Pak Boss

1072 Words
Waktu sudah menunjukkan jam 6 sore, para karyawan bergegas meninggalkan kegiatannya masing-masing karena jam kerja sudah berakhir dan hanya terlihat beberapa orang yang masih melanjutkan pekerjaannya akibat belum selesai dan terpaksa harus lembur. Berbeda dengan Nisa, karena jam kerjanya dimulai jam 3 sore, jadi setiap hari dia akan pulang jam 8 malam hingga kantor tutup, tapi tidak terhitung lembur. Hal itu sebenarnya sedikit menguntungkan bagi rekan kerja Nisa yang lain. Berkat adanya Nisa, mereka tidak harus lembur hingga malam karena sudah ada Nisa yang berjaga dan tentu itu menguntungkan para rekannya. “Nis, Mbak pulang duluan, ya,” tutur Mbak Ani selaku rekan kerja satu bagian yang pamit kepadanya dan bergegas pulang. “Iya, Mbak!” sahut Nisa yang sedang membereskan gelas kotor dan siap untuk dicucinya. “Oya, Nis, sebelum pulang kamu ambil gelas kotor di ruang Buk Winda, ya, tadi saya lupa mengambilnya dan sekalian juga di ruangan Pak Boss,” ucap Bang Iwan yang baru kembali dari toilet dan meminta bantuan sedikit kepada Nisa yang menoleh ke arahnya dengan tangan yang tetap sibuk membersihkan gelas. “Pak Boss?” ucap Nisa bingung dengan ucapan Iwan barusan. “Iya, Pak Boss. Ruangannya ada di lantai 20 dan lantai tersebut hanya ada ruangan Pak Boss. Tadi saya lupa ke sana untuk mengambil gelas kotor dan membersihkannya. Tolong titip sekalian dan besok saya traktir makan, deh! Please!!!” rayu Iwan memohon. Nisa pun tersenyum dan mengangguk pelan. “Iya iya … nanti Nisa bersihin, kok!” sahut Nisa mengiyakan permintaan Iwan yang menyatukan kedua telapak tangannya merajuk. “Yess! Makasih adik cantik,” sahut Iwan menoel dagu Nisa genit. Sedangkan Nisa dan Mbak Ani hanya terkekeh geli melihat tingkahnya. “Ya sudah kita pulang dulu, ya, Nis. Kerja yang benar dan jangan melamun. Kalau ada kesulitan jangan lupa telephone Mbak, ya,” ucap Mbak Ani memberi pesan dan dibalas anggukkan oleh Nisa, kemudian berlalu pergi meninggalkannya di ruang pentry seorang diri untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Perlahan juga pasti, suasana kantor menjadi sepi. Selesai dengan kegiatan mencuci gelas-gelas kotor, untuk sesaat Nisa mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi yang ada di ruangan tersebut sambil meminum secangkir teh hangat yang baru saja dibuatnya. Dirasa cukup untuk merehatkan tubuh, Nisa meletakkan cangkir teh di sebuah meja kayu yang ada di hadapannya dan bergegas keluar dari ruang pentry. Suasana kantor terlihat sepi dan terlihat ada beberapa karyawan yang terpaksa lembur karena belum menyelesaikan tugasnya dan terlihat berlalu lalang. Berhubung sudah sepi, Nisa bergegas menuju toilet wanita untuk membersihkannya. Sampai di sana, Nisa sangat bersyukur karena toilet tidak sekotor toilet umum, sehingga dia tidak terlalu kelelahan membersihkannya. Tak memakan waktu lama, Nisa sudah menyelesaikan tugas membersihkan toilet yang ada di lobi. Setelahnya, dia melanjutkan langkahnya ke ruang pentry utama di mana para Staff kantor sering membuat teh atau kopi. Diambilnya sapu yang ada di pojok ruangan dan mulai menyapu, mengepel, serta membersihkan meja dan kursi juga mencuci beberapa piring dan gelas kotor yang dia ambil dari meja para Staff yang sudah pulang. Nisa melakukan pekerjaannya dengan ikhlas dan sesekali bersenandung ria yang terdengar seperi gumaman untuk menghilangkan rasa sepi. “Nisa!” panggil seseorang yang langsung menghentikan Nisa yang sedang menyapu. “Eh! Mbak Wiwik belum pulang?” jawab Nisa setelah melihat orang yang memanggilnya. “Iya, padahal tadi sudah siap-siap mau pulang, tapi last minute malah dikasih kerjaan lagi sama Pak Dodit, sebal!” gerutu Wiwik sambil mengambil gelas dari lemari. “Pak Dodit itu galak, ya, Mbak?” tanya Nisa yang mendadak penasaran dengan Pak Dodit. “Galak, sih, enggak! Cuma ngeselin dan genit. Ganteng enggak buncit iya,” kata Wiwik dengan nada malas. Nisa yang mendengar hanya terkekeh geli melihat reaksi Wiwik. “Tapi, ya, Nis, kita punya Boss suuuuuuuuper ganteng, deh! Udah baik, ramah, gak suka marah-marah, punya perut kotak-kotak dan tajir melintir, loh! Arrrgggh! Bahagia banget kalau jadi istrinya. He’s so perfect!” ucap Wiwik antusias sambil menghayal khas cabe-cabean haus belaian yang membuat Nisa terpaku geleng-geleng. “Mbak Wiwik jatuh cinta sama Pak Boss?” timpal Nisa mendengar penuturan Wiwik yang tiba-tiba membahas Pak Boss. Pertanyaan polos pun meluncur terjun bebas dari bibir ranum Nisa membuat Wiwik menegang seketika. “Haduuu ... Nis, siapa juga yang gak jatuh cinta sama Pak Boss. Di sini, tuh, ya, mayoritas karyawati kepincut berat, hanya saja gak ada satu pun yang berhasil. Padahal Pak Boss gak pernah terlihat bersama wanita, loh! Dingin gitu orangnya, makanya ada gosip beredar yang mengatakan bahwa Pak Boss gak doyan cewek alias Gay,” terang Wiwik panjang lebar kepada Nisa berdasarkan info yang diketahui mengenai Pak Boss. “Astagfirullah! Mbak yakin dengan gosip itu?” sahut Nisa tak percaya. “Entahlah!” jawab Wiwik menggelengkan kepala yang sejujurnya tak yakin dengan rumor tersebut. “Tapi satu yang Mbak yakini,” ucap Wiwik menggantung kalimatnya. “Apa?” tanya Nisa penasaran juga. “Pak Boss PASTI galak kalau di ranjang hahahaha …,” jawab Wiwik asal sambil terbahak-bahak membayangkan hal m***m yang dilakukan Pak Boss. Nisa terbelalak dan seketika jantungnya berdetak dengan kencang. Ada perasaan takut yang tiba-tiba datang mendengar kalimat terakhir Wiwik. Mendadak kepalanya terasa pusing karena kembali teringat kejadian dua tahun lalu yang berputar-putar mengisi otaknya. Keringat dingin mengucur di dahi dan nafas terasa sesak, lalu tubuhnya luruh ke lantai. “Ya Allah Nisa, kamu kenapa?” tanya Wiwik yang panik melihat Nisa terduduk di lantai sambil memegang kepalanya seolah menahan sakit luar biasa. “Kepala Nisa pusing, Mbak” jawab Nisa pelan dan merintih menahan sakit. “Ayo sini, Mbak bantu!” ucap Wiwik kemudian sambil memapah tubuh Nisa yang lemah dan didudukkannya ke kursi. “Kamu sudah makan?” tanya Wiwik sambil menggenggam tangan Nisa. “Belum, Mbak,” sahut Nisa singkat. “Yeee … pantas pusing kamu ternyata belum makan, sih! Ya sudah, Mbak pesenin makan dulu, ya," tawar Wiwik yang segera meraih handphone di saku blazernya berniat memesan makanan. “Gak usah, Mbak, Nisa baik-baik saja, kok! Nisa bikin teh hangat saja setelah itu pasti baikan,” larang Nisa yang tahu apa sebab kepalanya pusing mendadak. Bukan, bukan karena Nisa belum makan, tapi karena kembali teringat kejadian pahit yang dialaminya dua  tahun lalu yang begitu sulit dia lupakan, dan untuk sesaat teringat kembali. Wiwik yang mendengar penolakan Nisa akhirnya bergegas membuatkan teh dan memberikannya. Tanpa mereka tahu, ada seseorang yang kini sedang mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu dan perlahan melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut menuju lift dengan seringaian sinis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD