Setelah menyelesaikan tugasnya, bel pun terdengar pertanda telah tiba waktunya untuk pulang. Nisa pun bergegas mengambil tas slempang kecil yang disimpannya di loker dan mengganti seragam kerja menjadi pakaian biasa dengan celana jeans dipadukan dengan kaos putih dibalut sweater pink serta plat shoes. Nisa berjalan cepat meninggalkan loker yang sudah sepi menuju lobi dan berlalu meninggalkan gedung tinggi tersebut bersamaan dengan karyawan lain. Sesampainya di depan gedung, langkah Nisa terhenti karena melihat seorang pria tegap berbalut jas hitam memasuki sebuah mobil bersama seorang pria yang mengekorinya. Seorang pria yang Nisa lihat dari arah belakang sehingga tak nampak wajahnya. Nisa berdiri tak jauh dari posisi orang tersebut dan memperhatikannya dengan saksama sekedar berharap dapat melihat wajah orang yang Nisa duga adalah Pak Boss.
“Apa dia Pak Boss yang dibicarakan Mbak Wiwik tadi, ya?” tanya Nisa pada diri sendiri dengan suara yang masih bisa didengar jika ada orang di dekatnya.
Berhubung Nisa melihatnya dari belakang tubuh tegap itu, alhasil dia tidak bisa melihat wajah tampan Pak Boss yang banyak dibicarakan. Sekilas Nisa melihat wajah pria yang tadi mengekori Pak Boss dan tak sengaja pria tersebut melihat Nisa yang menatap ke arahnya untuk beberapa saat, kemudian segera masuk ke mobil.
Tak berapa lama, mobil hitam itu mulai bergerak pelan keluar meninggalkan gedung pencakar langit dengan Nisa yang mulai melangkahkan kakinya. Dia berjalan kaki tak jauh di belakang mobil yang perlahan keluar area gedung membelah jalan ibu kota. Dengan mata yang mulai terasa berat serta tubuh lelah, Nisa berjalan seorang diri menuju halte bus tak jauh dari gedung itu. Sesampainya di sana, ternyata suasana halte masih terlihat cukup ramai dan tanpa menunggu lama akhirnya bus yang ditunggu datang. Nisa memasuki bus dan bersyukur masih ada kursi kosong sehingga tak perlu letih berdiri di antara desakan para penumpang. Nisa menghembuskan nafas lelah sesaat tubuhnya menyentuh kursi penumpang yang terbuat dari kursi besi dan menyandarkan punggung, lalu coba memejamkan mata.
Untuk sampai ke kostan, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit jika jalan tak macet dan bisa 2 jam ketika mengalami kemacetan. Untuk sejenak, Nisa mulai terhanyut dalam tidur yang dengan mudah menyapanya hingga sebuah dering telephone yang disimpan dalam tas terdengar dan mengganggu tidur. Nisa mengusap wajahya kasar dan bergegas membuka reselting tas untuk mengambil handphone yang terus bordering.
“Kak Pian!” ucap Nisa dengan mata berbinar setelah melihat siapa yang menelphone.
Tanpa ragu Nisa langsung menggeser tombol hijau yang ada pada layar dan menempelkannya ke telinga kanan dengan senyum terukir jelas serta rasa kantuk yang mendadak hilang.
“Hallo, Assalamu’alaikum, Kak!”
“ …. ”
“Alhamdulillah, Nisa baik kok!”
“ .… ”
“Nisa lagi di bus mau pulang.”
“ …. ”
“Belum.”
“ .… ”
“Iya, Nisa akan beli makan di dekat kostan nanti.”
“ .… ”
“Iya Kak Pian ganteng hehehe .…”
“ …. ”
“Walaikum Salam.”
Sambungan telephone terputus bersamaan bus berhenti di halte yang Nisa tuju. Dia pun bergegas turun bersama penumpang lain yang turun di halte tersebut. Udara malam terasa dingin karena langit mendung pertanda akan segera hujan. Nisa berjalan cepat menuju sebuah warung makan yang terlihat masih buka untuk membeli makan malam. Warung itu memang buka 24 jam dan bisa dijadikan alternatif ketika lapar melanda di tengah malam. Sebungkus nasi akhirnya sudah di tangan dan Nisa langsung membayarnya bersama sebotol air mineral. Dengan cepat, Nisa memasuki sebuah gang di mana kostan yang disewanya berada tanpa curiga jika ada seseorang sedang menguntitnya sejak tadi.
Ketika Nisa turun dari bus, tanpa dia ketahui ada seseorang yang memperhatikannya dari seberang jalan. Seseorang yang melempar senyuman sinis serta tatapan penuh benci yang tertuju padanya. Aldy, ternyata Aldy mengikuti Nisa sejak dari halte bus di depan gedung kantornya. Sesaat Aldy masuk ke dalam mobil di depan kantor, dia memutar kepalanya ke belakang mobil dan mendapati Nisa sedang berdiri menatap ke arah mobil yang ditumpanginya. Aldy tersenyum sinis melihat Nisa yang perlahan berjalan di belakang mobil yang bergerak dan tentu rencananya sudah dia buat.
Berada di seberang jalan, dengan senyuman licik Aldy terus memperhatikan Nisa yang sedang membeli makanan di warung klontong pinggir jalan di depan gang tempatnya tinggal. Ketika Nisa melangkah menuju sebuah gang kecil menuju kostannya, Aldy pun berlalu dengan senyuman yang masih tertera di bibirnya meninggalkan tempat tersebut. Aldy telah menemukan tempat tinggal mangsanya dan siap melakukan hal yang tentu akan membuat Nisa kesusahan.
“Besok, lo beli kostan tempatnya tinggal berapa pun harganya!” perintah Aldy tegas dengan nada memerintah yang cukup tajam kepada Mike yang sedang mengemudi.
“Lo yakin?” tanya Mike memastikan dengan kerut di keningnya.
“ Menurut lo?” ucap Aldy balik bertanya.
“Al, diia ....” Kalimat Mike langsung dipotong oleh Aldy dengan nada sedikit keras tak suka dibantah.
“Jangan mulai lagi, Mike. Gue lagi gak mau bertengkar dengan lo. Lakukan atau gue sendiri yang lakuin tanpa bantuan lo!” potong Aldy seraya menatap ke arah Mike yang tetap fokus mengemudi, sedang Mike hanya membalas tatapan tajam Aldy lewat kaca spion.
“Gue gak mau bertengkar, Al. Gue cuma heran, kenapa lo masih terus-terusan mengincarnya. Apa belum cukup lo perkosa dia 2 tahun yang lalu?” sahut Mike mengabaikan kalimat Aldy dan mengeluarkan segala rasa tak habis pikir yang ingin menyakiti gadis itu.
“Belum dan gue akan terus melakukannya sampai gue menemukan si sialan itu!” sahut Aldy dingin seraya menyandarkan punggungnya ke kursi sambil melepas jas hitam mahal yang membalut tubuh kekarnya.
“Tapi, Al,” sahut Mike kembali terpotong.
“Stop, Mike. Gue gak mau debat!” kata Aldy menutup pembicaraan yang selalu menjadi pemicu pertengkaran antara dia dan Mike, sahabat dan orang kepercayaan di keluarganya.
Mike pun menarik nafas berat dan mengangguk pelan. Suasana di mobil menjadi hening. Entah apa yang sedang dipikirkan Aldy, sedangkan Mike mulai berpikir apa yang sedang Aldy rencanakan untuk gadis malang yang kini seolah jadi buruan. Sebenarnya, Mike sangat terkejut ketika melihat Nisa bekerja di perusahaan milik Aldy sebagai Cleaning Service. Diam-diam Mike selalu memperhatikan Nisa dan memastikan bahwa Aldy tidak melihat keberadaan Nisa di sana. Tetapi sial, ternyata Aldy sudah tahu terlebih dahulu keberadaan Nisa. Padahal Mike berniat ingin mencarikan Nisa pekerjaan di tempat lain. Namun, di sinilah Mike sekarang, membuntuti Nisa bersama Aldy yang diselimuti dengan aura jahat dan siap menjalankan misi balas dendamnya kepada Nisa yang telah diperkosa dua tahun lalu.
“Lo salah, Al.”
15 April 2020/17.05