Dikurung

1011 Words
Rumah itu terlihat sepi seperti tak berpenghuni, dinding pagar berdiri kokoh mengelilingi rumah tersebut setinggi dua meter dengan kawat-kawat runcing melilit di permukaan dinding tersebut sebagai pelindung dan akan melukai siapa pun yang berani nekat melewati pagar. Pintu gerbang tertutup rapat seolah tak pernah dibuka, bahkan lampu pagar selalu menyala dan tak pernah mati, tak perduli siang atau malam sehingga orang yang melihatnya pasti mengira bahwa rumah itu tak berpenghuni. Selain sepi, rumah itu pun tak nampak memiliki seorang penjaga keamanan, meskipun terlihat ada pos keamanan di depannya. Rumah itu benar-benar terlihat sangat mencekam dan cenderung menyeramkan layaknya kuburan. Seorang gadis berambut panjang dengan pakaian minim bahan hingga menampilkan belahan d**a yang tak terlalu besar dan paha mulusnya sedang duduk di pinggir ranjang dengan kaki yang tak menyentuh lantai karena tingginya ranjang. Mata sayunya memandang ke luar jendela yang dibuka tirainya, sehingga cahaya masuk ke dalam ruangan. Udara yang masuk dari luar terasa begitu bersih dan segar karena di luar kamar tersebut, terdapat kebun bunga yang tertata rapih. Terdengar kicauan burung membuat hati semestinya merasa damai, tapi tidak untuknya. Hatinya sakit, tidak hanya hati, tapi jiwa dan raganya. Tubuhnya terduduk lemah, meratapi nasib yang menimpa. Takdirkah atau cobaan? Terdapat lebam di beberapa bagian wajah. Bibir bagian bawahnya terluka karena bekas gigitan. Di sekujur tubuh, ada banyak bercak merah serta gigitan, dan terlihat begitu menjijikan layaknya seorang jalang murahan. Air mata terus menetes di pelupuk matanya yang terlihat sembab karena terlalu sering menangis. Isaknya tak terdengar, walaupun air mata terus menetes membasahi pipi itu. Dua hari sudah berlalu sejak Aldy membawa dan mengurung Nisa di rumah terpencil ini. Tubuhnya benar-benar kacau dan lemah karena belum makan apa pun sejak saat itu. Bahkan untuk minum, Nisa terpaksa meminum air keran yang ada di kamar mandi. Tubuhnya demam, tapi tak dirasa karena hatinya lebih sakit. Nisa benar-benar tak mengerti, kenapa orang yang sama sekali tak dikenalnya masih saja menyakiti, bahkan semakin menjadi tanpa tahu apa salahnya. Lamunan Nisa seketika pudar ketika mendengar suara mobil dari luar rumah. Tubuhnya tiba-tiba menegang dan kaku. Tanpa melihat sososknya, tentu dia tahu siapa yang datang. Matanya menatap sekeliling mencari jalan untuk keluar, tapi tak ada. Bahkan jendela di kamar itu dilapisi oleh teralis besi, sehingga mustahil siapa pun yang ada di dalam mampu untuk melarikan diri. Ketika rasa takut semakin memuncak, terdengar pintu yang dibuka dari luar dan membuat Nisa luluh ke lantai sambil memeluk tubuh kecilnya di samping ranjang dengan tubuh gemetar. ‘Ceklek’ Suara pintu terbuka. Aldy? Benar. Aldy yang baru saja membuka pintu itu dan berdiri di ambang pintu memandang Nisa yang kini meringkuk dengan tubuh bergetar ketakutan. Aldy tersenyum jahat dan perlahan melangkahkan kakinya mendekati Nisa yang masih belum menunjukkan wajahnya. Aldy kini telah berdiri di hadapannya, kemudian berjongkok. Nisa dengan jelas bisa mendengar deru nafas Aldy yang terasa sangat mengerikan bagi indra pendengarannya. Aldy menatap nanar tubuh Nisa. Dia tersenyum bangga melihat kondisi Nisa yang mengenaskan. Tubuh dengan banyak bercak hasil karyanya dan lebam di beberapa bagian. Di tatapnya paha mulus Nisa yang terpampang jelas di hadapannya. Dia tahu jelas, dibalik pakaian kurang bahan yang diberikannya kepada Nisa, tak ada kain yang menutupi organ intim, termasuk penutup kedua payudaranya. Hal itu sengaja dia lakukan karena baginya Nisa adalah boneka kecil mainan, jadi suka-suka dia akan seperti apa memperlakukannya. “Angkat wajahmu!” perintah Aldy dengan nada suara yang berat dan dingin. Nisa terlihat terhenyak kaget dan terisak lirih tak berani mengangkat wajahnya di depan predator mengerikan yang siap melahap. Ditatapnya penuh kesal karena Nisa yang dengan berani menolak perintahnya. “Akkh!” pekik Nisa sakit karena Aldy yang langsung menjambak rambut panjang Nisa yang berantakan. “Melawan, huh?” gerutu Aldy menatap wajah Nisa yang terpaksa mendongak menatap takut dengan mata basahnya. Nisa hanya menggelengkan kepala pelan. Tangan Nisa ikut memegang tangan Aldy yang mencengkeram rambut agar bisa menahan sedikit rasa sakit di kepalanya. “A-ampun!” suara Nisa memohon dengan bergetar dan terbatah. Aldy yang mendengarnya hanya menyunggingkan senyum kecut tak menghiraukan dan semakin menarik rambutnya kuat. “NEVER!” jawab Aldy, kemudian membenturkan kepala Nisa ke dinding di belakangnya. Nisa meringis kesakitan sambil memegang kepalanya yang berdenyut. Tubuh kecil lemahnya meringkuk di lantai dan bergeliat kesakitan. Aldy berdiri dan beranjak meninggalkan Nisa tanpa memperdulikan isak tangisnya. Tak berapa lama, Aldy kembali masuk ke kamar membawa kantong plastik berwarna hitam. Setelah sampai persis di depan Nisa yang kini duduk meringkuk, Aldy melemparkan plastik tersebut dengan kasar ke arahnya dan tepat jatuh di kaki Nisa. “MAKAN!” bentaknya keras. “Isi tenagamu! Persiapkan diri untuk melayaniku nanti malam!” ucap Aldy sebelum pergi meninggalkan Nisa sambil membanting pintu dan menguncinya dari luar. Nisa yang mendengarnya semakin terisak. Apakah ini akhir dari hidupnya, terkurung di rumah yang entah ada dimana, menjadi seorang jalang tak berharga yang diperlakukan seperti hewan. Bahkan, manusia pun tak akan tega menyiksa apalagi seorang manusia kecuali orang tersebut mengalami kelainan jiwa. Dengan isak tangis yang belum berhenti, Nisa mengangkat wajah dan menatap plastik yang ada tak jauh dari kakinya. Diraihnya plastik tersebut, ada kertas berwarna coklat dengan karet kelang yang melilitnya. Dilepasnya karet gelang itu dan dibukanya perlahan bungkusan tersebut. Nasi? Benar. Sebungkus nasi dengan sepotong tahu putih tergeletak mengenaskan di antara gumpalan nasi. Pandangan Nisa menatap nanar apa yang dilihatnya. Perlahan Nisa mulai memilin nasi itu dengan jari-jari kecilnya dan memasukkannya ke mulut yang terasa sakit ketika dibuka. Air mata terus mengiringi setiap kunyahannya. Dipeluknya dengan erat bungkus nasi tersebut dan tangis pilu Nisa pun pecah menggema di kamar tersebut. Aldy yang ternyata masih ada di rumah itu dan berdiri di depan kamar, tersenyum puas tatkala mendengar suara tangis Nisa dari dalam. Aldy tersenyum penuh binar, hatinya merasa puas karena menyakiti mangsanya. Kaki pun beranjak meninggalkan kamar tersebut dan keluar rumah sambil bersiul serta tak lupa mengunci pintu utama rumah tersebut. Bagi siapa pun, tentu tak akan pernah menyangka jika di dalam rumah yang minimalis dan indah itu ada seorang gadis malang terkurung dan tersiksa. Dengan pasti, Aldy masuk ke mobil dan menyalakannya, kemudian bergerak perlahan meninggalkan rumah tersebut menuju kantor miliknya.  Bersambung 15 April 2020/18.40  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD