Waktu sudah menunjukkan jam 8 malam, artinya jam kerja Aldy seharusnya sudah berakhir 2 jam sebelumnya, tapi hingga kini belum ada tanda-tanda kedatangannya. Di luar rumah, siang yang begitu terik telah berganti gelap, lampu-lampu di pekarangan akan menyala secara otomatis sesuai waktu yang telah diatur pada sistem keamanan rumah tersebut. Jika seseorang masuk melalui pintu gerbang kemudian berdiri di depan rumah tersebut, akan terlihat penerangan di luar rumah tertata begitu apik dengan taman yang tumbuh dengan indah serta bunga-bunga yang bermekaran hingga tercium aroma semerbak dari bunga tersebut.
Bagi yang melihat rumah tersebut, pastinya akan merasa nyaman juga betah untuk tinggal di dalamnya. Namun, kenyataan tersebut sangat bertolak belakang dengan kenyataan. Di balik pintu utama yang tertutup rapat, serta lampu yang terlihat mati pada sisi dalam rumah tersebut, ada seorang gadis dengan kondisi menyedihkan di sebuah kamar yang terkunci sedang meringkuk di atas sebuah ranjang. Cahaya lampu dari kamar tersebut telah menyala, tapi aura kesedihan dan ketakutan begitu terasa.
Beberapa saat kemudian, terdengar sebuah suara mobil yang memasuki pekarangan rumah, lalu suaranya lenyap. Nisa yang mendengarnya, langsung terbangun dari rebahannya dan beringsut ke kepala ranjang sambil memeluk tubuh kecilnya. Kondisi Nisa tak jauh beda ketika Aldy mengunjunginya tadi pagi. Aldy hanya memberinya sebungkus nasi tanpa memberinya pakaian ganti. Bahkan, saat ini Nisa hanya mengenakan sebuah pakaian tidur sebatas paha, berwarna ungu terang dengan 2 tali di bahunya tanpa pakaian dalam. Bekas-bekas lebam tentu masih terlihat di tubuh Nisa, terutama di sekitar wajahnya.
Di luar, setelah memarkirkan mobil hitamnya ke garasi, Aldy langsung membuka pintu utama dengan sandi yang tentu hanya dia yang mengetahuinya dan bergegas ke arah dapur, lalu membuka kulkas yang nyatanya terdapat lumayan banyak bahan makanan dan minuman ringan. Aldy mengambil sebotol air mineral dan meminumnya hingga tersisa setengah. Pekerjaan di kantor hari ini benar-benar membuatnya kelelahan, hingga begitu banyak menguras tenaga. Untungnya sebelum pulang, Aldy sudah menyempatkan makan dan mandi di kamar yang tersedia di ruangan kerjanya.
Setelah menghabiskan minumannya, Aldy melirik ke arah pintu di mana di dalamnya ada Nisa yang entah bagaimana keadaanya, dia pun belum tahu. Aldy membuang botol kosong ke tong sampah, kemudian melangkahkan kakinya ke ruang tengah sambil memakan sebuah apel merah dan duduk dengan santai menyilangkan kaki sambil digerak-gerakan seperti layaknya tingkah bos besar.
Di dalam kamar, Nisa yang mendengar suara pintu yang dibuka terlonjak kaget dan semakin mengeratkan pelukannya. Apalagi tak berapa lama kemudian terdengar suara sesuatu yang seolah dilempar. Nafas Nisa yang tersenggal perlahan berubah teratur ketika sepi kembali menyelimuti isi rumah tersebut hingga bunyi terdengar dari balik pintu. Ada seseorang yang menggerakan gagang pintu dan berusaha membukanya.
‘Ceklek’
Suara pintu yang baru dibuka seseorang dan suaranya terdengar begitu menyeramkan untuk Nisa. Mendadak Nisa yang melihat pintu terbuka, perlahan mulai diserang rasa takut. Tubuhnya gemetar dengan keringat dingin yang tiba-tiba muncul. Matanya kembali panas hingga terasa berkabut. Mata itu kembali menangis dengan bibir bergetar.
Dengan santai, Aldy melangkah masuk dan menutup pintu dengan pelan. Aldy memandang Nisa yang tertunduk dengan posisi memeluk tubuhnya di lantai tak jauh dari ranjang. Wajahnya disembuyikan di antara kedua belah paha, sehingga menampilkan pahanya dengan jelas dan siap dicicipi. Aldy hanya menyunggingkan senyum jahat menatap buruan tak berdayanya. Nisa semakin menyudutkan tubuhnya ke dinding ketika langkah Aldy semakin dekat ke arahnya, hingga berhenti tepat di hadapan Nisa. Aldy berjongkok untuk menyamakan tinggi, menatap tajam dan mengamati tubuh kecil yang bergetar dengan suara isak pelan yang tertahan.
“Akh!” teriak Nisa ketika dengan tiba-tiba Aldy menjambak rambutnya.
Pandangan mata mereka bertemu. Aldy mendapati mata Nisa yang telah basah dengan bibir pucat yang bergetar. Tangan lemah Nisa memegang lengan kokoh Aldy, tapi tak berarti apa-apa baginya yang tentu kalah kuat. Senyuman jahat pun terbit di bibir Aldy, kemudian dengan kasar langsung melumat bibir Nisa tanpa ampun. Aldy menggigit bibirnya yang dingin dan tak berdaya menolak. Nisa hanya menangis dalam diam, tubuhnya terasa remuk dan sangat lemah. Bahkan, Aldy bisa merasakan jika tubuh Nisa sedang damam. Namun, persetan dengan kondisi buruannya, karena baginya malam ini dia hanya ingin menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang tak perduli dengan kondisi Nisa, walau mati sekali pun.
Aldy terus melumat dan mengabsen isi mulut Nisa sambil sesekali menggigit bibir bawah Nisa yang terasa perih dengan tangan kanannya yang masih setia menjambak rambut Nisa. Air mata terus mengalir di antara ciuman kasar yang tak kunjung selesai. Ketika nafas Nisa hampir habis, Aldy hanya memberi ruang kecil agar Nisa dapat bernafas, mengabaikan air mata yang terasa membasahi pipinya juga.
Aldy melepas ciuman kasarnya dan menarik tubuh Nisa, kemudian mendorongnya ke atas ranjang. Nisa menatap Aldy yang sibuk melepaskan kemeja dan celananya hanya mampu menggeleng tanpa suara, suara Nisa habis karena terlalu banyak menangis. Tak butuh waktu lama, Aldy telah polos dan langsung naik ke tempat tidur, lalu menarik kaki Nisa hingga tubuh lemahnya berada di bawah kungkungannya. Aldy dengan mudah merobek pakaian yang menempel di tubuh Nisa, lalu melemparnya begitu saja. Kini, keduanya sama-sama tanpa busana.
“Jangan!” ucap Nisa tanpa suara, tapi masih dimengerti oleh Aldy.
Aldy hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum mengerikan dengan sorot mata yang siap membunuh Nisa. Kedua tangan Nisa berusaha mendorong tubuh besar yang ada di atasnya, tapi dengan mudah Aldy langsung meraihnya dan menggenggam erat, lalu meletakkannya di kedua sisi kepala. Dipandanginya wajah buruan lemah yang menatapnya pilu, wajah yang masih terlihat lebam yang belum sembuh di wajah piasnya serta bekas-bekas gigitan juga ciuman yang ditinggalkannya tempo hari. Seringaian jahat terukir memandang remeh Nisa yang memohon untuk kesekian kalinya dengan kepala yang terus menggeleng. Hingga gerakan tak terduga yang dilakukan Aldy membuat Nisa tersentak kaget. Aldy kembali menyatukan diri dengan Nisa.
Nisa yang kini berada di bawah kungkungan Aldy hanya bisa menangis tanpa suara. Matanya terpejam dengan erat mengalihkan semua rasa sakit yang dirasakan di sekujur tubuh lemahnya. Sesekali Nisa menggigit bibir bawahnya tanpa membuka mata karena tak sanggup melihat seorang pria predator mengerikan yang sedang menyakiti tubuhnya tanpa perasaan. Dengan mata yang terus terpejam, Nisa sangat jelas mendengar setiap desahan serta erangan kenikmatan yang dirasakan oleh Aldy akan dirinya, sangat jauh berbeda dengannya yang menahan rasa sakit di pusat intinya.
Tubuh kecilnya tersentak mengikuti gerakan pinggul Aldy yang bergerak semakin kasar dan brutal. Sesekali Nisa mencoba memberanikan diri untuk membuka mata dan mendapati tubuh besar berada di atasnya yang terus bergerak cepat dengan wajah mendongak ke atas menikmati setiap gerakan yang dia lakukan. Ketika Nisa membuka matanya, tanpa sengaja Aldy menatap Nisa yang terlihat meringis kesakitan, tapi dengan cepat Aldy langsung menyambar bibir Nisa, melumatnya kasar dan penuh nafsu.
Tangan Aldy memegang kepala Nisa agar tak dapat menghindari ciumannya sedang gerakan di bagian bawah tentu tetap berlanjut tanpa henti. Tangan lemah Nisa memukul-mukul punggung kekar Aldy, tapi diabaikan hingga dia melepaskan ciumannya, kemudian melayangkan tangan kanan ke pipi Nisa dengan keras hingga darah keluar di sudut bibirnya. Nisa pun meringis kesakitan dengan air mata yang kembali berderai serta bekas tamparan yang terlihat jelas di pipinya yang mulai tirus serta bibir yang bengkak karena ciuman kasar barusan. Aldy hanya tersenyum jahat dan tetap melanjutkan aksi bejatnya yang belum ada tanda-tanda akan berakhir.
“s**t! Lo benar-benar nikmat jalang sialan!” kata Aldy di sela-sela desahannya.
Aldy terus meracau nikmat dengan desahan serta erangan di sepanjang kegiatan haramnya. Keringat sudah membasahi tubuh keduanya dan rasa lelah sudah terlihat jelas di wajah pucat Nisa yang hanya pasrah menerimanya. Hatinya terus menjerit meminta pertolongan. Namun, akankah ada sesorang yang menolongnya dan membawanya pergi jauh dari orang jahat yang terus-terusan menyakitinya. Di saat pandangan Nisa mulai kabur, Aldy semakin dalam dan mempercepat gerakan pinggulnya hingga hentakan kuat dilakukannya bersamaan dengan benih milik Aldy yang membasahi rahim Nisa untuk kesekian kali.
Nisa memejamkan matanya ketika merasakan sesuatu membasahi pusat intinya dengan air mata yang masih menetes di ujung mata sembabnya. Tangannya mengepal menahan semua rasa sakit dan perlahan genggaman tangan Aldy di lengan Nisa terlepas bersamaan tubuhnya yang ambruk di atas tubuh kecil Nisa dengan nafas tersenggal.
Beberapa detik kemudian, Aldy mengangkat wajahnya dan menatap Nisa yang masih terpejam, kemudian berbaring di samping tubuh Nisa, dan tanpa diduga mendorong tubuhnya dengan kaki hingga jatuh ke lantai.
‘Brukk’
Tubuh Nisa terjatuh ke lantai yang dingin, tanpa sehelai benang pun. Layaknya sampah, Nisa dihinakan oleh Aldy seolah tak memiliki perasaan juga tak berharga. Nisa yang kaget dengan perlakuan Aldy semakin terisak dan hanya meringkuk menahan sakit bekas tendangannya. Aldy hanya melirik sekilas, kemudian terlentang mengatur nafasnya yang perlahan-lahan kembali teratur hingga kakinya turun ke lantai dan mengambil celana yang ada di sofa. Setelah memakainya, dia mengambil sesuatu yang ada di laci nakas. Sebuah cambuk kecil yang dipandangnya dengan sebuah seringaian. Perlahan langkah kakinya mendekati Nisa yang masih meringkuk di lantai sambil memegang perutnya.
‘Buk Buk Buk’
“Rasakan ini jalang sialan! Cuihhhh!” suara Aldy memaki, menendang, dan meludah.
Aldy menendang tubuh Nisa dengan keras seperti kaleng kosong, kemudian melayangkan cambukan ke arahnya. Diulanginya berkali-kali hingga terlihat bercak darah yang keluar akibat kerasnya cambukan yang dilayangkan Aldy. Namun, tak ada suara apa pun yang terdengar. Bukan tak merasakan sakit, tapi jerit Nisa tak terdengar dan hanya dia yang mendengarnya juga Tuhan. Tak ada orang yang mendengarnya, semua orang yang menyayangi Nisa tak ada yang bisa mendengar tangis pilunya. Semua tak ada, bahkan suaranya pun meninggalkan Nisa karena tak sanggup untuk bertahan bersamanya. Nisa sendirian dan mungkin inilah akhir hidupnya, mati di tangan orang yang tak dikenalnya.
Bersambung
15 April 2020/18.40