Pizza

948 Words
“Tolong Icha, Kak!” Suara gadis itu terdengar pelan dengan bibir yang bergetar. Matanya menatap sendu penuh kesedihan dan membuat tenggorokkan Mike tercekat tak mampu berkata-kata. Sangat pelan, Mike mengangkat tangan kanannya mencoba menyentuh kepala gadis itu, namun layaknya bayangan, Mike tak mampu menyentuhnya sedang gadis itu terus menatapnya dengan airmata yang tak kunjung berhenti. Mike tersentak kaget ketika mendengar pintu dibuka dengan kasar dan melihat seorang pria besar masuk lalu menghampiri gadis itu dan memukulnya bertubi-tubi. Layaknya sebuah film, Mike hanya mampu melihat tanpa bisa menolong. Mike terus berteriak-teriak seperti kesetanan mencoba memukul pria yang terus menyakiti gadis itu, namun apalah daya, semua seperti udara yang tak bisa disentuh dan Mike hanya mampu menyaksikan dengan hati yang terasa sakit. Tangan Mike mencoba menggapai gadis itu yang merintih kesakitan karena pukulan yang terus dialaminya, tapi tetap nihil. Mike hanya bisa berteriak sambil menyaksikan gadis malang itu disiksa di depan matanya tanpa ampun. “Icha ... Icha ...,” suara Mike terdengar pelan membuat penumpang di sebelahnya kebingungan. “Mas ... Mas, bangun!” kata seorang pria di sebelah Mike menatapnya panik karena terus bergumam dan terisak dalam tidurnya. Mike pun tersadar dengan nafas yang memburu serta mata yang berkabut. Mike mengusap wajahnya dan mendapati airmata yang menetes di sudut mata tajamnya. Pria yang membangunkan Mike, menyodorkan sebotol air mineral dan langsung diminumnya hingga tandas. “Terima kasih, Pak!” ucap Mike setelah selesai meneguk air dalam botol. “Sama-sama. Kelihatannya, Mas keletihan sampai mimpi buruk seperti tadi!” kata pria paruh baya tersebut. “Sepertinya, Pak. Sekali lagi, terima kasih banyak,” ucap Mike tulus dan dibalas anggukan. Perlahan nafas Mike berangsur-angsur normal. Disandarkan punggungnya ke kursi namun matanya tetap terbuka. FPikirannya terus berputar-putar dengan arti mimpi yang baru saja dialaminya. Icha. Mike melihat seorang Icha dalam mimpinya, namun bukan seorang bayi tapi seorang gadis yang cantik yang memiliki mata persis seperti adik kecilnya yang telah hilang. Apa yang terjadi dengan gadis itu? Siapa pria yang menyiksanya? Mike tak bisa melihat dengan jelas wajah pria tersebut. Kenapa mimpi itu terasa nyata? Mike menyentuh dadanya yang masih berdetak kencang, hatinya terasa sakit mengingat wajah gadis yang memanggilnya kakak menangis dan meminta pertolongan. Mike memejamkan matanya, dan entah kenapa setetes airmata kembali jatuh di pipinya. Hingga tak lama kemudian, pesawat sampai di tujuan, Jakarta.   **** Waktu sudah menunjukkan jam 2 siang, Aldy terlihat masih berada di rumah yang sama dengan Nisa, bahkan dia terlihat sedang duduk santai sambil menonton tv dengan dua kotak pizza dan banyak minuman. Tangan kanannya sesekali memasukan potongan pizza ke dalam mulutnya diselingi lasagna kesukaannya. Di dalam kamar, kondisi Nisa masih tetap sama dan justru memprihatinkan, tubuh Nisa demam karena luka-luka yang memenuhi sekujur tubuhnya dan tak diobati. Selepas Nisa sadarkan diri, Aldy memberikannya sepotong pakaian tipis berbahan satin tanpa pakaian dalam berwarna maroon dan sangat pendek tentunya, layaknya seorang jalang. Nisa memaksa tubuh ringkihnya berjalan tertatih memasuki kamar mandi. Sesampainya di dalam, Nisa berjongkok memegang perutnya yang sakit, bukan sakit karena luka saja tapi perutnya terasa sangat lapar. Perlahan tangan kurusnya menggapai kran air dan menyalakannya dengan kucuran air kecil. Telapak tangan kanannya menampung air dan perlahan menyodorkan ke mulutnya yang terbuka, kehausan. Setelah dirasa cukup untuk mengganjal perutnya, Nisa mengambil gayung yang tak jauh dari posisinya kemudian membasuh pelan tubuhnya. Ketika air menyentuh kulitnya, Nisa meringis menahan rasa perih di sekujur tubuhnya. Airmatanya kembali menetes merasakan betapa sakit tubuhnya kini akibat ulah pria jahat itu. Tak berapa lama, Nisa menyudahi mandinya dan bergegas mengeringkan tubuhnya dengan handuk kecil yang menggantung di dekat pintu. Digosoknya handuk ke tubuhnya perlahan-lahan sambil terus meringis. Nisa memandang bayangan tubuhnya dari kaca besar yang ada di kamar mandi tersebut, tubuhnya benar-benar dipenuhi banyak luka serta bekas ciuman serta gigitan yang Aldy lakukan. Nisa memandang jijik tubuhnya sendiri dan menggosoknya kasar hingga luka yang masih basah mengeluarkan darah. Tubuh Nisa luluh ke lantai dan tergugu dengan tangisan pilu. Meratapi nasibnya terkurung di rumah yang tak tersentuh siapapun bersama pria jahat. Beberapa saat kemudian, tangisannya berhenti dan dipandanginya pakaian minim yang diberikan oleh Aldy dengan wajah sendu, namun apalah daya, Nisa harus tetap memakainya daripada tanpa busana sepanjang waktu. Tangannya perlahan menyentuh gagang pintu dan membukanya hati-hati, tak ada orang dan langsung melangkah terseok-seok. Nisa duduk di tepi ranjang yang berantakan, terdapat beberapa titik bercak darah pada sprei yang berasal dari luka di tubuhnya. Nisa menatapnya dengan sendu kemudian memandang sekeliling dan menatap pintu kamar yang setia tertutup rapat tak ada tanda-tanda akan dibuka. Nisa dapat mendengar dengan jelas ada suara berisik dari luar, tepatnya bunyi tv. Nisa tahu, ada Aldy di luar sana yang sibuk dengan kegiatannya tanpa memikirkan dirinya sedikitpun. Nisa beranjak dan memilih mendudukan tubuhnya di lantai, tepat di bawah jendela sambil memandang keluar. Di luar, langit tampak sedikit mendung, semendung hatinya dengan angin yang bertiup seolah memanggil hujan agar segera turun. Sebenarnya, jendela bertralis itu bisa dibuka, namun Nisa takut untuk membukanya terlebih ada Aldy di rumah itu yang bisa kapan saja menyiksanya jika mengetahui apa yang dia lakukan tanpa izin. Tiba-tiba. ‘Ceklek’ Bunyi pintu terbuka. Nisa langsung menatap nanar pintu yang perlahan terbuka lebar menampilkan sosok tubuh besar berdiri menjulang menatap ke arahnya. Nisa langsung beringsut dengan menekuk tubuhnya erat. Nisa tertunduk tak berani menatap Aldy yang kini melangkah menghampirinya, hingga sepasang kaki tanpa alas berada tepat di depan matanya yang tertunduk. Cukup lama Aldy berdiri menatap Nisa yang memeluk tubuhnya ketakutan. Matanya menangkap tubuh Nisa yang terlihat lebih bersih dengan pakaian yang dia berikan walau terlihat sangat jelas bekas pukulan dan cambukan menghias tubuh kecilnya dan tak diobati. Aldy hanya tersenyum licik, kemudian melempar sepotong pizza dan jatuh di dekat kakinya. “Itu jatah makanmu hari ini!”  Bersambung 15 April 2020/20.45
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD