Keesokan harinya, Mike sudah disibukkan dengan kegiatan terakhirnya di Bali dan harus bergegas ke bandara sebelum jam 12 siang. Setelah menyelesaikan tugasnya dan berpamitan kepada para pekerja di resort, Mike langsung menuju ke bandara dengan diantarkan oleh Hendri. Tak butuh lama, akhirnya dia tiba dan berpamitan pada Hendri hingga sejam kemudian pesawat lepas landas menuju Jakarta.
Di dalam pesawat, Mike tersenyum ketika mengingat pertemuannya tempo hari dengan Viona. Pasalnya, dia tak pernah bertemu lagi setelah lulus sekolah dan juga tak menyangka jika kini Viona bekerja sebagai pelayan restoran, padahal Viona berasal dari keluarga mampu. Apa yang terjadi kepadanya, tapi rasa penasarannya langsung ditepis karena itu bukanlah urusannya. Sejujurnya, perasaan Mike untuknya sudah tak ada lagi ketika cintanya ditolak mentah-mentah dulu. Dia juga sadar diri, kenapa Viona menolaknya, Mike gendut dan wajahnya penuh jerawat. Tentu saja, Viona yang super cantik mana minat dengan kondisi Mike yang tidak masuk kriteria cowok Most Wanted. Namun, semua sudah berubah, Mike sudah menjelma menjadi pria tampan dengan tubuh atletis serta mapan, dan hanya wanita bodoh yang akan menolaknya, apalagi Mike termasuk golongan pria yang tidak menganut Freesex.
Ketika sedang asik dengan lamunannya, tiba-tiba ada seorang wanita muda menggendong seorang bayi kecil yang cantik dan tanpa sengaja menyenggol tangan Mike.
“Maaf, Mas!” ucap wanita muda tersebut sungkan.
“Tidak apa-apa, Mbak!” sahut Mike tersenyum.
Seketika pandangannya teralihkan kepada bayi cantik yang duduk manis dalam gendongan ibunya sedang asik menghisap dot berbentuk kumis di mulut kecilnya. Pipi tembem merona, mata bulat dengan manik berwarna hazel. Hidung kecil nan mancung dengan rambut yang dikuncir dua dengan jepit bunga berwarna pink rose menatap Mike dan sesekali berkedip.
‘Degg’
Jantung Mike berdegup dengan cepat. Mulutnya terbuka tak percaya melihat sosok bayi kecil yang mengingatkan dirinya kepada seseorang. Orang yang dia sayangi dan cintai dari dulu hingga saat ini.
“Icha!” gumam Mike pelan hampir tak terdengar. Tubuhnya kaku dan hanya memandang lurus dengan mata sendu dan perlahan berkabut.
Wanita muda tersebut memandang Mike dengan raut khawatir karena melihat mata Mike yang berair. Apakah pria itu sakit atau barusan dia menyakiti Mike, itulah yang ada di pikirannya.
“Mas, anda baik-baik saja?” ucap wanita muda tersebut seraya mengibaskan telapak tangannya beberapa kali di depan wajah Mike yang terlihat sedih menatap bayinya.
Usahanya berhasil dan Mike tersadar dari lamunan, tangan besarnya langsung mengusap pelan kedua sudut matanya karena berair, kemudian menghembuskan nafas berat.
“Maaf. Saya tidak apa-apa, Mbak!” jawab Mike akhirnya melegakan hati wanita yang masih setia berdiri di sampingnya.
“Saya hanya teringat adik perempuan saya, sekali lagi saya minta maaf!” kata Mike lagi karena merasa tidak enak telah menatap bayinya dengan tak wajar.
Wanita tersebut hanya mengulas senyum mendengar penjelasan Mike, kemudian berlalu dan duduk tak jauh dari Mike bersama suaminya yang ternyata memperhatikan interaksi mereka, dan Mike hanya menganggukkan kepalanya ketika bertemu pandang dengan suami wanita tersebut.
Mike mencoba mengalihkan pikiran dan memejamkan matanya berharap bisa tertidur walau sekejap, hingga beberapa saat kemudian Mike tiba ke alam mimpinya. Dan benar, mimpi pun menyambangi tidurnya.
Di dalam mimpi, Mike berada di sebuah rumah yang tak pernah dia kunjungi sebelumnya dan benar-benar terasa asing. Di depannya, terlihat kondisi rumah yang sangat sunyi seolah tak berpenghuni. Dengan segala rasa penasarannya, Mike melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu besar dan membukanya, berhasil. Perlahan matanya menyisir semua sudut yang ada di dalam rumah tersebut. Luas dan bersih dengan warna dinding didominasi cat putih serta sofa dan furniture tertata dengan rapi seperti tak pernah disentuh.
Langkahnya dengan santai memasuki rumah tersebut yang seolah tak berpenghuni hingga sampai ke sebuah dapur yang tak terlalu besar. Kening Mike berkerut melihat apa yang ada di dapur tersebut, ada bekas makanan dan tandanya rumah tersebut berpenghuni. Mike mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan hingga sebuah pintu dari sebuah kamar yang tertutup menarik perhatiannya. Mike berjalan menuju pintu tersebut dan berharap menemukan seseorang di sana. Tangan besarnya perlahan meraih gagang pintu tersebut dan ternyata tak dikunci. Mike dengan yakin membuka pintu tersebut hati-hati dan masuk ke dalam, hingga matanya seketika membulat melihat apa yang dilihatnya. Seorang gadis sedang meringkuk di pojok ruangan sambil menangis dengan tubuh penuh luka. Rasa penasaran semakin menggelayuti hati Mike yang kini melangkah pelan menghampiri gadis tersebut yang sepertinya tak mengetahui kedatangannya hingga dia sampai tepat di hadapan gadis tersebut yang masih setia menyembunyikan wajahnya.
“K-kau siapa? Apa yang terjadi padamu?” tanya Mike yang kini berjongkok di depan gadis itu dengan jarak tak kurang satu meter. Gadis itu masih terisak hingga perlahan mengangkat wajahnya dan mata mereka bertemu.
‘Degg’
Jantung Mike terasa ingin copot melihat siapa yang ada di hadapannya. Mike mengenal mata itu, mata yang sangat disukainya. Sepasang mata yang selalu diingatnya. Mata itu bersimbah air mata dengan lebam terukir jelas di wajah tirusnya. Bercak darah terlihat di ujung bibirnya yang bengkak. Mata itu menatap Mike dengan penuh kesedihan.
“Tolong Icha, Kak!”
Bersambung
15 April 2020/20.30