Tangis Sopian

1311 Words
Setelah pencariannya ke kantor tempat Nisa bekerja, Sopian kini terduduk diam di dalam mobil miliknya sambil menatap tas milik Nisa. Hatinya benar-benar gelisah memikirkan keselamatan Nisa yang menghilang tanpa jejak. Tak terasa mata Sopian berkabut, kemudian setetes air mata jatuh ke pipinya. Sudah lama Sopian tak menangis, terakhir kali dia menangis ketika adik perempuannya meninggal karena sakit parah dan tak bisa tertolong. Kini, air mata yang seolah menghilang, kembali datang menyambangi mata tajam Sopian. Benar, walau Nisa bukan adik kandungnya, akan tetapi kasih sayang Sopian begitu tulus kepada Nisa yang dianggapnya seperti adik kandung sendiri. Hatinya kembali terasa sakit dan sesak, tak terima jika harus kehilangan adik yang disayanginya untuk kedua kalinya. Dia ingin menemukan Nisa dalam keadaan hidup. Membawa kembali Nisa untuk pulang ke rumah dan menjaganya agar tak ada orang yang menyakiti. Jauh di relung hatinya, Sopian sangat menyesal telah menawarkan dia untuk melanjutkan pendidikannya dan meraih impian yang tertunda.  Sopian menyesal membiarkan Nisa hidup sendiri di Jakarta tanpa keluarga dan luput dari pengawasannya. Sopian menyesal telah memberikan ijin untuk Nisa bekerja seolah keluarga tak mampu memberikan sesuap nasi untuk mengisi perutnya yang lapar. Sopian menyesal telah lupa jika Nisa merupakan korban perkosaan di saat usianya masih belia. Sopian menyesal dan benar-benar menyesal atas hilangnya Nisa saat ini. Sopian menatap nanar tas milik Nisa yang dipeluknya dengan erat. Dihapusnya air mata yang menetes di pipinya kasar. Perlahan dia menarik resleting tas milik Nisa dengan hati-hati. Ketika dibuka, hanya terdapat handphone, dompet berwarna pink dan sebuah buku. Sopian meraih handphone dan memasuki kata sandinya. Tentu Sopian tahu sandinya karena dia yang memberikan handphone tersebut kepada Nisa. Setelah terbuka, dia membuka semua pesan masuk dan membacanya saksama. Semua kontak panggilan pun tak luput dari pemeriksaannya. Semua pesan masuk tak menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan dan didominasi pesan darinya termasuk panggilan masuk.  Setelah terdiam sejenak, Sopian menarik nafas dalam dan membuka galeri. Sopian tersenyum pilu menatap foto-foto di sana karena hanya ada foto Nisa, dia dan orang tuanya. Mendadak tangisan Sopian pecah, bukan merasa sedikit lebih lega, tapi hatinya semakin sakit dan pikiran buruk semakin terngiang bahwa telah terjadi sesuatu kepada Nisa, dan dugaan itu menjadi lebih dominan karena meresahkan hatinya yang semakin kalut. “Maafin kakak, Dek!” Suara lirih Sopian tergugu sambil memeluk erat tas milik Nisa seolah adalah tubuh kecilnya yang tak berdaya.  **** Mike yang tengah berada di Bali, kini tengah disibukkan dengan pekerjaanya yang sudah berlalu tiga hari sejak kedatangannya. Saat ini, dia sedang berada di sebuah resort untuk memantau proses pembangunan sesuai perintah Aldy dan semua berjalan dengan lancar tanpa kendala apa pun. Persiapan resort sudah menyentuh angka 80% dan bisa dipastikan kalau beberapa bulan ke depan sudah dapat beroperasi. Dirasa pekerjaan di Bali sudah berjalan dengan lancar, Mike berencana ingin kembali ke Jakarta dan akan menghubungi Aldy sebelumnya. Saat ini, Mike sedang berada di Ubud sambil mengendarai sepeda motor berkeliling ditemani salah satu temannya yang tinggal di Bali bernama Hendri. Waktu sudah menunjukkan jam makan siang dan perut Mike sudah terasa keroncongan karena dia hanya makan sepotong roti selai kacang dan segelas s**u sejak pagi. Sambil Hendri yang fokus mengendarai sepeda motor, Mike yang membonceng di belakang tengah sibuk membuka sebuah aplikasi untuk mencari rumah makan terdekat yang sekiranya bisa ia kunjungi.  Setelah menemukan tempat yang kira-kira cocok, Mike mengatakannya kepada Hendri dan langsung melesat ke sana dan tak lama sampailah mereka di sebuah warung sederhana bernama Waroeng Otka. Mereka turun dari motor dan langsung masuk, kemudian duduk hingga seorang pelayan wanita dengan mengenakan baju tradisional khas Bali menghampirinya. “Selamat siang, mau pesan apa, Pak?” ucap pelayan wanita tersebut ramah dan seketika pandangan mata Mike menatap tepat ke manik mata wanita tersebut. “Astaga ... dia?” suara batin Mike setelah melihat seorang pelayan cantik sedang  berdiri di sampingnya tersenyum ramah. Tubuhnya tak terlalu tinggi cenderung pendek, tapi lumayan tinggi untuk ukuran wanita Indonesia, rambut sebahu, bibir tipis nan sexy, serta kulit yang tak terlalu putih, tapi terlihat eksotis. Mike memandang pelayan tersebut tanpa berkedip. Keduanya saling pandang dalam diam, hingga Hendri menginterupsi dan pandangan mereka pun terputus. “Ehem ...,” suara keduanya terdengar mencoba menetralkan suasana yang diselimuti aura canggung. Hendri yang melihat keduanya nampak kikuk dan hanya tersenyum simpul, menatap mereka secara bergantian seolah menyelidik. Suasana menjadi hening untuk beberapa saat, hingga Hendri kembali bersuara. “Mike, kau mau pesan apa? Itu si Mbak tanya malah dicuekin!” gerutu Hendri seraya mencolek lengan Mike. Terdengar suara Mike yang kembali berdehem. “Sayur asem!” sahut Mike tanpa menoleh ke pelayan tersebut yang masih berdiri dan menunggu. Mendengar jawaban Mike, pelayan itu hanya melotot dan membuka mulutnya bingung. “Hah?” suara pelayan tersebut terdengar pelan. Namun, pandangan mata Mike hanya menatap ke bawah, seolah meja lebih menarik untuk diamati. Sedangkan Hendri yang mendengarnya, langsung mengambil tabel menu makanan yang ada di depannya dan untuk mengecek, apakah ada menu sayur asem seperti yang diminta Mike. Pandangan Hendri terangkat setelah beberapa detik membolak-balik beberapa kali tabel menu makanan tersebut, kemudian berdecih. “Gak ada sayur asem, ah!” beo Hendri sambil menatap Mike dengan tangan masih memegang lembaran menu makanan tersebut. Mike hanya terdiam dan memutar bola matanya malas. “Adaaaaa ...,” jawab Mike singkat. Hendri terlihat semakin bingung mendengar jawaban Mike yang terus memandangnya datar tanpa menoleh ke pelayan tersebut. Pelayan itu hanya menarik nafas berat tanpa berucap. “Ada dari mana sih? Coba lihat, nih, ga ada, Mike!” ucap Hendri sambil menyodorkan tabel menu makanan ke Mike, tapi tak ditanggapi. Hendri yang mulai jengkel membuang pandangannya menatap sang pelayan, kemudian tersenyum canggung. “Maaf, ya, Mbak. Teman saya habis sunat, jadi agak sensitif gitu!” kata Hendri dengan wajah sungkan karena tak enak hati dengan sikap Mike yang tiba-tiba aneh. Pelayan itu hanya mengangguk dengan senyuman tipis dipaksakan karena wajahnya terlukis jelas bahwa dia merasa tersinggung atas sikap Mike kepadanya. “Ya sudah, saya pesan dua porsi bebek goreng dan orange juice saja!” pinta Hendri pada akhirnya. Sang pelayan pun mencatat dan memutar tubuhnya, melangkah meninggalkan mereka dalam diam. Selepas kepergian pelayan itu, Hendri yang melihat wajah misterius semakin penasaran dengan apa yang membuat Mike mendadak buruk. “Kenapa tiba-tiba aneh setelah lihat pelayan itu?” tanya Hendri datar menatap Mike yang sibuk memainkan handphone dengan tangan kanannya. “ .... ” Mike hanya terdiam seolah tak mendengar suara Hendri. Padahal jelas-jelas dia tak tuli. Hendri yang diabaikan mulai kesal, sedetik kemudian merampas handphone dari tangannya. “Apa-apain, sih, Hen! Balikin gak?” pinta Mike jengkel. “Gak, sebelum  kaucerita sebenarnya ada apa antara kau dan pelayan itu!” sahut Hendri yang membuat Mike semakin tersudut dan kesal. Hendri menatap wajah Mike dengan mata terus menyelidik menunggu dia memberikan penjelasan dengan tangan kanan diletakkan ke belakang tubuh besarnya untuk menyembunyikan handphone itu. Mike menarik nafas berat, kemudian membuang pandangannya ke arah lain, dan semenit kemudian bertemu pandang dengan Hendri. “Viona, itu namanya,” ucap Mike pelan. “Terus?” tanya Hendri lagi. “Dia ... dia teman SMA,” sahutnya lagi. “Terus?” “Terus ke mana lagi, Hen?” tanya Mike balik. “Kalau dia teman SMA, kenapa terlihat kesal begitu? Bukannya senang ketemu teman lama, tapi malah perang dingin, anehkan?” beo Hendri mengeluarka rasa penasarannya. “Kauyakin ingin tahu?” tanya Mike menawarkan. “Kalau gak yakin, ngapain kutanya?” kata Hendri lagi. “Dulu, saat masih kelas 2 SMA, aku pernah nembak Viona, tapi ditolak!” jelas Mike dengan wajah kesalnya. Hendri yang menunggu penjelasan dengan serius tiba-tiba terbahak setelah mendengarnya. Ya, seorang Mike yang ganteng se-level Rafael Miller, pernah mengalami ditolak cewek dan sialnya, hal itu membuat dia terkesan belum move on dengan target yang gagal diraihnya. Mike yang melihat Hendri terbahak sampai-sampai air mata keluar di sudut matanya, semakin jengkel dan menyesal sudah membuka aib yang selama bertahun-tahun dia simpan untuk dirinya sendiri. "Senang betul tahu aibuku!" Bersambung 15 April 2020/18.45  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD