Sarang Macan

1055 Words
Setelah Sopian mengantarkan Nisa ke tempat kost yang sudah dipilihnya serta menemui Ibu Kost untuk menitipkan adik tersayangnya,Sopian tidak langsung pulang ke rumah karena ingin menghabiskan waktu berdua dengan Nisa untuk sekedar berputar-putar mengelilingi Jakarta. Kebetulan Sopian ada urusan selama seminggu di Jakarta dan akan memantau Nisa di awal masa kuliahnya. Selama di Jakarta untuk mengurusi urusannya, Sopian sudah memesan hotel untuk seminggu dan tak jauh dari kost milik Nisa. Selama seminggu pula, Sopian selalu mengantar dan menjemput Nisa, bahkan Sopian dengan sabar mengisi waktu luangnya meladeni setiap pertanyaan yang Nisa lontarkan tentang materi yang kurang dia pahami. Hari berganti hari, tak terasa Nisa sudah menyandang status sebagai mahasiswi selama tiga bulan dan tinggal di sebuah kostan putri yang lokasinya tak jauh dari kampus karena bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 10 menit. Walau boleh dikatakan jika Nisa telat masuk kuliah, tapi itu bukan masalah besar karena Nisa adalah gadis yang cerdas di sekolahnya dulu. Semua biaya kuliah dan hidupnya tentu ditanggung penuh oleh Pak Dadang, namun Nisa berniat mencari pekerjaan paruh waktu untuk mencukupi kebutuhannya dan tidak terlalu bergantung dengan uang yang diberikan Pak Dadang, apalagi teman satu kostnya pun banyak yang bekerja paruh waktu, dengan syarat asal bisa membagi waktu dengan jam kuliah serta tak menggangunya. Pada awalnya, Pak Dadang terutama Sopian sangat menentang keras keinginan Nisa untuk bekerja, namun dengan rengekan yang terus dilayangkan Nisa, akhirnya Pak Dadang menyerah akan kemauan Nisa. Berbekal ijin yang telah dikantongi dari Pak Dadang dan istri juga Sopian, akhirnya Nisa mulai mencari-cari pekerjaan yang mau menerima pegawainya yang masih berstatus mahasiswi. Dengan bantuan temannya di kampus, akhirnya Nisa mendapat pekerjaan sebagai Cleaning Service di sebuah perusahaan tempat temannya bekerja. Berbekal ijazah SMA yang dimiliki, untuk saat ini pekerjaan itulah yang bisa Nisa dapatkan dan baginya tentu itu bukan hal yang susah atau hina asalkan halal, dan Nisa akan melakukannya tanpa rasa malu. Sopian yang mendengar jika Nisa akan bekerja sebagai Cleaning Service tentu tak terima, dan melarang keras keputusannya, bahkan sampai datang ke Jakarta hanya untuk memberikan pengertian kepada Nisa agar tak melakukannya karena tanpa bekerja sekalipun, Sopian bahkan mampu untuk membiayai kuliah Nisa tanpa bantuan Pak Dadang. Namun, sekuat apapun Sopian melarang Nisa untuk menerima pekerjaan itu, sekeras itu pula Nisa tetap pada pendiriannya. Hingga Sopian menyerah dan dengan berat hati membiarkan Nisa bekerja namun dengan satu syarat, hanya untuk tiga bulan waktu yang Sopian berikan untuk Nisa bekerja karena dikhawatirkan pekerjaan itu akan mengganggu kuliahnya, dan Nisa menyanggupinya. Kini tibalah, hari di mana untuk pertama kalinya Nisa bekerja sebagai Cleaning Service di perusahaan tersebut. “Nis, kamu sudah sarapan?” tanya Wiwik selaku karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut serta memberikan referensi ke bagian HRD yang akhirnya diterima untuk bekerja di kantornya, hanya saja Wiwik lebih beruntung karena merupakan karyawan lama dan menjabat sebagai Staff di bagian Marketing selama 4 tahun yang tentu usianya lebih tua dari Nisa. “Sudah, Mbak,” sahut Nisa dengan memamerkan deretan gigi dan senyum manis di wajah cantiknya. “Ya sudah kalau begitu, Mbak masuk dulu ya,” pamit Wiwik. Nisa hanya mengangguk dan Wiwik pun berlalu meninggalkan Nisa sendiri di ruang tunggu yang ada di lobi perusahaan. Tak lama kemudian, seseorang datang menghampiri Nisa berjalan anggun dan tersenyum ramah. Seorang wanita dengan setelan blazer berwarna soft pink yang tak lain salah seorang Staff dari bagian Personalia yang akan mengantar dan menjelaskan pada Nisa perihal pekerjaannya. Berhubung Nisa masih menyandang status mahasiswi, pihak perusahaan akan mentolerir jam kerja Nisa sehingga dia dapat memulai pekerjaannya setelah pulang dari kampus dan pekerjaan dimulai jam 3 sore hingga jam 8 malam karena waktu kerja kantor maksimal hingga jam 8 malam, dan itu pun sudah terhitung lembur. Dengan berbekal wajah yang cantik dan ramah tentunya, Nisa dengan mudah menarik perhatian rekan satu bagiannya apalagi usia Nisa ynag masih terbilang muda sehingga menjadikannya anggota paling muda di tim tersebut. Tak jarang para karyawan pria di sana yang menaruh hati setelah melihat Nisa dan selalu iseng sekedar menggoda Nisa, berharap disambut olehnya, namun tak Nisa hiraukan karena tujuan dia hanya bekerja demi mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhannya di Jakarta agar tidak terlalu membebani orang tua angkatnya, terlebih dia hanya memilki waktu 3 bulan sesuai kesepakatan yang telah dibuatnya dengan Sopian karena alasan bekerja hanya mencari pengalaman bukan untuk mata pencaharian. Tak sedikit pula para karyawati yang mencibir Nisa karena menganggapnya genit dan cari perhatian. Padahal sebenarnya mereka iri karena melihat Nisa yang cantik dan disukai banyak orang. Walau Nisa tak menghiraukan cibiran tersebut, sedikit banyak sebenarnya mengganggu pikiran Nisa yang tak pernah sedikit pun ingin menggoda para pria di sana, apalagi dia hanya seorang Cleaning Service. Selain sebagai Cleaning Service, Nisa juga tak segan membantu membuatkan minum atau sekedar membelikan makanan untuk para Staff yang terkadang memerlukan bantuan. Semua dilakukannya dengan suka rela tanpa mengharap imbalan. “Nis!” panggil seseorang yang perlahan menghampirinya. “Ya, Buk!” sahut Nisa cepat. “Tolong buatkan saya teh manis dan bawa ke ruangan saya ya!” katanya lembut dan tersenyum. “Iya, Buk,” jawab Nisa singkat. Nisa pun bergegas membuatkan teh manis yang diminta Buk Winda selaku Kepala HRD di perusahaan tersebut dan untuk beberapa karyawan lainnya yang telah meminta juga sebelumnya. Sejak hari pertama Nisa mulai bekerja, Buk Winda sangat baik pada Nisa bahkan sering memberikan Nisa uang jajan karena tahu Nisa masih kuliah. Ditambah perangai Nisa yang cukup baik dan sangat rajin. Pekerjaan yang dia lakukan juga sangat rapih. Tak menunggu lama, Nisa bergegas membawa teh yang dipesan menuju ruangan Buk Winda dan menuju lift. ‘Tok tok tok’ Bunyi pintu terdengar diketuk oleh Nisa dari luar. “Masuk!” sahut Buk Winda mempersilahkan. Nisa langsung bergegas masuk dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh dengan kedua tangan kecilnya. “Letakkan saja di meja, Nis.” Nisa hanya mengangguk tanpa suara dan langsung meletakkannya hati-hati tanpa memperhatikan sekeliling dan yang dia tahu bahwa Buk Widia sedang berbicara dengan seorang pria yang sedang berdiri menghadap ke luar jendela sehingga Nisa tak bisa melihat wajahnya. “Permisi, Buk,” ucap Nisa sebelum meninggalkan ruangan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Tanpa Nisa sadari, pria yang sedang berdiri menghadap ke luar jendela memutar badan yang kini menatapnya dan seketika membuka mata lebar-lebar, namun perlahan mata itu berubah menatap tajam ke arahnya dengan seringaian setan yang terukir di bibirnya. “I found you!”   ~Bersambung 07 April 2020/10.17
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD