Setelah puas melampiaskan nafsu b***t serta menyiksa tanpa belas kasihan, Aldy tersenyum menatap tubuh Nisa yang tergeletak dengan luka cambukan yang memenuhi tubuhnya. Nampak bercak darah menetes di lantai dari tubuh telanjangnya yang meringkuk seperti janin dan tak bergerak, mangsanya pingsan dengan mengenaskan.
“Cih! Aku tak akan membiarkanmu mati dengan mudah sebelum ku temukan k*****t sialan itu karena aku akan membunuhmu di depannya!” ucap Aldy geram yang tengah duduk di sofa sambail menatap ke arah Nisa yang tergeletak tak jauh darinya dengan posisi kedua kaki dia luruskan ke atas meja sambil merokok layaknya seorang psikopat b******n.
Hingga beberapa menit kemudian, terdengar dering telephone yang memecah keheningan kamar tersebut dan dengan sigap Aldy meraih handphone yang tergeletak di atas meja dan menjawabnya.
“Hallo, Mike!”
“ .... ”
“ Gue lagi di rumah, kenapa telephone larut malam begini?”
“ .... ”
“O, gitu. Ya udah, besok lo pulang ke Jakarta dan ambil penerbangan siang.”
“ .... ”
“Hah? emang kedengeran ya nafas gue cengap-cengap?”
“ .... ”
“Haha ... biasalah, gue 'bis dikejar-kejar Mami gara-gara minta cucu terus tuh!”
“ .... ”
“Gampang, nanti gue kawin kalau udah sempet, hehehe ....”
“ .... ”
“Ok!”
Sambungan pun terputus dan meninggalkan jejak senyum geli di wajah Aldy yang membuatnya terlihat semakin tampan. Namun, ketika pandangannya kembali tertuju pada Nisa yang tak bergerak, seketika wajah tampan penuh senyum manisnya berubah begitu menyeramkan dengan aura yang siap membunuh seolah tak bisa diajak untuk berdamai sedikitpun. Aldy bangun dari duduknya dan menyambar kemeja putih yang tergeletak di lantai dekat nakas kemudian memakainya tanpa mengaitkan kancingnya.
Langkahnya perlahan menghampiri Nisa, lalu menendang pelan beberapa kali punggungnya seperti sebuah kayu, namun tubuh kecil itu tak bergerak, diam.
“Pingsan!” gumam Aldy pelan seraya berdiri dan pergi meninggalkan Nisa yang tak sadarkan diri.
Aldy melenggang tanpa beban dan masuk ke kamar utama untuk mandi kemudian tidur nyenyak bersama mimipi-mimpi indahnya. Malam ini, Aldy tak meninggalkan Nisa sendirian di rumah sepi tersebut, namun keberadaannya bukan membawa kebaikan baginya tapi sebaliknya dan semakin menyedihkan.
Di Osaka, Jepang
Seorang pria dengan tubuh kekar nan atletis, kulit putih bersih dengan rambut klimis terlihat keluar dari sebuah mobil berwarna putih memasuki sebuah Mansion yang ada di Ikeda-Shi. Pria itu berjalan santai menaiki setiap anak tangga hingga tanpa sadar telah sampai di sebuah pintu berwarna putih dengan nomor 203. Ditekannya bel agar penghuni di dalamnya segera membuka pintu dan tak lama kemudian pintu terbuka.
‘Ceklek’
Seorang wanita berambut panjang membuka pintu sambil tersenyum. Pria itu langsung masuk dan menutup pintu dan mengekori sang wanita ke dalam rumah.
“Gimana rencana kita pulang ke Indonesia, jadi?” tanya si wanita yang bernama Maudy.
“Hmm, aku sudah memesan tiketnya dan kita akan pulang besok siang,” jawabnya jelas membuat Maudy tersenyum.
“Akhirnya, kita bisa pulang juga. Kamu yakin semua sudah baik-baik saja?” tanyannya lagi ragu sambil menuangkan teh ke dalam cangkir. Pria itu mengangguk yakin dan langsung meraih cangkir teh dan meneguknya pelan.
“Aku yakin dan kau tak perlu khawatir, kejadian itu sudah lama terjadi dan ku dengar, keluarganya bahkan tak melaporkan kejadian tersebut ke kantor polisi, mungkin malu,” celotehnya.
“Kau benar, itu sudah lama terjadi dan tentu keluarganya malu jika mengakui putrinya menjadi korban kebejatanmu!” jelas Maudy dengan muka kesalnya karena mengingat betapa b******k pria yang dicintainya.
“Hey! jaga mulutmu jalang, walau b***t tapi kau begitu tergila-gila padaku, bukan?” geram si pria lalu beranjak dari duduknya dan mendekati Maudy kemudian menangkup rahangnya.
“Aww! sakit, Jef!” rintih Maudy menahan sakit di rahangnya.
“Katakan! kalau kau tergila-gila padaku, cepat!” bisik Jefry tepat di telinga Maudy.
“I-iya, aku memang tergila-gila padamu,” cicit Maudy menatap Jefry seraya meringis kesakitan.
Jefry tersenyum mendengar ucapannya. Sebenarnya, Maudy memang sangat mencintai Jefry bahkan cinta membuatnya telah buta. Perbuatan b***t Jefry serta kesalahan fatal yang menimbulkan korban jiwa di masa lalu tak melunturkan cinta Maudy kepadanya dan justru ikut menutupi dan lari bersamanya hingga ke Jepang. Maudy adalah salah satu dari wanita yang pernah tidur dengan Jefry, namun dialah yang paling bisa memuaskan Jefry dalam urusan ranjang. Hingga suatu hari, Maudy yang datang berkunjung ke apartement Jefry dengan niat ingin mendapatkan kepuasan bathinnya, sangat terkejut karena mendapati jika teman ranjangnya sedang memperkosa seorang gadis yang dikenalnya. Gadis tersebut terus saja melawan, Jefry pun lupa diri dan membenturkan kepala gadis itu ke tembok beberapa kali hingga gadis itu menghembuskan nafas terakhirnya karena kehabisan darah. Maudy yang menyaksikan itu berniat melaporkannya kepada pihak berwajib, namun karena mendapatkan ancaman serta cintanya yang terlalu besar kepada Jefry, akhirnya ikut andil dan bekerjasama menghilangkan jejak lalu membuang mayat gadis itu ke perkebunan tak jauh dari pusat kota.
Tiba-tiba terdengar helaan nafas berat Maudy yang mendadak terasa sesak mengingat kejadian tersebut. Di dalam hatinya yang paling dalam, ada rasa menyesal yang dia rasakan karena gadis yang menjadi korban pria itu adalah sahabatnya sendiri.
“Gisella Setiawan.”
Bersambung
15 April 2020/18.45