebut dan berhenti ketika sampai ruang tamu di mana seorang wanita paruh baya sedang duduk menikmati teh hangatnya. “Mama!” suara Aldy terdengar lembut mengucap satu kata yang selalu membuat hatinya menghangat. Wanita yang tak lain adalah orang tua Aldy pun menoleh dan meletakkan cangkir teh yang ada di tangannya ke meja. Aldy menghampiri sang ibu dengan senyum penuh bahagia dan mencium punggung tangan kanannya yang disusul oleh Mike melakukan hal yang sama. “Kenapa baru pulang? Mama sampai bosan, loh, nunggu kamu pulang dari jam 3,” gerutunya sambil memukul pelan d**a putra satu-satunya yang kini duduk di sampingnya dan terkekeh mendengar decak kesal sang Mama, Rosalia. “Maaf, Ma, tadi ada beberapa berkas yang harus Aldy selesaikan sore ini juga, makanya Aldy gak bisa pulang cepat. Mama ‘kan tahu, Aldy tak suka menunda pekerjaan kalau masih bisa dikerjakan hari ini juga. Benarkan, Mike?” sahut Aldy menoleh ke arah Mike memberi alasan yang masuk akal karena sebenarnya dia baru saja menguntit buruannya. Mata Aldy menatap Mike sambil mengerlingkan matanya beberapa kali memberi kode untuk meminta dukungan agar membenarkan alasan yang dia buat sehingga Rosalia percaya, seraya merangkul manja bahu Rosalia agar tidak marah. “Benar, Tante,” sahut Mike akhirnya mengikuti rencana Aldy untuk membenarkan alasan itu seraya tersenyum dan ikut duduk di sofa berhadapan langsung dengan Rosalia yang mentapnya serius. “Percuma juga Mama tak percaya karena selama ini, Mike selalau saja melindungi dan membelamu. Apalagi sejak kecil kalian memang selalu saja sekongkol,” gerutu Rosalia sangat mengerti tentang kelakuan Aldy dan Mike yang selalu saling melindungi dan mereka berdua hanya tersenyum tak bisa mengelak. Mereka memang seperti itu dan tak pernah berubah. “Ngomong-ngomong, kenapa Mama datang ke sini dan tidak bilang Aldy sebelumnya? Tahu-tahu sudah duduk manis sambil minum teh!” tanya Aldy memulai pembicaraan. “Memang kenapa kalau Mama datang? Kamu gak suka?” ucap Rosalia dengan wajah sewot ala emak-emak ngambek. “Bukan gitu, ah! Sensitif saja kayak anak perawan. Maksud Aldy tuh, ya, kalau Mama kasih kabar dulu, ‘kan bisa Aldy jemput biar kayak anak soleh gitu!” jawab Aldy sambil tersenyum memamerkan gigi putihnya. “Kalau bilang-bilang namanya bukan kejutan dong!” timpal Rosalia sambil menoyor kepala Aldy pelan. “Mama kangen sama kamu, makanya ke sini. Kebetulan Papa belum pulang dari Australia karena masih 3 bulan lagi dan kamu tahu sendiri, Mama gak mau ikut Papa ke sana. Mama kesepian dan kamu gak pernah kabarin Mama pula,” ujar Rosalia dengan wajah kesalnya. “Maafkan Aldy, Ma, bukan maksud mengabaikan Mama, tapi Aldy memang sangat sibuk. Maafkan Aldy, ya,” jawab Aldy sambil terus mengecup tangan Rosalia, sedangkan Mike hanya tertawa geli menyaksikan drama antara anak dan orang tua yang sedang merajuk. “Sudah Mama putuskan, mulai hari ini Mama akan tinggal bersamamu di sini dan tidak ada penolakan!” ucap Rosalia tiba-tiba penuh yakin. “Hah!” decak Aldy. “Kenapa hah? Tidak boleh Mama tinggal di sini?” timpal Rosalia melirik Aldy yang bengong dengan wajah yang berubah bodoh. “Bu-bukan begitu, Maaa, tentu saja boleh hanya saja ....” Aldy menggantungkan kalimatnya ragu. “Hanya saja apa?” potong Rosalia sewot dengan mata yang menghunus tajam siap menerkam. “Rumah di Bandung akan kosong kalau Mama di sini dengan Aldy,” sahut Aldy pelan. “Jadi kamu lebih perduli dengan rumah itu daripada Mama yang kesepian di sana, begitu?” sahut Rosalia yang bertambah marah. “Aduuuu … bukan begitu Mama semok!” jawab Aldy garuk-garuk kepala, sedangkan Mike hanya memperhatikan interaksi ibu dan anak sambil mengesap kopi panas yang baru saja diantarkan oleh seorang pelayan. “Biarkan saja, ada Bik Sumi dan Mang Cecep yang akan mengurusnya. Kalau ada yang mau gotong itu rumah juga, ya, biarkan saja kalau kuat angkat. Mama gak perduli karena Mama mau di sini saja bersama anak Mama yang menyebalkan!” beo Rosalia masa bodo jika Aldy mempermasalahkan rumah yang ada di Bandung. “Ya sudah kalau itu mau Mama, apalah daya Aldy jika nyonya besar di keluarga ini sudah memutuskan seperti itu,” ucapnya pasrah, kemudian menyandarkan punggungnya ke sofa mencoba memejamkan mata dan tak lama terbelalak sempurna mendengar ucapan Rosalia yang di luar dugaan. “Kapan kamu kasih Mama cucu?” tanya Rosalia dengan suara datar. Mike yang sedang meminum kopi pun tersedak. 'Uhuk Uhuk' “Mike, hati-hati kalau minum jangan terburu-buru!” ucap Rosalia yang bangun dari duduknya dan menghampiri Mike unntuk mengelap tumpahan kopi di pakaiannya. “Tidak apa-apa, Tante,” ucapnya ketika Rosalia mengelap kemeja putihnya yang sudah kotor terkena tumpahan kopi. “Kamu ini, ya, kebiasaan banget masih saja sering tersedak kalau minum,” gerutu Rosalia yang memang sudah menganggap Mike seperti anak kandungnya sendiri layaknya kembaran Aldy. Mike hanya menatap Aldy yang geleng-geleng dengan wajah melasnya. “Mike ke kamar dulu, ya, Tan. Lengket!” beo Mike, kemudian berlalu meninggalkan Aldy dengan wajah gusar dan tanpa ada pembela menghadapi Rosalia yang sedang membahas topik serius serta sangat dihindari oleh Aldy. “Al, jawab Mama. Kapan kasih Mama cucu, huh?” ulang Rosalia tajam menusuk jantung. “Emm … itu … itu kapan, ya, Ma?” “Kok malah tanya balik? Ya kamu janji terus sama Mama. Apa perlu Mama cariin calon buat kamu? Begitu?” ucap Rosalia sambil memberikan saran jitunya. “Eng-engak, Ma, Aldy bisa cari sendiri. Kaya Aldy pesakitan saja dijodohin segala,” jawab Aldy panik. Dia benar-benar tak minat dijodohkan dengan siapa pun. “Ya sudah cepetan! Mama kasih waktu paling telat 1 tahun lagi, kalau enggak, Mama turun tangan, ok?” “Ok ok, serah Mama, deh! Ya sudah Aldy ke kamar dulu, mau mandi dulu!” pamit Aldy memutuskan pembicaraan tentang cucu. “Sana, gih! Ganteng-ganteng, kok, belum laku!” gerutu Rosalia menatap tajam Aldy yang tak mampu  lagi untuk berkata-kata. Begitulah Aldy, kalau bericara dengan sang Mama, Aldy tak berdaya dan hanya manggut-manggut. Namun, lain lagi jika mengenai tentang Nisa. Prilaku manisnya entah pergi ke mana.   Bersambung 15 April 2020/17.15
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD